Penjelasan Badan POM, Tentang Riset Tanaman Bajakah
Tanggal Posting : Selasa, 20 Agustus 2019 | 12:54
Liputan : Redaksi - Dibaca : 49 Kali
Penjelasan Badan POM, Tentang Riset Tanaman Bajakah
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Badan POM, Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc. pada saat Talkshow di Kompas TV, Sabtu malam, 17 Agustus 2019.

HerbaIndonesia.Com. Masyarakat beberapa hari terakhir ini ramai memperbincangkan pemberitaan tentang tanaman Bajakah di Kalimantan Tengah yang dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara. Adalah pelajar SMA di Palangkaraya yang melakukan penelitian tersebut.

Bajakah adalah sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman Bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu. Untuk itu, Kementerian Kesehatan akan segera melakukan penelusuran tanaman bajakah yang telah diteliti oleh pelajar SMA di Palangkaraya tersebut.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Badan POM, Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc. pada saat Talkshow di Kompas TV, Sabtu malam, 17 Agustus 2019 bertajuk "Jalan Panjang Bajakah Jadi Obat Kanker" mengatakan bahwa pada prinsipnya sangat mungkin ada temuan herbal baru. "Ada khasiat yang mungkin waktu itu belum teridentifikasi secara empiris. Kalau seperti Jahe, Kunyit- misalnya, jamu-jamuan itu sudah secara empiris dari nenek moyang kita. Kemudian ada temuan baru, suatu tanaman baru yang ditemukan dan berkhasiat untuk suatu penyakit, uangkapnya saat menjawab pertanyaan host Program Sapa Indonesia Kompas TV.

Mayagustina Andarini menambahkan suatu hasil temuan penelitian dari pelajar SMA Palangkaraya ini cukup bagus. Akan tetapi, selanjutnya harus mengikuti pedoman penelitian yang sudah ada- seperti uji praklinis dan uji klinis. Kemudian setelah itu baru dapat dinyatakan bahwa secara evidence based tumbuhan tersebut dapat menyembuhkan suatu penyakit.

"Jadi menurut kami, ruang gerak riset untuk obat-obat bahan alam masih sangat banyak. Saat ini, baru ada 23 nomor izin edar Fitofarmaka. Fitofarmaka adalah produk herbal yang sudah uji klinis kepada manusia. Kalau jamu itu adalah empiris- karena itu turun-temurun, kita tidak perlu uji klinis, karena itu diketahui dari nenek moyang, dari kitab-kitab kuno seperti kitab Centini," urai Mayagustina Andarini menegaskan.

Menurut Badan POM, tentang tanaman Bajakah, harus menunggu dulu keputusan hasil dari penelitian yang komprehensif. Karena penelitian itu masih pada tahap penelitian awal. Dan untuk pengobatan Kanker harus diputuskan oleh dokter dan jangan memutuskan sendiri. Lebih baik untuk penderita Kanker berkonsultasi kepada dokter.

Sementara itu, narasumber lainnya pada talkshow tersebut adalah dr. Irmansyah, SpKJ (K), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI. mengatakan riset dari pejar SMA Palangkaraya tersebut bermanfaat untuk kita, bahwa tanaman lain punya potensi untuk pengobatan kanker. Tahapan yang tadi disebutkan tadi sangat panjang, karena tentu juga tidak sembarangan juga sesuatu zat yang sudah terbukti pada mencit atau binatang lain itu dapat langsung dipakai kepada manusia.

"Kita belum tahu zat apa yang terkandung dalam Bajakah, dan kita juga belum pasti karena banyak sekali jenisnya. Kita juga harus meneliti lagi lebih lanjut zat yang terkandung pada Bajakah. Kita juga belum tahu Bajakah mana yang diujikan pada mencit itu," jelas dr. Irmansyah.

Kita harus mencoba uji toksisitas dan kita harus menguji zat tersebut sampai pada tahap apakah berbahaya atau tidak, baru nanti diujikan kepada manusia pada tahap berikutnya. Terkadang ditahapan awal banyak juga yang berguguran riset tersebut, Irmansyah menambahkan.

Kemenkes akan menelusuri tanaman Bajakah. Satu tim sudah diinstruksikan berangkat untuk meneliti tanaman tersebut. Kita harus tahu jenisnya, spesiesnya, kandungannya apa. Kemenkes sudah melakukan riset etnomedisin tanaman obat dan jamu, dan menemukan hampir 3.000 tanaman yang mempunyai potensi obat. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait