Pengembangan Fitofarmaka Harus Perhatikan Health Technology Assessment
Tanggal Posting : Selasa, 25 Desember 2018 | 11:23
Liputan : Redaksi - Dibaca : 159 Kali
Pengembangan Fitofarmaka Harus Perhatikan Health Technology Assessment
Direktur Utama PT. Phapros, Tbk. Dra. Barokah Sri Utami, Apt.MM. (Ketiga dari Kanan) bersama Pembicara lainnya pada The First Meeting of the Heads of NMRAs-OIC, Selasa, 20 November 2018, di Jakarta.

HerbaIndonesia.Com Pengembangan obat Fitofarmaka harus mempertimbangkan sejumlah aspek agar memiliki keunggulan yaitu: aspek keamanan, aspek biaya dan aspek efektivitas klinis dengan menggunakan Health Technology Assessment (HTA).

Demikian antara lain kesimpulan yang disampaikan oleh Direktur Utama PT. Phapros, Tbk., Dra. Barokah Sri Utami, Apt., MM. saat presentasi pada The First Meeting of the Heads of National Medicine Regulatory Authorities (NMRAs) From the Organization of Islamic Cooperation (OIC) Member States, Selasa, 20 November 2018, di Jakarta.

Membawakan makalah berjudul "Phytopharmaca for Future Medication", outline paparan yang dikupas membahas tentang: Herbal Medicine Market, Strategic Issues, Challenges and Opportunities, National Consortium, Conclusion.

Di awal presentasinya, dijelaskan tentang Roadmap Pharmaceutical Industry In Indonesia. Juga peran produk herbal/Jamu dalam program gerakan hidup sehat melalui GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), diatur melalui Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1/ Tahun 2017.

Ada enam Gerakan Hidup Sehat, yaitu: Meningkatkan aktivitas fisik, Meningkatkan gaya hidup sehat, Pemberian makanan sehat dan bergizi, Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, Meningkatkan kualitas lingkungan, Mendidik gaya hidup sehat.

Dengan langkah-langkah tersebut diatas, diharapkan tingkat kesehatan masyarakat meningkat sehingga akan mengurangi biaya asuransi jaminan kesehatan universal (BPJS/UHC). Produk herbal/Jamu berpotensi mendukung Germas melalui tindakan promotif dan preventif.

Kebijaksanaan Nasional pengembangan obat herbal, memiliki sejumlah tantangan, antara lain:

  • Identitas obat herbal,
  • Ketersediaan Bahan Baku (standar dan kualitas),
  • Variasi geografis/budidaya tanaman obat, pemanenan, pengeringan, penghalusan, metode penyimpanan (yang dapat mempengaruhi senyawa aktif), Kontaminasi dengan logam berat, pestisida, mikroorganisme, toksin,
  • Masih rendahnya penerimaan dokter medis, dan petugas kesehatan lainnya, juga pasien,
  • Analisis biaya: pasien lebih memilih berobat ke Puskesmas, dari pada melakukan pengobatan sendiri menggunakan herbal.

Adapun peluangnya antara lain, sebagai berikut:

  • Indonesia sebagai mega diversity spesies biologis dan mega center keanekaragaman hayati dunia (hampir 30.000 tanaman obat herbal),
  • Obat herbal Indonesia sudah digunakan berdasarkan praktik empiris ratusan tahun lalu untuk berbagai tujuan: pencegahan (48,9%), promosi kesehatan (22,47%), kuratif (21,78%), dan untuk kosmetik,
  • Perubahan gaya hidup back to nature,
  • Departemen Kesehatan merilis FOTRANAS tahun 2016.

Pada kesempatan ini, Barokah Sri Utami juga membas secara singkat tentang Health Technology Assessment. HTA dikenalkan pertama kali oleh Prof. David Banta (Office of Technology Assessment- OTA) Amerika Serikat, kemudian menyusun menjadi metode HTA.

International Network of Agencies for Health Technology Assessment (INAHTA) mendefinisikan penilaian teknologi kesehatan sebagai intervensi yang digunakan untuk mempromosikan, mencegah, mendiagnosis, mengobati penyakit, dan rehabilitasi.

HTA melakukan evaluasi sistematis atas material dan efek teknologi, mengatasi efek langsung dan tidak langsung, serta pengambilan keputusan terkait teknologi kesehatan yang meliputi obat, alat kesehatan, prosedur, dan sistem organisasi dalam pelayanan kesehatan.

HTA menggunakan pendekatan berbasis bukti, analisis ekonomi, sosial, dan etika. Ketika membahas HTA, kita membahas mengenai penilaian atas teknologi kesehatan yang digunakan dalam pelayanan kesehatan.

WHO mempertimbangkan HTA sebagai cara untuk memperkuat seleksi berbasis bukti, pemanfaatan teknologi kesehatan secara rasional, dan meningkatkan efisiensi teknologi, ketika diperkenalkan dan digunakan dalam pelayanan kesehatan.

WHO mendorong negara-negara anggotanya melakukan HTA untuk mendukung Universal Health Coverage (UHC).

Dalam pengembangan Fitofarmaka perlu sinergi ABCG, dukungan akselerasi untuk melaksanakan hasil Konsorsium Nasional Pengembangan Fitofarmaka.

Berikut ini, kesimpulan untuk pengembangan Fitofarmaka:

  • Perlu lebih banyak investasi untuk mengembangkan produk Fitofarmaka,
  • Perlu dukungan dan komitmen dari semua pemangku kepentingan dalam menggunakan produk Fitofarmaka secara berkelanjutan,
  • Perlunya komunikasi publik, edukasi dan sosialisasi karena sangat menentukan keberhasilan produk Fitofarmaka,
  • Pengembangan Fitofarmaka harus mempertimbangkan aspek keamanan, biaya dan efektivitas klinis menggunakan Health Technology Assessment (HTA),
  • Perlu disiapkan Badan Logistik Nasional Bahan Baku Herbal untuk menjamin ketersediaan bahan baku herbal.

PT. Phapros, Tbk memiliki dua produk Fitofarmaka, yaitu:

  • X-Gra. Komposisi: Ganoderma Lucidum Extract 150 mg; Eurycomae Radix Extract 50 mg, Ginseng Extract 30 mg, Retrofracti Fructus Extract 2,5 mg, Royal jelly 5 mg. Indikasi: Untuk disfungsi ereksi dengan atau tanpa ejakulasi dini.
  • Tensigard. Komposisi: Apii Herba Extract 92 mg, Orthosiphon Folium Extract 28 mg. Indikasi: Menurunkan dan menstabilkan Tekanan Darah. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait