Phapros Listed di Bursa Efek Indonesia, Ditengah Kinerja yang Bertumbuh
Tanggal Posting : Senin, 7 Januari 2019 | 06:34
Liputan : Redaksi - Dibaca : 187 Kali
Phapros Listed di Bursa Efek Indonesia, Ditengah Kinerja yang Bertumbuh
Foto: Phapros Listed di Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 26 Desember 2018, di Indonesia Stock Exchange Building, Jakarta.

HerbaIndonesia.Com. PT. Phapros, Tbk. resmi listed di Bursa Efek Indonesia (BEI), ditengah kinerjanya yang terus bertumbuh. Berdasarkan laporan keuangan audit per September 2018, kinerja perseroan mengalami pertumbuhan yang signifikan dengan raihan pendapatan sebesar Rp.697 miliar atau meningkat 8,8% dibanding pendapatan periode yang sama pada tahun lalu.

Sedangkan di sisi laba bersih mengalami pertumbuhan yang jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 33,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Per September 2018, Phapros telah membukukan laba sebesar Rp. 96 miliar. Hal ini sesuai dengan harapan Komisaris dan Direksi untuk growing double digit. Demikian penjelasan Direktur Utama PT. Phapros, Tbk., Dra. Barokah Sri Utami, Apt., MM. dalam siaran persnya yang diterima oleh Redaksi JamuDigital.Com, Kamis, 27 Desember 2018.

Kini, saham Phapros diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aksi korporasi dari Anak Perusahaan BUMN PT. Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) tersebut, ditandai dengan penyerahan Sertifikat Pencatatan Saham oleh Direktur Utama PT. BEI, Inarno Djajadi, kepada Direktur Utama Phapros, Barokah Sri Utami, pada Rabu, 26 Desember 2018, di Indonesia Stock Exchange Building, Jakarta.

Menurut Barokah Sri Utami- yang akrab disapa Emmy, sebelumnya Phapros adalah perusahaan Tbk. non listed, di mana saham Phapros belum tercatatkan di Bursa Efek Indonesia. Sehingga mekanisme jual beli saham selama ini melalui pasar konvensional.

"Hal tersebut mengakibatkan harga saham tidak memiliki standar dan patokan yang jelas. Dengan pencatatan saham di BEI harga saham Phapros kini terstandarisasi," ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Direktur Utama RNI, B. Didik Prasetyo mengatakan bahwa aksi korporasi ini merupakan bagian dari langkah strategis yang ditempuh perseroan untuk mengetahui nilai wajar saham perusahaan yang dapat dilihat setiap saat (real time).

"Selain itu, hal ini juga menjadi peluang agar kedepannya Phapros dapat membuka akses kepada sumber pendanaan pasar modal yang lebih menguntungkan," ujarnya.

Komisaris Utama Phapros, Y. Nanang Marjianto pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa pencatatan di BEI dapat meningkatkan penerapan GCG terutama dalam sisi transparansi dan akuntabilitas publik, selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan citra perusahaan kedepan.

"Dengan penerapan GCG yang lebih baik serta didukung citra perusahaan yang meningkat diharapkan perseroan mendapat manfaat dari sisi pendanaan pasar modal yang signifikan sehingga mampu menunjang pengembangan bisnis yang telah dipersiapkan," ungkapnya.

Sebelumnya, emiten berkode saham PEHA ini, juga telah mengembangkan bisnis anorganiknya dengan mengakuisisi perusahaan farmasi PT Lucas Djaja yang berlokasi di Bandung, sehingga kapasitas produksi yang dimiliki oleh Phapros meningkat signifikan.

Sekilas tentang Korporasi

PT Phapros, Tbk adalah salah satu perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia yang didirikan sejak 21 Juni 1954. Dengan komposisi saham sebesar 56.57% dimiliki oleh PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), sedangkan sisanya dimiliki oleh publik.

Sebagai perusahaan yang sangat berkomitmen tinggi terhadap standar kualitas, Phapros telah mendapatkan sertifikasi CPOB sejak tahun 1990 serta sertifikat ISO 9001 pada 1999 (yang telah ditingkatkan menjadi Sertifikat ISO 9001 versi 2008), Sertifikat ISO 14001 pada 2001 (yang telah ditingkatkan menjadi ISO 14001:2004), Sertifikat OHSAS 18001:2007 pada 2010, dan Sertifikat ISO 17025 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk Laboratorium Kalibrasi.

Saat ini Phapros memproduksi lebih dari 250 item obat, diantaranya adalah obat hasil pengembangan sendiri dan salah satu produk unggulan Phapros yang menjadi pemimpin pasar di katagorinya adalah Antimo.

Semoga Phapros semakin intensif memproduksi obat herbal asli Indonesia, setelah sahamnya listed di BEI. Potensi herbal Indonesia harus terus dikembangkan, agar kekayaan biodiversitas Indonesia dapat dimanfaatkan untuk kesehatan bangsa. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait