Serial-2 Herbal Indonesia: Prospek Pasar Ekspor Herbal
Tanggal Posting : Minggu, 8 April 2018 | 16:09
Liputan : Redaksi - Dibaca : 91 Kali
Serial-2 Herbal Indonesia: Prospek Pasar Ekspor Herbal

HerbaIndonesia.Com. Ditengah melimpahnya kekayaan hayati di Indonesia, peluang ekspor obat herbal Indonesia, tentunya akan sangat besar. Mari menghitung-hitung ekspor obat herbal Indonesia. Betapa menggiurkannya...!

Kita simak pendapat Kepala Materia Medika Batu (MMB), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, DR. Husin Rayesh Mallaleng, Drs, Apt, M.Kes. berikut ini:

Nilai ekspor obat herbal Indonesia tahun 2013 mencapai US$ 23,44 juta, sedangkan nilai ekspor pada periode Januari-Juni 2014 sebesar US$ 29,13 juta, mengalami peningkatan 600% dari nilai ekspor pada periode Januari-Juni 2013. Pertumbuhan ekspor obat herbal Indonesia selama periode 2009-2013 mengalami kenaikan sebesar 6,49% per tahun.

Produk utama ekspor obat herbal pada periode Januari-Juni 2014 adalah jahe (HS 091010) dengan nilai ekspor sebesar US$ 25,8 juta, dengan pangsa ekspor sebesar 88,58% dari total ekspor obat herbal Indonesia. Rempah-rempah lainnya (HS 091099) dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,84 juta (6,33%), dan curcuma (HS 091030) dengan nilai ekspor US$ 699 ribu (2,4%).

Negara tujuan ekspor obat herbal Indonesia pada periode Januari-Juni 2014 adalah Bangladesh dengan nilai US$ 10,94 juta (pangsa ekspor obat herbal 37,55%), Pakistan US$ 10,71 juta (36,76%), Malaysia US$ 2,67 juta (9,17%), Vietnam sebesar US$ 1,19 juta (4,12%) dan Jepang sebesar US$ 806 ribu (2,77%) (Sumber: Warta Ekspor Edisi September 2014)

Potensi Indonesia yang memiliki banyak tanaman obat yang potensial sebagai bahan obat herbal tersebut mulai dilirik dan memiliki peluang pasar global. Untuk bahan bakunya sendiri dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia, selain itu dari segi jenis tanaman sudah mulai banyak yang mengembangkannya.

Untuk pengembangan ke depan memang butuh standarisasi dari produk herbal itu sendiri karena harus menyesuaikan dengan standar negara tujuan. Ekspor produk herbal dilakukan bukan hanya untuk mendongkrak pertumbuhan industri farmasi dalam negeri tetapi juga sebagai momentum untuk mengenalkan potensi alam Indonesia salah satunya tanaman tradisional.

Potensi besar yang dimiliki bangsa Indonesia berbanding terbalik dengan data impor bahan jamu yang hampir mencapai 70 %. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Bina Kefarmasian Dr. Maura Linda Sitanggang saat memberikan materi seminar di Sukoharjo saat beliau menyampaikan materi jamu sebagai brand Indonesia. Keaadan ini tentu menjadi tanya besar peran pemerintah dalam regulasi bahan baku tradisional Indonesia.

Satu sisi, menurut deputi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas ibu Endah Murniningtyas, diam-diam Cina mengimpor banyak bahan baku jamu dari Indonesia. (Redaksi HerbaIndonesia.Com)


Kolom Komentar
Berita Terkait