Rachmat Sarwono, Strategi Pasarkan Herbal ke Manca Negara
Tanggal Posting : Selasa, 29 Mei 2018 | 12:51
Liputan : Redaksi - Dibaca : 329 Kali
Rachmat Sarwono, Strategi Pasarkan Herbal ke Manca Negara
Direktur PT.Industri Jamu Borobudur, Rachmat Sarwono (baju biru) berbincang dengan Founder PharmaONEBRAND, Karyanto (kiri) , usai Seminar Herbal Indonesia, di Swiss German University.

HerbaIndonesia.Com. Dalam rangka ikut memajukan kualitas tanaman obat dan pengembangan obat herbal di Indonesia, Swiss German University (SGU) mengadakan ’Seminar On Development and Application of Indonesia Herbal Product’, di Kampus SGU Alam Sutera, Tangerang, pada hari Kamis, 26 April 2018.

Seminar menampilkan stakeholders obat tradisional, yaitu: Kementerian Kesehatan, Badan POM, LIPI, Biofarmaka Tropika IPB, Pelaku usaha (PT. Industri Jamu Borobobudur, PT. Martina Berto, PT. Indesso). Kegiatan ini diharapkan memberikan kontribusi untuk memajukan herbal Indonesia.

Apalagi, juga dilakukan Penandatanganan MOU Pembentukan Konsorsium Extract Library antara SGU dengan pihak-pihak terkait. Sebuah keseriusan yang harus dijadikan momentum untuk mendunikan herbal Indonesia.

Pembukaan seminar dilakukan oleh Rektor SGU, dilanjutkan paparan oleh 2 Keynote speech yaitu: Drs. Tepy Usia, M.Phill., Ph.D. (Direktur Standarisasi Produk Pangan Badan POM), dan Prof. Dr. Enny Sudarmonowati (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati-LIPI).

Sesi 1, tema ’Pengembangan Produk Herbal Indonesia’, menampilkan 3 pembicara: Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia), Prof. Dr. Muhammad Hanafi (Puslitkim LIPI), Dr. Wisnu Ananta Kusuma (Biofarmaka Tropika IPB).

Sesi 2, tema : ’Pengguanan Produk Herbal Indonesia dan Peluang Bisnis Saat Ini’, pembicara: Kholis A. Audah, M.Sc., Ph.D. (SGU), Fransiska Devi Junardy, M.App. Sc. (PT. Martina Berto, Tbk.), Rachmat Sarwono (PT. Industri Jamu Borobudur), Drs. Sutanto Gunawan, MM (PT. Indesso).

Berikut ini, pemaparan Direktur PT. Industri Jamu Borobudur, Rachmat Sarwono dengan judul; ‘Produk Herbal Indonesia, Aplikasi dan Peluang Bisnis’:

Ada empat point, materi yang disampaikan yaitu: Gambaran pasar herbal di indonesia, Prospek pasar herbal Indonesia dari sisi bisnis, Herbal Indonesia untuk dunia, dan Gambaran pasar herbal di Indonesia.

Kualitas herbal Indonesia harus terus ditingkatkan. Pengeringan masih mengandalkan sinar matahari. Proses prouksi masih tradisional- pabrik dengan fasilitas produksi dan pengolahan yang tradisional, masih ada yang mencoba-coba menambahkan BKO.

Penanganan pasca panen belum menggunakan teknologi. Sedangkan di negara Jerman, Jepang, dan China, misalnya, telah menerapkan teknologi pasca panen yang modern. Ketersediaan bahan baku kurang memadai. Di Thailand, contohnya, ada pabrik pembuat jus manggis, sehingga ketersediaan kulit manggis mencukupi.

Strategi menembus pasar dunia, dengan LOCAL INGREDIENTS, HIGH QUALITY, Market oriented, dan Zat Aktif terstandar. Ikuti Pameran, lakukan Promosi, dan Aplikasikan 5P (Product, Price, Place, Promotion, Personal).

Perkembangan Jamu di Indonesia, sudah bagus, misalnya. Untuk mengatasi sensitif terhadap perubahan: Bentuk sediaannya dari serbuk kini dalam bentuk kapsul. Mengikuti perkembangan teknologi, sehingga herbal dapat menggantikan obat konvensional. Herbal dapat digunakan dari anak hingga usia lansia, dan Wanita/Pria.

Produk Obat Herbal Terstandar (OHT) dari PT. Industri Jamu Borobudur, antara lain: Mastin, Kenis, Niran, Tulak, Bilon, Murat, Neo Sendi, Keling, Losterol, Losterol Plus. Selain dipasarkan di seluruh Indonesia, produk PT. Industri Jamu Borobudur telah di ekspor ke beberapa negara, seperti: Malaysia, Singapore, Saudi Arabia, Nigeria, Switzerland, Rusia, Amerika, Kanada, Mexico, New Zealand, Jepang, China, dan pterus dikembangkan ke negara-negara lain.

Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang kaya tanaman obat. Secara turun temurun, tanaman obat sudah digunakan hampir di setiap negara di dunia, untuk penyembuhan dan pencegahan penyakit.

Dewasa ini, obat herbal telah mendapatkan pengakuan internasional. Khasiat kesembuhannya mempunyai efek samping minimal, sehingga semakin diminati masyarakat Indonesia dan manca negara. Masyarakat Indonesia lebih mengenal jamu sebagai ramuan penyembuhan. Jamu gendong mengawali perkembangan industri jamu di Indonesia.

Seiring perkembangan kebutuhan obat herbal, pada 1979, PT. Industri Jamu Borobudur mulai memproduksi Obat Herbal siap pakai. Dimulai dengan memproduksi herbal dalam bentuk Pil.

Pada 1989, PT. Industri Jamu Borobudur memulai mengembangkan jenis sediaan dalam bentuk kapsul. Hingga saat ini PT. Industri Jamu Borobudur merupakan produsen terbesar dalam Jamu sediaan kapsul di Indonesia.

Trend Back to Nature membuat permintaan produk herbal di dunia meningkat. Pada 2000, produk berbahan herbal mulai dikembangkan untuk produk kosmetik dalam sediaan cream, gel, param kocok, dan ragam sediaan lainnya.

Proses produksi dikerjakan secara modern menggunakan teknologi mesin, dengan standart proses yang benar dan dikontrol oleh tenaga terlatih dibidangnya, sehingga menghasilkan produk berkualitas, higienis, aman untuk dikonsumsi.

Semua aktivitas perusahaan diterapkan sesuai dengan Quality Management System ISO 9001/sesuai persyaratan GMP (Good Manufacturing Practices) atau CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

Untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, serta menyediakan bahan baku obat herbal berkualitas terbaik, maka pada 2003, Borobudur Natural Herbal Industry mendirikan unit ekstraksi modern yaitu Borobudur Extraction Center (BEC).

BEC menggunakan teknologi modern buatan Jerman standart Eropa untuk menghasilkan ekstrak cair dan ekstrak kering (dikutip dari www.borobudurherbal.com).

Apa saja yang dibahas oleh masing-masing pembicara? Simak beritanya di www.herba-indonesia.com. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait