Strategi Pengelolaan Tanaman Obat Untuk Bahan Baku Jamu
Tanggal Posting : Rabu, 3 Juli 2019 | 23:20
Liputan : Redaksi - Dibaca : 19 Kali
Strategi Pengelolaan Tanaman Obat Untuk Bahan Baku Jamu
Foto bersama Para Pembicara dan Peserta Sosialisasi Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu dan betmanfaat untuk Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga.

HerbaIndonesia.Com. Kementerian Kesehatan RI. melakukan Sosialisasi Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu dan Bermanfaat untuk Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga di Pondok Pesantren Salafiyah Al Qodir, Yogyakarta pada Sabtu, 29 Juni 2019.

Diikuti 200 peserta dari penjual Jamu Gendong, Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat. Pembicara yang tampil: Dr. Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt, MARS, Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI., Akhmad Saikhu, SKM, M.Sc.PH., Kepala B2P2TOOT (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan  Tanaman Obat dan Obat Tradisional), Suwarsi Moertedjo, Ketua Koperasi Jamu Indonesia.

Kegiatan ini juga didukung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sambutan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dr. Pambayun diwakilkan kepada Kabid SDK Dinkes DIY.

Pada kesempatan tersebut Agusdini Banun Saptaningsih memaparkan tentang "Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu dan betmanfaat untuk Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga." Sedangkan Akhmad Saikhu mempresentasikan tentang "Pengelolaan Tanaman Obat Untuk Bahan Baku Jamu".

Suwarsi Moertedjo menyampaikan kepada peserta jika memungkinkan untuk dibentuk kelompok, misalnya Koperasi sehingga dapat akses ke pemerintah, mendapatkan bimbingan dan bantuan.

Akhmad Saikhu mengawali presentasinya dengan menjelaskan tentang Jamu. Jika merujuk Permenkes 003/2010: jamu adalah obat tradisional Indonesia (OTI). OTI adalah bahan atau ramuan bahan yang digunakan untuk pengobatan dan atau pemeliharaan kesehatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan 36 Tahun 2009). Bahan berupa tumbuhan, bagian dari tumbuhan, mineral dan produk hewani (tidak boleh ada bahan kimia).

Gerakan Nasional Minum Jamu. Sejarah penggunaan TO: Tidak ada bukti berupa data ilmiah yang menunjukkan kapan pertama kali tanaman dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat, Penemuan tanaman sebagai obat, barangkali secara tidak sengaja ketika mereka mencari sumber makanan baru.Relief tentang menyiapkan dan minum jamu. Relief tentang pengobatan tradisional.

Dasar penggunaan TO: Penggunaan berdasarkan pada pengenalan terhadap "pembeda/tanda" yang kasat mata yang berhubungan dengan anatomi tubuh manusia (Doctrine of signature): Sari merah dari "Bit" digunakan untuk mengatasi gangguan peredaran darah, Penampilan seperti bentuk hati dari "lumut hati" digunakan untuk mengatasi gangguan liver. Mimpi atau intuisi, Belajar dari kebiasaan hewan dalam melakukan pengobatan.

Situasi di Indonesia: Ekosistem paling kaya akan keanekaragaman hayati, Habitat dari 10% tumbuhan berbunga di seluruh dunia (30.000 sp dari 300.000 sp tumbuhan dunia), Pabrik senyawa kimia terbesar di dunia, 9.000 - 15.000 spesies tumbuhan obat, 7.000 sp (90% TO Asia) telah tercatat digunakan untuk pengobatan/kesehatan, 283 sp digunakan IOT/IKOT (3 - 4 % dibudidayakan)

Habitus tanaman obat:

  • Pohon: berkayu, tinggi mencapai 5 m atau lebih
  • Perdu: berkayu, tinggi antara 2-5 m
  • Semak: berkayu, bercabang banyak, menahun, tinggi 1-2 m
  • Liana: menjalar, merambat, atau memanjat.
  • Herba/terna: batang lunak, menahun atau semusim.

Distribusi penggunaan TO di Indonesia. Bagian Tanaman Obat: Akar, Rimpang, Umbi, Kayu, Batang, Kulit batang, Daun, Bunga. Pentingnya Kualitas Bahan. Pengelolaan Bahan Baku Jamu: On Farm: Penyediaan benih/bibit unggul, Pemilihan lokasi budidaya, Kultur Teknik, Teknik dan waktu panen . Out Farm: Pengelolaan pasca panen, Kontrol kualitas, Penyimpanan, Distribusi.

Kompleksitas Masalah Bahan Baku Jamu:

  • 85% masih berasal dari tanaman liar
  • Petani masih enggan budidaya
  • Teknologi di hulu dan tengah belum banyak dikuasai
  • Pasar belum terbuka dan harga sangat fluktuatif
  • Pengawasan lemah
  • Petani lebih menyukai budidaya tanaman obat yang mudah dan cepat menghasilkan
  • Budidaya tidak mengacu pada SOP (penggunaan pestisida tidak terkontrol)
  • Proses pasca panen di tingkat petani tidak mengikuti SOP
  • Harga tidak terkendali (sering ditentukan sepihak). Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait