Strategi Percepatan Fitofarmaka dari Hasil Saintifikasi Jamu dan Ristoja
Tanggal Posting : Minggu, 1 Sepember 2019 | 22:24
Liputan : Redaksi - Dibaca : 14 Kali
Strategi Percepatan Fitofarmaka dari Hasil Saintifikasi Jamu dan Ristoja
Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. saat mempresentasikan Strategi Percepatan Produk Fitofarmaka dari Hasil Saintifikasi Jamu dan Ristoja.

HerbaIndonesia.Com. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. menjelaskan Strategi Percepatan Produk Fitofarmaka dari Hasil Saintifikasi Jamu dan Ristoja pada saat acara Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka, yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah pada 29-30 Agustus 2019.

Dikemukakan bahwa saat ini sudah ada 11 Ramuan Jamu Saintifik hasil riset B2P2TOOT, yaitu: Ramuan asam urat, Ramuan tekanan darah tinggi, Ramuan wasir, Ramuan radang sendi, Ramuan kolesterol tinggi, Ramuan gangguan fungsi hati, Ramuan gangguan lambung/maag, Ramuan batu saluran kencing, Ramuan diabetes melitus, Ramuan obesitas dan Ramuan kebugaran.

Akhmad Saikhu mengawali presentasinya dengan menjelaskan bahwa suatu inovasi hanya dapat dapat bermakna, apabila dapat dikomersialkan. Kalau tidak dikomersialkan atau dipasarkan, inovasi tersebut hanya berakhir memenuhi almari-almari buku saja, katanya mengutip pernyataan Wakil Presiden RI., Jusuf Kalla, pada suatu acara di Bali.

Mandatori riset Balitbangkes dan B2P2TOOT, lanjut Akhmad Saikhu, terdiri dari dua diantaranya adalah Riset Operasional yang meliputi: Riset Kesehatan Nasional, Riset Khusus, Riset Tematik. Riset untuk Produk, antara lain: Riset Pengembangan Vaksin, Obat, Diagnostic Kit dan Saintifikasi Jamu.

Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan yang fungsinya untuk Pelaksanaan penelitian dan kajian di bidang Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

Penjelasan tentang Keputusan KBPOM No. HK.00.05.4.2411 Tahun 2004, Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia: Jamu, OHT (Obat Herbal Terstandar) dan Fitofarmaka.

Dipaparkan juga tentang Perjalanan Obat Tradisional (from seed to patient), Standarisasi bahan baku, yang meliputi: Kualitas Reproduksi dan Persyaratan Mutu. Uji Praklinik yang terbagi dua, yaitu: Uji Farmakodinamik dan Uji Toksisitas.

Uji Klinik terdiri 4 Fase, yaitu:

  • Fase I, Pengujian pertama kali pada manusia (sukarelawan sehat), keamanan. Tanpa pembanding.
  • Fase II, Uji klinik yang dilakukan pada pasien dengan jumlah terbatas. Tujuan: melihat efikasi. Pembanding: plasebo atau obat standar.
  • Fase III, Pengujian pada pasien dengan jumlah subjek lebih banyak. Tujuan: efikasi, toleransi dan efek samping yang tidak muncul pada Fase II.
  • Fase IV, Post marketing drugs surveillance. Evaluasi produk obat yang telah dipakai oleh masyarakat.

Selanjutnya dipaparkan tentang Connecting research into market, Pengembangan Jamu Saintifik menjadi Fitofarmaka, Alur pengembangan Fitofarmaka berbasis Ristoja, Roadmap pengembangan Jamu Saintifik menjadi Fitofarmaka, Mengembangkan Hasil Ristoja untuk Percepatan Fitofarmaka dan Kolaborasi Pentahelix ABGCM.

Akhmad Saikhu menyebutkan sejumlah faktor kunci sukses percepatan Fitofarmaka dari hasil Saintifikasi Jamu dan Ristoja, yaitu: Penelitian terintegrasi aspek Farmaseutika, Farmakologi, Analisis pasar, Regulasi, Proses produksi dan lain lain, Monitoring dan Evaluasi yang baik, Kualitas kegiatan penelitian dan asesmen lainnya, Pembagian bidang yang sesuai, Komitmen semua pihak terkait Jejaring, Kolaborasi dan konsorsium, Quality oriented results, Pembiayaan riset, Benefit sharing. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait