Serial Herba Indonesia-1: Booming di Zaman Now
Tanggal Posting : Sabtu, 31 Maret 2018 | 07:29
Liputan : Redaksi - Dibaca : 396 Kali
Serial Herba Indonesia-1: Booming di Zaman Now

HerbaIndonesia.Com. Negara lain, boleh jadi ‘ngiri’ dengan kekayaan hayati Indonesia. Bagaimana tidak iri? Di seluruh nusantara bertebaran ribuan kekayaan hayati- yang juga ribuan diantaranya berkhasiat sebagai obat bahan alam. Wow ...joss tenan!

Terus, kenapa herbal Indonesia belum mendunia?

Kita simak pendapat dua pakar berikut ini, yaitu: Kepala Materia Medika Batu (MMB), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, DR. Husin Rayesh Mallaleng, Drs, Apt, M.Kes. dan Pakar Komunikasi Farmasi, Karyanto, Sarjana Farmasi, MM untuk mengupas tentang brand herbal Indonesia.

Husin Rayesh Mallaleng menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara tropis dengan potensi tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai obat tradisional. Jamu, yang merupakan obat tradisional Indonesia, telah menjadi budaya masyarakat Indonesia sejak berabad silam sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, menambah kebugaran, dan merawat kecantikan.

Industri, usaha, dan sub sektor jamu dan obat tradisional serta kosmetik di Indonesia semakin berkembang sejak tahun 2008 melalui kegiatan "Jamu Brand Indonesia" yang dicanangkan oleh Presiden RI 2009-2014 Susilo Bambang Yudoyono pada Gelar Kebangkitan Jamu Indonesia.

Namun, dalam pandangan Karyanto bahwa branding jamu dan obat herbal asli Indonesia bersifat sporadis, tidak berkelanjutan, tidak jelas diposisikan seperti apa. Yang terjadi masing-masing produsen membranding produknya sendiri. Belum bicara tetang brand herbal Indonesia.

"Menggarap brand herbal Indonesia, tidak dapat dilakukan hanya sekedar kampanye yang sifatnya sesaat. Perlu strategi, konten yang jelas dan menjadi gerakkan bersama oleh para stakeholders herbal Indonesia," Karyanto mengingatkan.

Tentang peluang jamu, menurut Husin Rayesh Mallaleng mempunyai peluang besar dengan adanya kekayaan keanekaragaman hayati. Indonesia dikenal secara luas sebagai mega center keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar ke-2 di dunia setelah Brazil, terdiri dari tumbuhan tropis dan biota laut.

Dari total sekitar 40.000 jenis tumbuh-tumbuhan obat yang telah dikenal di dunia, 30.000-nya disinyalir berada di Indonesia, Husin menambahkan.

Jumlah tersebut mewakili 90% dari tanaman obat yang terdapat di wilayah Asia. Dari jumlah tersebut, 25% di antaranya atau sekitar 7.500 jenis sudah diketahui memiliki khasiat herbal atau tanaman obat.

Namun hanya 1.200 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan untuk bahan baku obat-obatan herbal atau jamu. Dari 30.000 jenis tumbuhan di wilayah Indonesia, sebanyak 7.000 di antaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat. Sebanyak 2500 jenis di antaranya merupakan tanaman obat.

Tidak mengherankan jika kemudian Indonesia dikenal dengan julukan live laboratory. Di Indonesia sendiri, meskipun disinyalir 90% total jenis tumbuhan-tumbuhan berkhasiat jamu ada di Indonesia, ternyata hanya terdapat sekitar 9.000-spesies tanaman yang diduga memiliki khasiat obat.

Dari jumlah tersebut, baru sekitar 5% yang dimanfaatkan sebagai bahan fitofarmaka sedangkan sekitar 1000-an jenis tanaman sudah dimanfaatkan untuk bahan baku jamu.

Dengan potensi yang dimiliki tersebut, Indonesia mempunyai prospek untuk pengembangan jamu bagi kepentingan kesehatan, produk industri, maupun pariwisata, dengan sasaran pasar dalam negeri maupun internasional. Industri jamu telah masuk ke dalam 10 produk prospektif yang perlu dikembangkan karena memiliki potensi pasar menjanjikan di pasar lokal maupun global.

Permintaan jamu mengalami peningkatan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik daripada tingkat pertumbuhan industri farmasi. Terdapatnya tren back to nature mengakibatkan masyarakat semakin menyadari pentingnya penggunaan bahan alami bagi kesehatan.

Masyarakat semakin memahami keunggulan penggunaan obat tradisional, antara lain: harga yang lebih murah, kemudahan dalam memperoleh produk, dan mempunyai efek samping yang minimal.

Di negara-negara sedang berkembang, sebagian besar penduduknya masih terus menggunakan obat tradisional, terutama untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan dasarnya. Menurut resolusi Promoting the Role of Traditional Medicine in Health System: Strategy for the African Region, sekitar 80% masyarakat di negara-negara anggota WHO (World Health Organization) di Afrika menggunakan obat tradisional untuk keperluan kesehatan.

Beberapa negara Afrika melakukan pelatihan obat tradisional kepada farmasis, dokter dan para medik.

Demikian pula penggunaan obat tradisional di Asia, terus meningkat meskipun banyak tersedia dan beredar obat-obat entitas kimia. Di RRC (Republik Rakyat China), penggunaan obat tradisional mencapai 90% penduduk di Jepang 60 sampai dengan 70% dokter meresepkan obat tradional "kampo" untuk pasien mereka.

Di Malaysia, obat tradisional Melayu, TCM dan obat tradisional India digunakan secara luas oleh masyarakatnya. Sementara itu, Kantor Regional WHO wilayah Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan 71% penduduk Chile dan 40% penduduk Kolombia menggunakan obat tradisional.

Di negara-negara maju, penggunaan obat tradisional tertentu sangat populer. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan obat tradisional oleh penduduk di Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40% dan Amerika Serikat 42%.

Beberapa produk ekstrak herbal mempunyai pasar global dengan nilai yang besar. Ginko Biloba, Ginseng, Garlic dan Echinacae adalah ekstrak yang memiliki pasar tergolong terbesar di dunia. Di Amerika Serikat, penjualan dan penggunaan obat herbal berupa dietary supplement juga meningkat cukup signifikan.

Obat herbal Indonesia pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : (1) Jamu; (2) Obat Herbal Terstandar; dan (3) Fitofarmaka. Jamu sebagai warisan budaya bangsa perlu terus dikembangkan dan dilestarikan dengan fokus utama pada aspek mutu dan keamanannya (safety). Khasiat jamu sebagai obat herbal selama ini didasarkan pengalaman empirik yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama.

"Wow ...joss tenan ya sebenarnya potensi obat herbal Indonesia. Dengan sentuhan branding yang tepat dan upaya-upaya yang kongkret dari para stakeholders obat herbal Indonesia, maka herbal Indonesia akan booming di zaman now!" ungkap Karyanto optimistis.

Edukasi pemanfaatan herba kepada masyarakat, lanjut Karyanto, harus dilakukan secara terus-menerus dan berjenjang karena wilayah geografis Indonesia yang sangat luas, dengan tingkat pengetahuan yang juga berbeda-beda. "Sayangnya, saya belum melihat ada tanda-tanda strategi itu akan dilakukan," kata alumni Farmasi UGM itu menganalisis.


Kolom Komentar
Berita Terkait