Potensi Obat Alam Indonesia: Genetic Resources, Traditional Knowledge, Herbal Medicine Product
Tanggal Posting : Senin, 8 Oktober 2018 | 08:58
Liputan : Redaksi - Dibaca : 26 Kali
Potensi Obat Alam Indonesia: Genetic Resources, Traditional Knowledge, Herbal Medicine Product
Dra.Mayagustina Andarini,Apt.,M.Sc.(BPOM), dr.Ina Rosalina,Sp.A(K),M.Kes.,M.HKes.(Kemenkes), dan Irwan Hidayat (Sido Muncul) saat seminar Herbal di Fak. Kedokteran Unsrat, Manado, 6 Oktober 2018.

HerbaIndonesia.Com. Potensi obat bahan alam Indonesia dapat dibedah dengan tiga sisi pendekatan yaitu: dari sisi Genetic Resources, Traditional Knowledge, dan Herbal Medicine Product. Potensi ini seharusnya dijadikan keunggulan daya saing Indonesia di pentas dunia.

Hal tesebut mengemuka pada seminar bertajuk "Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat", pada 6 Oktober 2018 di Auditorium Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado yang dilaksanakan oleh PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Unsrat.

Seminar berlangsung dua sesi, menampilkan: Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc., Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI., dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes., M.HKes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes RI., dan Irwan Hidayat, Direktur Utama PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul.

Mayagustina Andarini pada kesempatan tersebut menyampaikan makalah berjudul ‘Kebijakan Pengawasan Obat Tradisional untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa’. Dengan tiga pokok bahasan: Potensi Obat Bahan Alam Indonesia, Sistem Pengawasan Obat dan Makanan, Kebijakan terkait Registrasi Obat Tradisional.

"Potensi Bahan Alam dapat ditinjau dalam beberapa aspek yaitu: Genetic Resources, Traditional Knowledge, Herbal Medicine Product," urai Mayagustina Andarini sebagaimana dalam makalah seminar yang disampaikan kepada Redaksi JamuDigital.Com, pada 7 Oktober 2018.

Dari aspek GENETIC RESOURCES, yaitu Keanekaragaman hayati Indonesia > 30.000 spesies tanaman, menempatkan Indonesia sebagai negara Mega Biodiversitas- ke 5 dunia LIPI, 2015).

Dari aspek TRADITIONAL KNOWLEDGE, yaitu berdasarkan Ristoja menghimpun informasi RAMUAN 25.821, TUMBUHAN OBAT 2.670 SPESIES tersebar pada: 303 etnis di 24 propinsi- Laporan Ristoja B2P2TOOT, 2015)

Dari aspek HERBAL MEDICINE PRODUCTS, jumlah NIE obat tradisional sampai dengan September 2018 sebanyak 10.688- Database Badan POM). < 5.000 simplisia telah digunakan dalam produk obat tradisional

Mayagustina Andarini juga mengupas tentang Pendekatan potensi berdasarkan obat bahan alam: Pangan, Empiris pengobatan tradisional. Bahan Alam: Tumbuhan, Hewan, Mikroba, Biota Laut, Mineral. Simplisia; Pengolahan pascapanen

Pendekatan potensi berdasarkan studi saintifik (Farmakologi, Fitokimia): Ekstrak (ekstraksi), Fraksi (Ekstraksi dan Fraksinasi), Fraksi Bioaktif (Fraksinasi dan Skrining molekuler), Senyawa Aktif (Fraksinasi, isolasi dan sintesis) yaitu New Chemical Entities.

Dalam obat konvensional, 50-60% produk farmaseutikal mengandung bahan alam atau hasil sintesisnya; 10-25% obat resep mengandung 1 atau lebih kandungan dari bahan alam tumbuhan. (Sumber: Cameron et al. Linking medicinal/nutraceutical products research with commercialization. Pharm Biol 2005;43:425-433.)

Mayagustina Andarini juga menjelaskan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035, dengan Visi : Indonesia Menjadi Negara Industri Tangguh. Industri Andalan: Pangan, Farmasi, Kosmetik, Alat Kesehatan, Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka, Alat Transportasi, Elektronika & Telematika, Pembangkit Energi.

Industri Pendukung: Industri Barang Modal, Komponen, Bahan Penolong, dan Jasa Industri. Industri Hulu: Industri Hulu Argo, Industri Logam Dasar & Bahan Galian bukan Logam, Basic Industri Kimia Dasar Berbasis Migas & Batu-bara.

Modal Dasar: Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Teknologi, Inovasi, Kreativitas. Prasyaratan: Infrastruktur, Kebijakan & Teknologi, Pembiayaan.

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Kepala Badan POM ditugaskan untuk:

  • Memfasilitasi pengembangan obat dalam rangka mendukung akses dan ketersediaan obat untuk masyarakat sebagai upaya peningkatan pelayanan kesehatan dalam rangka Jaminan Kesejatan
    Nasional;
  • Mendukung investasi pada sektor industri farmasi dan alat kesehatan melalui fasilitasi dalam proses sertifikasi fasilitas produksi dan penilaian atau evaluasi obat; dan
  • Mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan standar dalam rangka menjamin keamanan mutu dan khasiat serta meningkatkan daya saing industri farmasi.

Prioritas BPOM sejalan dengan rencana aksi tindak lanjut Inpres 6/2016, yaitu: Pengembangan bahan baku obat, produk biologi, dan fitofarmaka.

Sedangkan Instruksi Presiden No. 3 tahun 2017 tentang Peningkatan Efektivitas Pengawasan Obat dan Makanan, Kepala Badan POM ditugaskan untuk :

  • Menyusun dan menyempurnakan regulasi terkait pengawasan obat dan makanan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
  • Melakukan sinergi dalam menyusun dan menyempurnakan tata kelola dan bisnis proses pengawasan obat dan makanan
  • Mengembangkan sistem pengawasan obat dan makanan
  • Menyusun pedoman untuk peningkatan efektivitas pengawasan obat dan makanan
  • Melakukan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengawasan obat dan makanan
  • Mengoordinasikan pelaksanaan pengawasan obat dan makanan dengan instansi terkait

Peran strategis obat bahan alam adalah sebagai berikut:

  • Teknologi: Mendukung perkembangan dan peningkatan penguasaan teknologi, khususnya di bidang obat bahan alam/obat tradisional
  • Kesehatan: Meningkatkan taraf kesehatan masyarakat
  • Paradigma: jamu mudah diperoleh, murah dan minimal menimbulkan efek samping
  • Ekonomi: Industri padat karya, salah satu penggerak roda ekonomi di Indonesia
  • Profil industri obat tradisional Indonesia: 87,2% adalah UMKM
  • Sosial & Budaya: Bukti kearifan lokal warisan budaya bangsa Indonesia
  • Mendukung kesetaraan gender

Berdasarkan Keputusan KBPOM No. HK.00.05.4.2411 tahun 2004 Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, sebagai berikut:

  • Jamu: Bukti pendukung berasal dari bukti empiris (>9000 produk),
  • Obat Herbal Terstandar: Berasal dari jamu Keamanan dan khasiat dibuktikan secara ilmiah melalui uji pra-klinik (toksisitas & farmakodinamik) Bahan baku & produk jadi terstandar, Sertifikat CPOTB, Mutu Produk (62 produk)
  • Fitofarmaka; Keamanan dan khasiat dibuktikan secara ilmiah melalui uji klinik, Bahan baku & produk jadi terstandar, Sertifikat CPOTB, Uji pra-klinik (toksisitas & farmakodinamik), Mutu produk (21 produk). Pada OHT dan Fitofaramaka berdasarkan Evidence based.

Sementara itu, Irwan Hidayat menjelaskan bahwa seminar ini merupakan seminar yang ke-42, sejak dilaksanakan tahun 2007, bekerjasama dengan para dokter dan apoteker untuk membuka paradigma berpikir tentang obat herbal.

Irwan berharap melalui seminar herbal ini, para akademisi kedokteran terus terdorong melakukan penelitian tanaman obat secara ilmiah. "Kami ingin dunia kedokteran mendapat wawasan mengenai industri jamu, penelitian yang kami lakukan untuk mengembangkan produk, dan penggunaan jamu untuk pelayanan kesehatan." ujarnya. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait