Ragam Cara Teknik Meracik Herbal
Tanggal Posting : Rabu, 30 Mei 2018 | 10:41
Liputan : Redaksi - Dibaca : 259 Kali
Ragam Cara Teknik Meracik Herbal

HerbaIndonesia.Com. Berikut ini serial artikel HerbalSehat yang ditulis oleh Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau adalah Peneliti Herbal Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China. Semoga bermanfaat.

Obat herbal dapat dibuat dalam bentuk tunggal atau racikan dengan bahan baku yang masih berbentuk utuh, rajangan, serbuk, atau ekstrak (sari). Bahan baku yang digunakan juga bisa masih segar atau sudah dikeringkan.

Beberapa contoh obat herbal (jamu) yang dibuat dari bahan segar seperti jamu gendong atau jamu pipis (lazim dijajakanl pada malam hari sebagai jamu jawa). Sedangkan jamu yang dibuat dari bahan baku kering yang masih utuh/rajangan contohnya jamu godog, digunakan dengan cara merebus sampai mendidih selama 15-30 menit, disaring lalu diminum.

Adapula jamu yang dibuat dari bahan kering yang sudah dihaluskan/digiling, disebut sebagai jamu serbuk, digunakan dengan cara menyeduh dengan 200 cc air panas dan diminum selagi hangat beserta ampasnya.

Lain halnya dengan jamu instan, jamu ini dibuat baik dari bahan segar atau bahan kering yang direbus selama lebih kurang 60 menit, kemudian ditambahkan gula atau tanpa gula dan diuapkan airnya sampai didapatkan kristal gula atau serbuk.

Dan terakhir adalah jamu ekstrak, yaitu bahan baku umumnya berasal dari ekstrak yang dikeringkan kemudian dimasukkan ke dalam kapsul atau dibuat bentuk lain seperti tablet.

Untuk bahan baku jamu yang digunakan dalam bentuk segar, perlu diperhatikan usia pemanenan. Misalnya jika yang digunakan bentuk rimpang seperti jenis empon-empon (jahe, kunir, temulawak dll) lazim dipanen pada usia 8-10 bulan dan pada musim kemarau. Penyediaan bahan baku jamu bentuk kering diperhatikan cara dan suhu pengeringannya.

Cara pengeringan bisa menggunakan sinar matahari langsung atau dengan oven. Bahan baku jamu yang berasal dari akar, kayu, kulit batang pada umumnya dikeringkan dengan sinar matahari langsung tanpa penutup kain di atasnya. Hal ini karena bahan aktifnya tahan oleh sinar ultraviolet.

Sedangkan bahan baku seperti dari daun, bunga, buah dikeringkan menggunakan oven pada suhu di bawah 50 derajat celcius, atau jika dengan sinar matahari perlu ditutup kain warna gelap di atasnya.

Tujuan dari meracik adalah untuk mendapatkan efek sinergisme. Oleh sebab itu, untuk meracik jamu atau obat herbal yang rasional, perlu mengikuti prinsip-prinsip 4T+1W; tepat bahan baku, tepat dosis, tepat waktu penggunaan, tepat cara penggunaan dan waspada terhadap efek sampingnya.

Tepat bahan baku, misalnya lempuyang ada 3 jenis; lempuyang emprit, gajah dan wangi. Racikan untuk melangsingkan badan tepat menggunakan lempuyang wangi, sebaliknya jika menggunakan lempuyang emprit justru yang terjadi nafsu makan meningkat.

Tepat dosis, misalnya untuk penurun tekanan darah dengan mentimun, cukup 1 buah mentimun, jika lebih dari 3 buah menyebabkan drop tekanan darahnya. Terkait dengan dosis secara tradisional dikenal dengan istilah antropometri seperti genggam, jimpit dan lain-lain.

Tepat waktu penggunaan, misalnya jamu yang mengandung kunir tidak boleh dikonsumsi pada trimester pertama kehamilan, sebab akan mengakibatkan keguguran, namun tepat digunakan pada trimester akhir.

Tepat cara penggunaan, misalnya daun kecubung untuk terapi asma digunakan dengan cara 7 daun kering dibakar dan asapnya dihisap, jika direbus akan menyebabkan "mendem kecubung".

Waspada efek samping, beberapa tanaman obat bisa menyebabkan efek samping seperti daun tapak doro dapat menyebabkan sumsum tulang belakang kering. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait