Role Model di Indonesia: Klinik Saintifikasi Jamu, Hortus Medicus Tawangmangu
Tanggal Posting : Minggu, 21 Oktober 2018 | 12:47
Liputan : Karyanto, Founder JamuDigital.Com - Dibaca : 41 Kali
Role Model di Indonesia: Klinik Saintifikasi Jamu, Hortus Medicus Tawangmangu
Pasien Klinik Saintifikasi Jamu, Rumah Riset Jamu, Hortus Medicus di Tawangmangu berasal dari berbagi daerah di Indonesia.

HerbaIndonesia.Com Indonesia telah memiliki role model Klinik Saintifikasi Jamu yaitu: Klinik Saintifikasi Jamu, Rumah Riset Jamu, Hortus Medicus di Tawangmangu, Jawa Tengah yang dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, (B2P2TOOT), Kementerian Kesehatan RI.

Di awal tahun 2017, saya pernah mampir ke Klinik Saintifikasi Jamu, Rumah Riset Jamu, Hortus Medicus di Tawangmangu bersama rombongan GP. Jamu Indonesia untuk melihat dari dekat kegiatan di B2P2TOOT, termasuk mengunjungi Klinik Saintifikasi Jamu, Hortus Medicus. Saat itu, Kepala B2P2TOOT dijabat oleh Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt.

Untuk mendapat up date tentang Klinik Saintifikasi Jamu, Rumah Riset Jamu, Hortus Medicus, saya menggali banyak informasi dari Kepala B2P2TOOT, yang saat ini dijabat oleh Akhmad Saikhu, SKM, M.Sc.PH. pada pekan kedua bulan Oktober 2018 ini. Berikut ini penuturannya:

Menurut Akhmad Saikhu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 003 Tahun 2010 tentang Saintikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan menetapkan bahwa Klinik Hortus Medicus B2P2TOOT (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional) sebagai salah satu Klinik Saintifikasi Jamu yang melakukan Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.

Diharapkan dengan Saintifikasi Jamu, lanjutnya, dapat memberikan landasan ilmiah penggunaan Jamu (empiris), melalui penelitian berbasis pelayanan. Klinik Hortus Medicus B2P2TOOT mempunyai data kunjungan pasien sebanyak 150 hingga 200 pasien per-hari. Didukung oleh: 8 dokter dan 3 apoteker.

Ramuan jamu yang ‘scientifically proven’ yang didapatkan dari program Saintifikasi Jamu merupakan salah satu jalur penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional yang dilakukan di Badan Litbangkes. Melalui jalur Saintifikasi Jamu kita dapat menghemat waktu dan biaya untuk mendapatkan evidence base suatu formula.

Mengapa? "Karena Saintifikasi Jamu- penelitian berbasis pelayanan - ini dapat langsung dilakukan pada subjek manusia, mengingat bahwa ramuan empiris dapat dianggap sudah aman karena telah digunakan oleh masyarakat secara turun temurun (reverse pharmacology). Unggulan lain, adalah bahwa kegiatan penelitian pelayanan dilakukan oleh dokter Saintifikasi Jamu yang sudah mendapat pelatihan," Akhmad Saikhu menegaskan.

Melalui jalur Saintifikasi Jamu yang dilakukan sejak tahun 2010, telah diperoleh 10 ramuan jamu saintifik, yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas dan untuk fasilitas pelayanan kesehatan.

Namun demikian, terkait dengan pemanfaatannya di Fasyankes, tentunya diperlukan produk terregistrasi di Badan POM yang didaftarkan oleh Industri Obat Tradisional.

Klinik Saintifikasi Jamu yang ada di Tawangmangu diharapkan menjadi model bagi pengembangan Jamu di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Daerah dapat membentuk cloning atau duplikasi fasilitas dan kegiatan yang sama seperti klinik saintifikasi Jamu.

Apalagi dari pelatihan Saintifikasi Jamu yang dilakukan oleh Komisi Saintifikasi Jamu Nasional telah diluluskan 519 orang dokter dan 101 Apoteker. Dengan makin banyaknya klinik saintifikasi Jamu, akan makin banyak pula jejaring dalam upaya pembuktian ilmiah terhadap keamanan, khasiat dan kualitas obat tradisional.

Di internal B2P2TOOT sendiri, peningkatan program Saintifikasi Jamu ditekankan pada dua hal yaitu: 1. Penguatan fokus riset & strategi implementasi roadmap riset tanaman obat &  Jamu berbasis problem solving and demand driven, 2. Peningkatan kemampuan hilirisasi hasil riset yang difokuskan pada meningkatkan kemanfaatan hasil riset yang mempunyai daya ungkit di bidang kesehatan dan atau ekonomi.

Untuk itu kolaborasi Tetrahelix ABGC (Akademisi, Industri, lembaga lintas sektor dan masyarakat) sangat perlu dikembangkan.

Selama ini, pasien yang datang ke Klinik Hortus Medicus dari berbagai daerah, tidak hanya dari Jawa Tengah atau Pulau Jawa saja, tetapi juga dari luar Pulau Jawa. Proses screening dilakukan klinik untuk ditetapkan menjadi subjek penelitian dengan inform consent.

"Biaya pendaftaran untuk pasien Rp. 3.000. Sedangkan biaya untuk Jamu sebesar Rp. 20.000, untuk konsumsi selama satu minggu," ujar Kepala B2P2TOOT, Kementerian Kesehatan RI., Akhmad Saikhu, SKM, M.Sc.PH.

Klinik Hortus Medicus adalah role model yang semestinya dapat dikembangkan di berbagai daerah di seluruh Indonesia, sehingga potensi herba Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal yang terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

Tujuh Ramuan Jamu Saintifik

Tujuh Ramuan Jamu Saintifik

JamuDigital.Com akan menulis secara serial ‘Tujuh Ramuan Jamu Saintifik, Pemanfaatan Mandiri oleh Masyarakat’- sebuah buku yang diterbitkan oleh B2P2TOOT, agar masyarakat dapat mengambil manfaatnya.

* Karyanto, Founder JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait