Sosialisasi Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital
Tanggal Posting : Senin, 1 Juli 2019 | 02:01
Liputan : Redaksi - Dibaca : 61 Kali
Sosialisasi Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital
Suasana Sosialisasi Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital di Surabaya, 24 Juni 2019. Foto: www.pom.go.id

HerbaIndonesia.Com. Badan POM mengadakan Sosialisasi Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital (2D Barcode) ke berbagai daerah. Sosialisasi di Kota Surabaya, Jawa Timur dilaksanakan pada 24 Juni 2019.

Sistem 2D Barcode adalah sistem pengawasan semesta menggunakan teknologi informasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Serangkaian sosialisasi ke berbagai daerah dilakukan sebagai langkah percepatan implementasi Peraturan Badan No. 33 Tahun 2018 tentang Penerapan 2D Barcode dalam Pengawasan Obat dan Makanan.

Sosialisasi kali ini dimulai di Kota Surabaya, pada hari Senin, 24 Juni 2019. Sosialisasi 2D Barcode dihadiri 140 peserta yang terdiri dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Penanaman Modal, komunitas masyarakat, asosiasi, Pedagang Besar Farmasi, Rumah Sakit, Puskesmas, Apotek serta Balai Besar POM di Surabaya.

Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar POM di Surabaya, Drs. I. Made Bagus Gerametta, Apt menyampaikan bahwa penerapan 2D Barcode merupakan buah sinergi pemerintah, pelaku usaha serta masyarakat untuk mencegah masuknya produk ilegal dan palsu ke dalam jalur distribusi legal dan memperkuat perlindungan masyarakat.

Disampaikan pula bahwa untuk mengatasi tantangan pengawasan di era digital saat ini, maka BPOM memanfaatkan intervensi teknologi informasi berupa pembangunan Sistem Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital berupa pencantuman 2D Barcode pada kemasan.

Sosialisasi diisi dengan penyampaian materi Regulasi dan Implementasi 2D Barcode oleh Kepala Bidang Sistem Informasi, Arief Dwi Putranto, S.Si, Apt, MT didampingi Kepala Seksi Inspeksi Sarana Distribusi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Bahan Obat Regional II, Suci Yunita Sari, S.Farm, Apt.

Dalam paparannya disampaikan bahwa penerapan 2D Barcode di Indonesia melalui dua metode yaitu Identifikasi dan Otentifikasi dengan implementasi secara bertahap. Penerapan otentifikasi sangat membutuhkan dukungan, komitmen, dan kerjasama jalur distribusi dalam pelaporan peredaran obat untuk melacak dan menelusuri perjalanan produk hingga ke tangan konsumen.

Antusiasme peserta bertambah ketika mempraktekkan penggunaan BPOM Mobile sebagai salah satu alat implementasi di jalur distribusi ataupun masyarakat. Peserta melakukan pemindaian terhadap produk yang telah mengimplementasikan 2D barcode secara bergantian. Disampaikan pula dalam sosialisasi, bahwa dengan BPOM Mobile masyarakat juga dapat melakukan pengaduan serta mendapatkan informasi terkini terkait pengawasan obat dan makanan.

Di tempat yang sama, Balai Besar POM di Surabaya sedang mengadakan agenda yang dihadiri oleh 38 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota/Kotamadya Provisi Jawa Timur. Pada kesempatan ini pula Pusdatin bersama dengan Kedeputian 1 melakukan sosialisasi implementasi 2D Barcode serta aplikasi lainnya yaitu SMART BPOM.

Dinas Kesehatan merupakan jejaring Badan POM yang memiliki peran utama dalam implementasi Instruksi Presiden No. 3 tahun 2017 tentang Peningkatan Efektivitas Pengawasan Obat dan Makanan.

SMART BPOM sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan dengan mempercepat penyampaian rekomendasi hasil pengawasan BPOM terkait obat dan makanan yang perlu ditindaklanjuti oleh Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. (Berita dikutip dari: https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/16312/PERKUATAN-PENGAWASAN-OBAT-DAN-MAKANAN-MELALUI-SOSIALISASI-2D-BARCODE-DAN-SMART-BPOM.html). Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait