dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, Hulu Hilir Harus Ditata Kontinyu
Tanggal Posting : Kamis, 5 April 2018 | 07:55
Liputan : Redaksi - Dibaca : 560 Kali
dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, Hulu Hilir Harus Ditata Kontinyu
dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal bersama Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf

HerbaIndonesia.Com Untuk mendukung agar herbal Indonesia makin medapat tempat dihati masyarakat dan kalangan medis, maka berbagai riset dilakukan oleh banyak pihak. Profesi kesehatan: para dokter, apoteker berlomba-lomba melakukan penelitian herbal Indonesia.

Bahkan para dokter yang memiliki minat mengembangkan herbal Indonesia membikin wadah yaitu Asosiasi Dokter Saintifikasi Jamu Indonesia (ADSJI). Merekalah para dokter yang memiliki minat untuk melakukan riset herbal, memberikan edukasi ke berbagai pihak, agar herbal Indonesia menjadi bagian penting dalam menyehatkan bangsa.

Adalah dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, Ketua II ADSJI- salah satu dokter yang menekuni riset herbal, memberikan edukasi keberbagai pihak, menjadi narasumeber diberbagai seminar, workshop, FDG, agar herbal Indonesia semakin menjadi pilihan dalam menyehatkan masyarakat.

dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2002- lulus dengan penghargaan, kemudian melanjutkan program S-2 Herbal di Universitas Indonesia, lulus tahun 2012 mendapat predikat sebagai Lulusan Terbaik. Kini dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, sedang menemuh program S-3 Filsafat (Jamu/Ilmu Kesehatan Tradisional) di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Ibu dari 3 anak ini, berprofesi sebagai dokter, dosen, peneliti dan konsultan herbal. Komitmen dan keseriusan dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal, baik dijalur pendidikannya yang diambil, dan pengabdiannya, patut menjadi teladan profesi kesehatan lainnya, dalam ikut serta memajukan herbal Indonesia, menjadi bagian penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Berikut ini wawancara khusus dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal dengan Redaksi HerbaIndonesia.Com:

Redaksi HerbaIndonesia (RHI): Hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mendukung pemanfaatan biodiversitas di Indonesia untuk kesehatan di Indonesia?

Dokter Inggrid Tania (DIT): Yang paling hulu hingga yang paling hilir perlu ditata secara kontinyu dan berkesinambungan.

Pemanfaatan biodiversitas mengacu kepada kearifan lokal dan pengetahuan tradisional dari tiap-tiap komunitas di Indonesia. Untuk itu, perlu dokumentasi yang baik daripada pengetahuan tradisional tersebut.

Species tumbuhan dan tanaman obat perlu dilestarikan dan dibudidayakan dengan baik dengan standar-standar tertentu (good agricultural practice), pemanenan dan pasca-panen yang baik, hingga pemasaran dan distribusi sampai konsumsi.

Penelitian-penelitian mulai dari penelitian di bidang pertanian, farmasi, uji praklinis hingga klinis perlu terus diperbanyak, dalam rangka standarisasi dan pemastian serta pembuktian keamanan, mutu dan manfaat.

Perlu diciptakan ’iklim’ yang baik agar pemanfaatan biodiversitas utk kesehatan ini bisa optimal. Misalnya dengan regulasi-regulasi yang pro-petani, pro usaha kecil dan industri kecil, serta pembinaan kepada mereka.

Edukasi-edukasi kepada masyarakat juga perlu digiatkan serta kepada tenaga kesehatan, misalnya kepada farmasis dan dokter, agar tercipta kebanggaan akan kekayaan biodiversitas dan potensi yang kita punya, kesadaran dan semangat untuk mandiri dalam membangun kesehatan, termasuk dalam hal kemandirian obat. Dan tak lupa pendidikan dan pembinaan kepada para penyehat/ pengobat tradisional.

RIH: Apa harapan dokter dengan adanya media online dan mobile apps. untuk sarana meningkatkan citra produk herbal Indonesia?

DIT: Media online dan mobile apps tentunya menjadi media yang sangat berperan dalam memberikan atau menyampaikan informasi terkait jamu/herbal Indonesia ke segenap khalayak pembaca, dengan daya jangkau yg lebih luas dan lebih ’friendly’. Edukasi-edukasi bisa disampaikan secara lebih menyenangkan.

Citra positif jamu/ herbal Indonesia perlu terus dibangun denga menyebarkan berita-berita positif tentang jamu/herbal Indonesia dengan semangat optimisme, sebagai ajang promosi, namun tetap ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

RIH: Jelaskan potensi herbal Indonesia di pasar global?

DIT: Indonesia menempati peringkat ke-3 megabiodiversivitas di dunia (sebelumnya urutan ke-2), tentunya kekayaan herbalnya sangat berpotensi menguasai pasar global. Apalagi jika ditambahkan dengan potensi biodiversivitas bahan alam maritim.

Dalam hal tanaman obat, Indonesia jelas punya banyak tanaman obat yg unggul, misalnya temulawak, jahe merah, kunyit, sambiloto, cabe jawa, mengkudu, jambu biji, dll. Yang paling khas asli Indonesia adalah java turmeric atau yg kita kenal sebagai temulawak (Curcuma xanthorrhizae). Korea punya ginseng, kita punya temulawak.

Untuk daerah lain seperti Kalimantan, misalnya kita punya pasak bumi (Eurycoma longifolia), sayangnya kita kalah cepat dengan Malaysia yg lebih dulu mengembangkannya sehingga bisa mendunia dgn nama "tongkat ali".

Indonesia timur seperti Papua juga memiliki kekayaan herbal yg luar biasa yang belum optimal dikembangkan, misalnya buah merah yang berpotensi mendunia dengan khasiat anti oksidan kuat.

RIH: Apa saja yang perlu ditingkatkan agar herbal Indonesia dapat semakin menjadi pilihan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia?

DIT: Pada intinya, jamu/ Herbal Indonesia perlu terus dipastikan keamanan, mutu/ kualitas dan manfaatnya agar dapat menjadi pilihan dalam pembangunan kesehatan Indonesia, sehingga bisa digunakan pada fasilitas pelayanan kesehatan formal.

Dalam rangka visi Indonesia Sehat, di mana kita perlu mengupayakan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit (promotif dan preventif), maka tentunya jamu/ herbal Indonesia punya potensi besar dalam rangka pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, disamping juga punya potensi pengobatan beberapa penyakit (kuratif dan rehabilitatif).

RIH: Dukungan apa yang diperlukan dari pemerintah agar Herbal Indonesia dapat berkembang di dalam negeri dan dapat masuk ke pasar global?

DIT: Pemerintah perlu menginisiasi dan memimpin serta mengkoordinasikan proyek besar lintas sektoral ini.

Mungkin langkah Cina bisa ditiru di mana Presidennya yang turun tangan langsung, atau bisa juga belajar dari India yang membentuk kementerian khusus.
Pemerintah perlu memastikan ada keterpaduan gerak langkah dari semua stake holders, yakni

ABGC (Akademisi/ Peneliti, Petani/ Industri, Kementan/ Kemendag/ Kemenkes/ BPOM, dan komunitas/ masyarakat), agar semuanya bersinergi dan tak ada missing link.
RIH: Terima kasih dr. Inggrid Tania, MSi.Herbal. Sukses selalu untuk dokter. (Redaksi HerbaIndonesia)


Kolom Komentar
Berita Terkait