Wawancara Jaya Suprana, Cara Mencintai Jamu Era Digital
Tanggal Posting : Selasa, 3 Juli 2018 | 06:20
Liputan : Redaksi - Dibaca : 269 Kali
Wawancara Jaya Suprana, Cara Mencintai Jamu Era Digital
Jaya Suprana bersama Kepala Badan POM, Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito,MCP, saat FGD Obat Tradisional di Jakarta, 30 April 2018

HerbaIndonesia.Com Bagaimana mencintai budaya bangsa era digital ini? Termasuk tentunya, bagaimana mencintai dan bangga bahwa Jamu adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Mulailah dari dirimu sendiri, demikian Budayawan dan Tokoh Jamu Nasional, Jaya Suprana berpendapat.

"Kita harus mulai dari diri kita masing-masing untuk lebih bangga terhadap kebudayaan bangsa kita sendiri ketimbang kebudayaan bangsa asing. Kita harus menghormati dan menghargai kebudayaan bangsa kita sendiri," ungkap Jaya Suprana dalam wawancara tertulis dengan Redaksi HerbaIndonesia.Com, Senin, 2 Juli 2018, menjawab pertanyaan, bagaimana kita menyikapi potensi Jamu sebagai Indonesia Heritage era digital ini.

Jaya Suprana menegaskan bahwa dengan semangat kebanggaan nasional, maka lanjutnya, kita bersama akan bukan memusnahkan kebudayaan bangsa kita sendiri namun melestarikan bahkan mengembangkan kebudayaan bangsa kita sendiri.

Justru di masa globalisasi, serta merta nasionalisme menjadi makin lebih penting sebagai benteng pertahanan dan ketahanan kedaulatan kebudayaan Indonesia, tegasnya.

"Semangat Kebanggaan yang lebih membanggakan kebudayaan asing ketimbang kebudayaan bangsa sendiri merupakan senjata paling ampuh untuk menghancurkan negara, bangsa dan rakyat indonesia ! MERDEKA!", ungkapnya penuh gelora.

Berikut ini pandangan Jaya Suprana terhadap kondisi Jamu di Indonesia saat ini, dalam sebuah artikel yang ditulisnya dengan judul: Mimpi Jamu Tuan Rumah di Negeri Sendiri, dan dimuat di media online: http://www.rmol.co/read/2018/07/02/345976/Mimpi-Jamu-Tuan-Rumah-di-Negeri-Sendiri-, pada Senin, 02 Juli 2018 , Pukul 09:20:00 WIB. Berikut artikel Jaya Suprana tersebut:

SETELAH sekitar sepuluh tahun berkelana di Jerman untuk mempelajari seni-musik, seni-rupa, manajeman, pengobatan alami sambil mencari nafkah sebagai kartunis pada beberapa surat kabar Jerman dan kemudian mengajar pianoforte di beberapa lembaga perguruan tinggi Jerman, saya kembali ke bumi kelahiran saya tercinta, Indonesia.

Prihatin
Saya prihatin atas nasib jamu di negeri sendiri. Jamu sebagai mahakarya kebudayaan kesehatan Nusantara ternyata sama sekali tidak memperoleh tempat pada gua garba pelayanan kesehatan nasional Indonesia.

Segenap sudut pelayanan kesehatan nasional Indonesia dimonopoli kebudayaan pelayanan kesehatan Barat mulai dari perawat, paramedis, dokter, apotek, apotek sampai rumah sakit. Maka saya mulai berupaya agar jamu diposisikan berdiri-sama-tinggi-duduk-sama-rendah dengan obat tradisional Barat yang disebut obat farmasi.

Saya juga berupaya agar para pengobat tradisional asli Indonesia jangan dilecehkan namun disetarakan dengan para pengobat tradisional Barat yang disebut sebagai dokter. Saya iri terhadap nasib mujur obat dan pengobat tradisional India dan China yang oleh masyarakat bersama pemerintah masing-masing ditempatkan secara terhormat di dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

Orba
Saat itu kebetulan masih masa Orde Baru maka pihak pemerintah menuduh saya adalah seorang ekstremis yang memprovokasi pemberontakan terhadap kebijakan pelayanan kesehatan pemerintah Orba yang alergi kritik.

Saya bungkam akibat diancam apabila berisik maka izin produk jamu akan makin dipersulit oleh pemerintah. Setelah Orde Reformasi menggantikan Orde Baru, saya kembali memperjuangkan jamu melalui jalur kebudayaan dengan berupaya mencalonkan jamu kepada UNESCO untuk diakui sebagai warisan kebudayaan dunia mahakarya bangsa Indonesia.

Ketika melapor ke Menteri Kesehatan yang didampingi tim para ahli terdiri dari para dokter dan apoteker terkemuka. Saya terkejut akibat ada (tidak semua) dokter yang hadir menguatirkan bahwa dengan mengajukan jamu sebagai warisan kebudayaan dunia ke UNESCO berarti saya akan mempermalukan bangsa Indonesia di forum masyarakat kesehatan dunia.

Malu
Akibat dikuatirkan mempermalukan bangsa, saya patah semangat sehingga mengalihkan enerji lahir batin ke kegiatan lain mulai dari pendidikan seni-musik, pembinaan wayang orang sampai mempelajari kemanusiaan dengan berpihak kepada rakyat tergusur yang digusur oleh mereka yang tidak malu melakukan penggusuran.

Namun pada bulan Ramadhan tahun 2018, sahabat saya Gaura Mancacarita yang berjasa memperjuangkan Tari Saman masuk daftar warisan kebudayaan dunia versi UNESCO menelpon saya untuk menanyakan kelanjutan perjuangan mencalonkan jamu masuk UNESCO.

Pada saat itu pula rasa malu menyengat lubuk sanubari saya karena Mas Gaura sebagai warga Indonesia keturunan Australia ternyata lebih peduli terhadap jamu sebagai mahakarya kebudayaan Indonesia. Sementara ada (tidak semua) sesama warga Indonesia tidak tahu malu menggangap jamu mempermalukan bangsa Indonesia di forum internasional.

Terdorong rasa malu terhadap Mas Gaura, segera saya mengajak Ketua Umum Gabungan Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman SE, MH dan Wakil Ketua GPJamu Ir. Thomas Hartono menghadap Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Dr. Nadjamuddin Ramly M.Si beserta para staf beliau di markas besar Kemendikbud untuk memohon perkenan agar jamu diakui sebagai warisan kebudayaan Indonesia agar dapat dinominasikan sebagai warisan kebudayaan dunia di UNESCO sama halnya dengan angklung, keris, batik dan lain-lain mahakarya kebudayaan Nusantara.

Tuan Rumah DI Negeri Sendiri

Melalui naskah sederhana yang dimuat RMOL ini, dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri memohon doa restu serta dukungan segenap warga bangsa Indonesia agar pemerintah Republik Indonesia berkenan menyetarakan jamu sebagai obat tradisional Indonesia warisan kebudayaan Nusantara dengan obat tradisional Barat warisan kebudayaan kaum penjajah yang pernah ratusan tahun menjajah Nusantara sampai dengan saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Republik Indonesia.

Sudah selayaknya bahkan sewajibnya bahwa jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. MERDEKA ! *Penulis adalah pembelajar warisan kebudayaan Indonesia sebagai bagian hakiki warisan kebudayaan Dunia.

Mimpi Jaya Suprana adalah mimpi semua pejuang Jamu Indonesia. Era digital, saatnya yang tepat kembali ke alam, back to nature untuk menjaga kesehatan kita. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait