Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Dukung Jamu Indonesia
Tanggal Posting : Kamis, 21 Juni 2018 | 10:38
Liputan : Redaksi - Dibaca : 283 Kali
Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Dukung Jamu Indonesia
Dirut Gujati 59, Agung Shusena dan Founder PharmaONEBRAND, Karyanto Diskusi Ekonomi Kerakyatan untuk Pengembangan Jamu Indonesia

HerbaIndonesia.Com Pemberdayaan ekonomi kerakyatan untuk mendukung pengembangan produk Jamu Indonesia memiliki peran strategis dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan penguatan ekonomi nasional.

Produsen Jamu nasional sangat tergantung adanya ketersediaan bahan baku tanaman obat yang menjadi bahan utama pembuatan Jamu. Pengembangan Jamu Indonesia tidak terpisahkan dengan upaya yang sistematis dan strategis: yaitu penyediaan bahan baku jamu yang berkesinambungan dan dengan mutu yang baik. Pola pikir strategis dari hulu hingga hilir untuk pengembangan jamu, harus menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Inilah salah satu topik hangat yang diperbincangkan oleh Direktur Utama Gujati 59, Ir. A. Agung Shusena, Produsen Jamu- yang sudah terkenal di kawasan Sukoharjo, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah dengan Founder PharmaONEBRAND, Karyanto di Taman Djamoe Gujati 59, yang terletak disamping pabrik Jamu Gujati 59, pada Rabu, 20 Juni 2018.

"Kami mengajak warga sekitar pabrik untuk menanam TOGA, bahkan beberapa bibit TOGA kami sediakan untuk warga, agar mereka menanamnya di halaman sekitar rumah. Dan setelah panen, tanaman obat tersebut kami beli. Ini salah satu bentuk model pemberdayaan warga disekitar pabrik," urai Agung Shusena sambil keliling Taman Djamoe Gujati 59.

Insya Allah, lanjut Agung Sushena, di Taman Djamoe ini, akan kami tanam sekitar 700 jenis tanaman obat. Saat ini sudah ada sekitar 200 jenis tanaman obat. Beberapa bibit tanaman obat ini, kami bagikan ke warga, kemudian warga membudidayakannya, setelah dipanen, kami akan membelinya.

Keberadaan Taman Djamoe Gujati 59, kini sudah lebih dari satu tahun. Tepatnya diresmikan pada Rabu, 17 Mei 2017, oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, SH MH didampingi Dirut Gujati 59, Ir. A. Agung Shusena, turut hadir artis tiga zaman Pong Hardjatmo.

Selain untuk pemberdayaan ekonomi, Taman Djamoe ini bertujuan untuk melengkapi sarana pembelajaran bagi para tamu Gujati 59 yang berkunjung ke pabrik, untuk melihat proses pembuatan jamu, terutama pihak institusi penelitian, Ibu-ibu PKK, mahasiswa perguruan tinggi dan siswa sekolah yang peduli dengan keberadaan obat tradisional.

Agar program ini, mendapat respon lebih luas, Agung Shusena menjelaskan bahwa pihak Gujati 59 mempelopori Program Kampung TOGA di Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Program ini, diresmikan pada 30 April 2018 oleh Ibu Bupati Sukoharjo, Hj. Etty Suryani Wardoyo Wijaya.

Diharapkan Desa Gupit menjadi salah satu percontohan Kampung TOGA. Program Kampung TOGA ini bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan disekitar rumahnya untuk dimanfaatkan sebagai taman TOGA, atau menanamnya di polybag.

"Gerakan menanam TOGA antara warga Desa Gupit dan PT. Gujati diharapkan menjadi simbiosis mutualisme. Hasil panen TOGA dibeli oleh Perusahaan, sehingga akan meningkatkan perekonomian warga Gupit," urai Agung Sushena.

Program TOGA ini, semoga terus berkembang, tidak hanya di Desa Gupit, ke depan dapat diikuti oleh Desa-Desa lain, di Kecamatan Nguter. Bahkan model seperti ini, dapat menjadi strategi pengembangan Jamu berbasis pemberdayaan ekonomi kerakyatan secara nasional. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait