Penjelasan Kemenkes, Tentang Tanaman Bajakah
Tanggal Posting : Selasa, 20 Agustus 2019 | 12:51
Liputan : Redaksi - Dibaca : 50 Kali
Penjelasan Kemenkes, Tentang Tanaman Bajakah
Kepala B2P2TOOT, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Kesehatan RI., Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mengupas Tanaman Bajakah.

HerbaIndonesia.Com. Beberapa hari terakhir beredar informasi tentang tanaman Bajakah di Kalimantan Tengah yang dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara.

Bajakah sebenarnya adalah sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman Bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu. Kementerian Kesehatan akan segera melakukan penelusuran tanaman bajakah yang telah diteliti oleh dua pelajar SMA di Palangka Raya.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Kesehatan RI., Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung percaya terhadap klaim bajakah bisa menyembuhkan penyakit kanker karena masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Penyembuhan kanker secara kuratif harus melalui penegakkan diagnosis dokter. Penggunaan obat tradisional atau jamu untuk menguatkan daya tahan tubuh boleh saja. Namun tidak bisa dikatakan itu menyembuhkan kanker," jelas Saikhu di Jakarta, 15 Agustus 2018, sebagaimana disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

Indonesia memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia yang menyimpan potensi tumbuhan berkhasiat untuk kesehatan, salah satunya untuk pengobatan kanker. Melalui Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja), Badan Litbangkes membangun database pengetahuan etnofarmakologi, ramuan obat tradisional, dan tumbuhan obat di Indonesia.

Ristoja telah dilakukan pada 405 etnis di 34 provinsi di Indonesia pada tahun 2012, 2015 dan 2017. Ristoja yang melibatkan 2.170 peneliti dan 2.354 pengobat tradisional telah berhasil mengidentifikasi 2.848 spesies tumbuhan obat dan 32.014 ramuan.

Ada 74 kelompok kegunaan ramuan yang berhasil tercatat dari Ristoja. Selain itu, terdapat 10 keluhan atau penyakit terbanyak yang ditemukan dalam riset ini, yaitu demam, sakit perut, sakit kulit, luka terbuka, mencret, batuk, tumor/kanker, darah tinggi, kencing manis dan cidera tulang. Tumor/kanker termasuk satu dari 10 besar penyakit yang ditangani dengan tanaman obat/obat tradisional atau jamu.

Menurut Akhmad Saikhu pada tahun 2012 Ristoja berhasil menginventarisasi sebanyak 506 ramuan jamu untuk pengobatan tumor/kanker yang menggunakan tumbuhan obat tertentu. Sebagai contoh tumbuhan malapari di Bengkulu yang memiliki nama latin Pongamia pinnata dan alang-alang (Imperata cylindrica (L.)Raeusch.) di Sulawesi Tengah, maupun samama (Anthocephalus chinensis (Lam.) Rich.ex Walp.) di Maluku Utara.

"Pada tahun 2015, Ristoja juga mendapatkan informasi tumbuhan obat yang digunakan dalam ramuan untuk tumor/kanker yaitu Curcuma longa L., Annona muricata L., Morinda citrifolia L., Piper betle L., Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees, Scurrula ferruginea (Jack) Danser, Curcuma zanthorrhiza Roxb., dan Scurrula atropurpurea (Blume) Danser", jelasnya.

Ristoja yang dilakukan pada tahun 2017 juga menemukan tumbuhan obat yang berpotensi untuk mengatasi kanker. Tercatat ada 223 ramuan kanker yang terdiri atas 244 tumbuhan obat. Sepuluh jenis tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan untuk pengobatan tumor/kanker temuan Ristoja 2017 yaitu Curcuma longa L., Annona muricata L., Zingiber officinale Roscoe, Areca catechu L. , Allium cepa L. , Allium sativum L., Callicarpa longifolia Lam., Mimosa pudica L., Alstonia scholaris (L.) R. Br., dan Blumea balsamifera (L.) DC.

Jamu atau obat tradisional digunakan berdasarkan konsep kepercayaan secara turun temurun yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penggunaan secara empiris ini belum bisa digunakan sebagai acuan dalam pemanfaatan tumbuhan obat atau jamu secara luas di masyarakat. Untuk itu, Badan Litbangkes melalui program Saintifikasi Jamu melakukan pembuktian secara ilmiah khasiat berbagai tanaman obat ini.

Tumbuhan obat dan jamu untuk dapat digunakan kepada pasien dalam upaya kuratif, membutuhkan rangkaian penelitian yang dimulai dari standarisasi tanaman untuk menjadi bahan baku yang bermutu dan aman, dilanjutkan dengan uji pra-klinik pada hewan coba, dan kemudian uji klinik pada manusia melalui fase 1 sampai dengan fase 4.

Analisis lanjut hasil Ristoja terhadap formula jamu untuk tumor/kanker, pada tahun 2018 dilakukan skrining in-vitro terhadap tanaman obat maupun formula jamu yang dimanfaatkan untuk tumor dan antikanker. Dari hasil pengujian terhadap beberapa sel kanker (sel kanker payudara, sel kanker kolon, dan sel kanker serviks) diketahui bahwa ada beberapa tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker, antara lain Mikania micrantha Kunth, Leucas lavandulifolia Sm., Callicarpa longifolia Lam., Calophyllum inophyllum L., Tetracera scandens (L.) Merr., dan akar batu/aikabasa (Cucurbitaceae).

Terkait dengan hal ini, Yuli Widiyastuti, Peneliti di Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu memberikan penjelasan bahwa sama seperti bajakah yang ditemukan siswa SMA untuk mengatasi kanker, Aikabasa merupakan akar tanaman menjalar yang telah digunakan secara turun temurun untuk mengatasi kanker. Aikabasa digunakan oleh salah satu suku di Nusa Tenggara Timur untuk mengatasi tumor/kanker dan sampai saat ini belum berhasil diidentifikasi sampai level spesies. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait