Prospek Swamedikasi Herbal di Era Digital Marketing
Tanggal Posting : Kamis, 20 Sepember 2018 | 07:19
Liputan : Redaksi - Dibaca : 38 Kali
Prospek Swamedikasi Herbal di Era Digital Marketing
Ragam produk herbal untuk swamedikasi yang diproduksi PT Dexa Medica

HerbaIndonesia.Com Akses Jamu/obat herbal kini semakin mudah dijangkau, ditengah era digital marketing. Namun, sejumlah aspek harus diperhatikan, agar pengobatan ‘mandiri’ Swamedikasi ini, tidak merugikan dan membahayakan kesehatan.

Mengingat Swamedikasi sudah menjadi bagian pola hidup masyarakat, maka Redaksi HerbaIndonesia.Com, ingin mengupasnya dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait.

Berkembangnya berbagai penyakit baru, juga ikut mendorong masyarakat dengan berbagai pertimbangannya untuk mencari alternatif pengobatan, yang efektif, efisien, termasuk dalam kaitannya dengan biaya yang dikeluarkan. Atas dasar itulah, maka praktek Swamedikasi semakin menjadi alternatif bagi masyarakat tatkala sakit.

Self medication (Pengobatan Sendiri) atau dikenal sebagai Swamedikasi menjadi alternative bagi masyarakat untuk meningkatkan kesehatan. Namun, harus waspada, sebab tindakan Swamedikasi dapat memicu terjadinya sejumlah kesalahan dalam pengobatan (medication error).

Hal ini, disebabkan oleh banyak faktor, seperti minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat terhadap Jamu/Obat Herbal yang diminumnya. Peran tenaga kesehatan, produsen Jamu/Obat Herbal untuk mencegah terjadinya hal di atas sangat menentukan.

Jika aspek informasi/pengetahuan dapat terpenuhi, maka masyarakat akan terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunaan obat yang salah (drug misuse).

Tentang Swamedikasi, telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Nomor 919, Menkes/Per/X/1993. Disebutkan bahwa Swamedikasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya, tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter.

Menurut WHO (1998), Swamedikasi adala pemilihan dan penggunaan obat-obatan oleh individu, termasuk obat herbal dan obat tradisional untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri. Sedangkan menurut Pharm World Sci. 2006, menyebutkan upaya seseorang untuk mengobati dirinya sendiri, dilakukan dengan menggunakan obat atas kemauan sendiri tanpa adanya panduan dari tenaga medis.

Swamedikasi sejatinya, jika dilakukan secara akurat akan memberikan kontribusi yang besar bagi pemerintah, khususnya dalam pemeliharaan kesehatan nasional.

Dalam Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KOTRANAS), disebutkan tujuan KOTRANAS adalah:

  1. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam dan ramuan tradisional secara berkelanjutan (sustainable use) untuk digunakan sebagai obat tradisional dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan.
  2. Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia secara lintas sektor agar mempunyai daya saing tinggi sebagai sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara yang berkelanjutan.
  3. Tersedianya obat tradisional yang terjamin mutu, khasiat dan keamanannya, teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal.
  4. Menjadikan obat tradisional sebagai komoditi unggul yang memberikan multi manfaat yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, memberikan peluang kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Dalam KOTRANAS juga diataur tentang Penggunaan yang Tepat Sasaran: Yaitu penggunaan obat tradisional dalam jumlah, jenis, bentuk sediaan, dosis, indikasi dan komposisi yang tepat disertai informasi yang benar, lengkap dan tidak menyesatkan.

Kecenderungan peningkatan penggunaan obat tradisional untuk pemeliharaan kesehatan dan penyembuhan penyakit harus didukung oleh pola penggunaan yang tepat. Upaya ini harus terus dilaksanakan, agar tujuan penggunaan obat tradisional dapat tercapai secara optimal.

Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu ditempuh langkah kebijakan sebagai berikut :

  1. Penyediaan informasi obat tradisional yang benar, lengkap dan tidak menyesatkan.
  2. Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk penggunaan obat tradisional secara tepat dan benar
  3. Penyusunan peraturan untuk menunjang penerapan berbagai langkah kebijakan penggunaan obat tradisional yang tepat
  4. Pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi untuk menunjang penggunaan obat tradisional yang tepat


Prospek Swamedikasi Obat Herbal

Di tengah terus berkembangnya praktek Swamedikasi, obat-obat herbal yang dapat digunakan juga terus mengalami perkembangan. Industri Jamu/Obat Tradisional terus mengembangkan produknya untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Bahkan, produk obat herbal selain untuk memenuhi kebutuhan Swamedikasi, juga dikembangkan dan diproduksi untuk dapat digunakan dipelayanan kesehatan formal yaitu di Rumah Sakit/Puskesmas.

Salah satu serangkaian produk untuk Swamedikasi dari bahan alam yaitu: HerbaKOF (Obat Batuk), HerbaVOMITZ (Obat Kembung dan Mual), HerbaCOLD (Obat Gejala Pilek dan Sakit Tenggorakan), HerbaPAIN (Obat Nyeri Kepala), Stimuno (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh) yang diproduksi oleh Dexa Medica.

Menurut Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Raymond Rubianto Tjandrawinata, Ph.D., M.S, MBA, produk obat herbal alami dari Dexa Medica memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk obat dari bahan kimia.

Raymond menambahkan, bahwa penemuan obat herbal oleh DLBS melalui serangkaian proses panjang, mulai dari survei pasar, merumuskan ide dan melakukan riset, uji pra klinis, hingga uji klinis, serta mematenkan hasil temuannya di Indonesia dan di dunia Internasional.

"Prospek pasar obat herbal, saya prediksi akan terus meningkat dimasa-masa yang akan datang, seiring dengan semakin luasnya informasi dan pengetahuan yang diperoleh oleh masyarakat," katanya kepada Redaksi HerbaIndonesia.Com belum lama ini.


Kolom Komentar
Berita Terkait