Serial 3- Herba Indonesia: Urgensi Budidaya Tanaman Obat
Tanggal Posting : Jumat, 20 April 2018 | 07:12
Liputan : Redaksi - Dibaca : 310 Kali
Serial 3- Herba Indonesia: Urgensi Budidaya Tanaman Obat

HerbaIndonesia.Com. Melimpahnya kekayaan hayati di Indonesia, jika tidak diikuti dengan sistem budidaya tanaman obat yang baik, maka pelan tapi pasti tidak tertutup kemungkinan, akan banyak tanaman obat yang punah dan sulit dtemukan di bumi nusantara.

Maka perhatian para pihak yang terkait, untuk membuat suatu sistem agar budidaya tanaman obat mendapat perhatian yang serius adalah langkah yang sangat strategis untuk menyelamatkan biodiversitas tanaman obat di Indonesia.

Kita simak pendapat Kepala Materia Medika Batu (MMB), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, DR. Husin Rayesh Mallaleng, Drs, Apt, M.Kes. berikut ini:

Di beberapa negara berkembang, sebagian besar penduduknya masih terus menggunakan tanaman alami, terutama untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar. Di Indonesia sendiri, banyak tanaman obat dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai pembuatan jamu, obat-obatan, kosmetik, bahan spa serta bahan baku industri makanan dan minuman.

Tanaman obat sebagai sumber bahan baku obat tradisional dalam konteks pembangunan kesehatan di Indonesia sangat terkait dengan kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi obat tradisional.

Adanya kecenderungan pola hidup sehat untuk kembali ke alam (back to nature) dan mahalnya obat-obat modern menyebabkan masyarakat mulai beralih menggunakan bahan alami untuk meminimalisir efek samping seperti obat-obatan kimia. Hal ini membuat permintaan tanaman obat semakin meningkat.

Selain itu semakin luasnya pemanfaatan tanaman obat untuk keperluan industri lain di luar industri obat tradisional dan farmasi, seperti industri makanan dan minuman, serta industri kosmetik membuat kebutuhan akan tanaman obat sebagai bahan baku semakin tinggi.

Berdasarkan data statistik yang diperoleh dari Kementerian Perindustrian, industri produk obat tradisional Indonesia telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Data pada tahun 2010 mencatat industri obat tradisional Indonesia hanya sebesar Rp 1,5 triliun, kemudian meningkat sebesar 23,3% menjadi Rp 2,8 triliun pada tahun 2013 (Sumber: Kementerian Pertanian, 2005).

Meskipun memiliki peluang yang sangat luar biasa dalam budidaya tanaman obat, Indonesia masih menghadapi banyak kendala dalam hal produksi. Beberapa kendala tersebut antara lain penyelenggaraan kegiatan budidaya tanaman obat yang belum profesional (diperkirakan 90% bahan baku masih berasal dari tumbuhan liar, hutan dan hasil pekarangan).

Ketidakmampuan petani dalam menjaga kualitas dan mutu tanaman obat yang disebabkan oleh minimnya bimbingan dan pelatihan yang diberikan kepada petani, dan masih minimnya perhatian industri tanaman obat terhadap hasil-hasil penelitian ilmiah dalam upaya pengembangan produk dan pasar.

Di samping kendala-kendala tersebut, salah satu kendala lainnya yang perlu mendapatkan perhatian besar adalah dukungan pembiayaan dalam mengembangkan usaha agribisnis, terutama untuk petani skala kecil.

Selain itu, agar herbal Indonesia dapat semakin menjadi pilihan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia, maka permasalahan dalam penggunaan herbal juga perlu diatasi terlebih dahulu. Masalah yang ada dalam konsumsi penggunaan herbal dan tanaman obat yaitu masalah keamanan produk.

Banyaknya produk herbal berupa jamu kemasan yang dicampur dengan Bahan Kimia Obat (BKO) menjadikan produk jamu kemasan di Indonesia belum sepenuhnya aman digunakan dalam rangka pembangunan kesehatan.

Produk jamu BKO ini berbahaya jika dikonsumsi secara terus menerus dan berlebihan. Maraknya peredaran jamu BKO ini memang sulit dihindari seiring dengan kesadaran masyarakat atau konsumen yang mengharapkan hasil yang cepat dalam pengobatan. Edukasi konsumen serta pengetahuan akan produk herbal tradisonal masih sangat dibutuhkan oleh konsumen. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait