Sisi Humanis, Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu
Tanggal Posting : Kamis, 21 Maret 2019 | 00:49
Liputan : Redaksi - Dibaca : 86 Kali
Sisi Humanis, Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu
Menko PMK, Puan Maharani, Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito dan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, di Cafe Jamu Sukoharjo, di Kawasan Pasar Jamu Nguter

HerbaIndonesia.Com. Pencanangan Kabupaten Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu Indonesia oleh Menko PMK, Puan Maharani dan Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito pada 18 Maret 2019, di Sukoharjo mencuatkan aura semangat bagi para pejuang jamu di seantero kabupaten yang sangat terkenal dengan usaha melestarikan Jamu ini.

Berikut ini, artikel tentang: Sisi Humanis, Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu Indonesia, yang ditulis oleh Karyanto, Founder Jamu Digital:

"Mas..mas, ibu Menteri Puan itu masih muda sekali ya..," ungkap Maliyem (60 tahun) kepada saya, sambil menunggu acara Pencanangan Kabupaten Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu Indonesia yang digelar di halaman Kantor Pemda Sukoharjo di mulai.

"Koq sampeyan ngematke (memperhatikan) mbak?", tanya saya. Tadi saya diajak ngobrol mas, saat di dalam Café tadi (Café Jamu Sukoharjo-yang diresmikan oleh Menko PMK, Puan Maharani dan Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito di Pasar Jamu Nguter).

Ternyata Maliyem mendapat tugas dari panitia untuk hadir dan membawa Jamu Gendongnya untuk disajikan kepada Menko PMK, Puan Maharani dan Kepala BPOM, Penny K. Lukito, saat di dalam Café Jamu Sukoharjo.

"Ibu Puan itu, putrinya Ibu Megawati. Ibu Megawati itu putrinya Proklamator Bangsa Indonesia Bung Karno," saya menjelaskan kepada Maliyem, dan dia manggut-manggut tersenyum. "Senang tadi saya dapat bertemu dan ngobrol sebentar," sahutnya tersipu sambil membetulkan duduknya.

Terlebih lagi bagi Safiraningsih Utami (24 tahun) yang mendapat kesempatan menerima seperangkat peralatan Jamu Gendong. Bahkan, Puan Maharani dan Penny Lukito memasangkan celemek, dan topi caping sebagai tanda simbolis mereka telah selesai mengikuti Bimtek Jamu Gendong BPOM.

"Pak, nuwun sewu, saya nanti difoto saat bersama bu Menteri ya..," pinta Safira kepada saya sebelum maju ke depan. Sayapun mengabadikan moment yang sangat bersejarah bagi Safira- penjual Jamu Gendong, yang telah dia tekuninya selama tiga tahun ini.

Safira bercerita: Jujur ya Pak..., saya itu terinspirasi dari Bapak. Bapak saja seorang berpendidikan sarjana, tidak malu untuk jualan jamu. Dulu itu, saya awal jual jamu lulusan administrasi perkantoran, koq bakul jamu... malu Pak. Terus saya banyak ikut seminar. Terus acara kemarin acara Bimtek BPOM.... Alhamdulillah tidak malu lagi. Malah bangga, bakul jamu dapat ketemu menteri dan tenar.

Suka cita juga dirasakan oleh Ketua Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI), Suwarsi Moertedjo. "Seneng banget Pak, kita semua senang, tapi masih capek ini Pak," ujarnya ketika saya sapa.

Moertedjo lantas berkisah bahwa kepemimpinan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya dinilainya luar biasa untuk mengangkat jamu. Tahun 2012, Sukoharjo mencetak rekor muri- minum jamu bersama, Tahun 2015- Deklarasi Sukoharjo sebagai Kota Jamu, dan Tahun 2019 ini- Sukoharjo dicanangkan sebagai destinasi wisata Jamu, dan dibuka Café Jamu Sukoharjo untuk generasi millenial.

"BPOM progamnya sudah luar biasa membantu UMKM. Pelayanan prima, Bimtek, pendampingan, bahkan hingga kepada para penjual Jamu Gendong," urainya.

Rindu Bimbingan dan Pendampingan
Bimtek Jamu Gendong BPOM untuk 30 penjual Jamu Gendong di Sukoharjo pada 11-12 Maret 2019, kini dirindukan bagi mereka para penjual jamu gendong lainnya.

"Pak, koq saya tidak diundang seperti temen-temen saya ini?", ujar seorang ibu terlihat sedih, saat saya baru ingin duduk bersama rekan-rekan penjual Jamu Gendong yang kemarin mengikuti Bimtek BPOM, sambil menunggu acara Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu dimulai.

"Sabar njih....berdo’a saja, semoga BPOM segera mengadakan Bimtek lagi...ya," jawab saya singkat.

Susan, salah satu peserta Bimtek BPOM, bertanya: "Pak label kemasan saya sudah pas belum, tolong nasehatnya." Sesaat kemudian, dia mengirim contoh label kemasan yang akan ditempel di botol gelas Jamu Gendongnya.

Juga Winarni, dengan penuh semangat ingin segera dapat menjual jamunya secara online. "Pak bikinkan nama jamu saya dong, seperti saran Bapak... kan kita disuruh segera bikin merek di Jamu Gendong saya."

"Mba Win, cari inspirasi dulu...duduk-duduk di tepi sawah, siapa tahu dapat menemukan nama merek jamu yang bagus," gurau saya.

Sesaat kemudian, dia mengirim kabar, dia sudah menemukan nama Jamu Gendongnya yaitu Gendis Manis.

Bahkan, Rachmawati saat hadir di Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu, membawakan saya satu botol jamu beras kencur ukuran 500 ml. "Diminum Pak, bagaimana rasanya." "Mantab rasa kencurnya, tapi untuk ukuran saya, ini terlalu manis..," jawab saya.

Rachmawati bahkan sudah mencoba jualan jamu secara online, dan juga minta dimasukkan produk Jamu Gendongnya di aplikasi Jamu Digital.

"Saya berterima kasih BPOM Jakarta, dan LOKA POM Surakarta telah membina dan melatih para pedagang jamu, sehingga pedagang seperti kita, lebih maju dan mengerti bagaimana mengelola jamu yang baik dan benar.

Maka dari itu, para pedagang jamu tidak usah malu lagi dengan pekerjaannya. Kita itu harus bangga pedagang jamu dapat dibimbing oleh LOKA POM dan didukung oleh Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Menurut saya yang diperluh ditambahkan adalah praktek secara langsung bagaimana cara membuat jamu itu, agar tahan lama dan tetapi tidak ditambah dengan bahan pengawet.

Dan ditunjukkan memilih rimpang yang baik, yang bermutu secara langsung, agar lebih paham dan lebih cermat lagi dalam memilih bahan baku jamu.

Kita juga senang, dapat ilmu, bagaimana mejual jamu secara oline. Dengan bimbingan dan inspirasi dari Jamu Digital, Insya Allah dapat maju dan sukses." Demikian, Safira mengungkapkan harapannya.

Itulah sepenggal kisah yang dapat saya tangkap selama bertemu mereka dalam suasana riang gembira, menyaksikan Pencanangan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu.

Para pelaku usaha Jamu, yaitu: Jamu Gendong, UMKM, dan pabrikan besar memang perlus terus dibimbing, didampingi, sehingga upaya-upaya menduniakan Jamu Indonesia dapat secara sistematis dilakukan secara lintas sektoral!

Membersamai mereka adalah kebahagiaan, bersama-sama mereka merawat budaya minum Jamu dari warisan nenek moyang bansga Indonesia. Redaksi HerbaIndonesia.Com

Inilah foto-foto keceriaan mereka:

kojai

Karyanto dan Jamu Online

Puan dan Cafe Jamu


Kolom Komentar
Berita Terkait