Serial 7- FGD Obat Tradisional, Regulasi untuk Dukung UMKM
Tanggal Posting : Jumat, 11 Mei 2018 | 07:41
Liputan : Redaksi - Dibaca : 101 Kali
Serial 7- FGD Obat Tradisional, Regulasi untuk Dukung UMKM
Irwan Hidayat, Pimpinan PT Sido Muncul (tengah), pada saat menyampaikan tanggapan pada FGD Obat Tradisional yang diselenggarakan oleh Badan POM, 30 April 2018, di Jakarta

HerbaIndonesia.Com. Kepala Badan POM RI., Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, MCP. memimpin langsung Focus Group Discussion (FGD) ‘Pengembangan UMKM Obat Tradisional’, pada Senin, 30 April 2018, di Jakarta.

Tampak hadir sejumlah pengusaha jamu nasional, antara lain: Jaya Suprana, Putri Kuswisnu Wardani, Irwan Hidayat, Charles Saerang, Ina Rosalina, Mathelda dan stakeholders obat tradisional lintas sektoral lainnya.

Didampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc, dan sejumlah pejabat Badan POM lainnya, FGD dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Minum Jamu Bersama oleh seluruh Peserta FGD.

Selanjutnya Kepala Badan POM memberikan kesempatan kepada para narasumber untuk menyampaikan paparan dan usulannya. Dilanjutnya oleh para penanggap.

Penanggap berikutnya adalah Irwan Hidayat, Pimpinan PT. Sido Muncul. Untuk mengenal lebih dekat tentang perusahaan jamu yang kondang ini, inilah sejarah singkatnya:

Di tengah persaingan sektor Industri jamu yang semakin ketat, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk. telah berhasil memiliki market share terluas dan reputasi yang baik sebagai industri jamu terbesar di Indonesia. Keberhasilan yang telah dicapai saat ini tentunya tidak terlepas dari peran dan pelaku pendiri industri ini.

Perusahaan yang kini sudah berhasil Go Public masuk Bursa Efek Indonesia itu, dilalui melalui perjalanan yang cukup panjang.

Berawal dari keinginan pasangan suami istri Siem Thiam Hie yang lahir pada 28 Januari 1897 dan wafat 12 April 1976 bersama istrinya Ibu Rakhmat Sulistio yang terlahir pada 13 Agustus 1897 dengan nama Go Djing Nio dan wafat 14 Februari 1983, memulai usaha pertamanya dengan membuka usaha Melkrey, yaitu usaha pemerahan susu yang besar di Ambarawa.

Pada tahun 1928, terjadi perang Malese yang melanda dunia. Akibat perang ini, usaha Melkrey yang mereka rintis terpaksa gulung tikar dan mengharuskan mereka pindah ke Solo, pada 1930. Tanpa menyerah, pasangan ini kemudian memulai usaha toko roti dengan nama Roti Muncul.

Lima tahun kemudian, berbekal kemahiran Ibu Rakhmat Sulistio (Go Djing Nio) dalam mengolah jamu dan rempah-rempah, pasangan ini memutuskan untuk membuka usaha jamu di Yogyakarta.

Tahun 1941, mereka memformulasikan Jamu Tolak Angin yang saat itu menggunakan nama Jamu Tujuh Angin.

Ketika perang kolonial Belanda yang kedua di tahun 1949, mereka mengungsi ke Semarang dan mendirikan usaha jamu dengan nama Sido Muncul, yang artinya "impian yang terwujud". Di Jalan Mlaten Trenggulun No. 104 itulah, usaha jamu rumahan dimulai dengan di bantu oleh tiga orang karyawan.

Banyaknya permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi jamu Tolak Angin dalam bentuk serbuk. Produk ini mendapat tempat di hati masyarakat sekitar dan permintaannya pun terus meningkat.

Pada tahun 1970, dibentuk persekutuan komanditer dengan nama CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul. Kemudian pada 1975, bentuk usaha industri jamu pun berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, dimana seluruh usaha dan aset dari CV Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul digabungkan, dan dilanjutkan oleh perseroan terbatas ini.

Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl.Mlaten Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang semakin besar. Oleh sebab permintaan pasar yang semakin tinggi, membuat generasi kedua dari pendiri PT Sido Muncul Desy Sulistio, memutuskan untuk memindahkan pabrik ke Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe Semarang pada tahun 1984.

Kemudian dimulailah pembangunan pabrik yang dilengkapi dengan fasilitas modern, hingga dapat berkembang pesat seperti saat ini, dan menjadi pelopor perusahaan jamu dengan standar farmasi.

Demi mengantisipasi kemajuan masa mendatang, Sido Muncul merasa perlu untuk membangun pabrik yang lebih besar dan modern, maka pada tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Ungaran, oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu.

Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas sekitar 30 hektar tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, pada 11 November 2000.

Saat peresmian pabrik, Sido Muncul menerima dua sertifikat sekaligus, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi. Sertifikat inilah yang menjadikan Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas sekitar 8 hektar dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak 1951, Sido Muncul yang kini merupakan perusahaan herbal bertaraf modern senantiasa berupaya untuk memberikan produk-produk yang baik dan menyehatkan bagi seluruh konsumennya, dan dengan demikian memberikan nilai positif bagi masyarakat (dikutip dari www.sidomuncul.id)

Berikut ini, tanggapan Irwan Hidayat pada saat FGD Obat Tradisional di Badan POM:

"Saya sependapat dengan Pak Jaya, karena beliau dulu teman sekelas saya dan satu kota juga di Semarang. Salah satu mengenai usaha kecil, memang usaha kecil harus dibuat aturan yangsedemikian rupa sehingga usaha kecil ini bisa berkembang baik.

Salah satu contoh syarat CPOTB untuk industri sekala besar harus di atur dengan sebaik mungkin, akan tetapi untuk UMKM, kalau bisa hanya sekedar notifikasi, karena difungsikan untuk pelaporan terhadap pihak yang berwenang.

Karena dengan hal pelaporan itu, sangat baik. Dan pelaporan yang bersifat lebih detail lagi tidak boleh dihilangkan. Karena ini bisa sebagai pembinaan-pembinaan dari Badan POM terhadap UMKM.

Yang kedua, melindungi dari sudut pandang pemerintah (abdi masyarakat) itu terhadap UMKM. Menyinggung masalah aturan mencantumkan 100% formula Jamu dalam kemasan. Hal ini harus dibedakan, karena jamu itu tidak sama dengan obat yang harus dijabarkan formulanya satu persatu.

Kalau bisa peraturan itu dirubah dengan hanya mencantumkan sebagian saja formula untuk masalah jamu. Tetapi tidak boleh melakukan kesalahan, seperti mencampur jamu dengan obat kimia."

Demikian antara lain tanggapan Irwan Hidayat yang disampaikan saat FGD. Simak serial berita FGD ‘Pengembangan UMKM Obat Tradisional’ hanya di media online khusus herba Indonesia- www.herba-indonesia.com. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait