Pasar Jamu Nguter, Saksi Langgengnya Budaya Minum Jamu
Tanggal Posting : Jumat, 22 Juni 2018 | 06:59
Liputan : Redaksi - Dibaca : 415 Kali
Pasar Jamu Nguter, Saksi Langgengnya Budaya Minum Jamu
Suwarsi Moertedjo,Ketua Koperasi Jamu Indonesia (dua dari kiri), Founder PharmaONEBRAND, Karyanto, Mbah Yatmi, dan Putrinya, Penjual Jamu di Pasar Jamu Nguter

HerbaIndonesia.Com. Sejarah panjang tradisi minum Jamu- budaya masyarakat Indonesia, yang tiada henti dilanggengkan dengan berbagai upaya. Adalah Desa Nguter di Sukoharjo, Jawa Tengah, satu daerah -yang secara konsisten mengembangkan Jamu sebagai elemen penting menyehatkan warga setempat.

"Saya menjual Jamu dan peralatan Jamu Gendong sejak tahun 1965," ujar Mbah Yatmi (75 tahun) yang kini masih aktif menjual Jamu dan Peralatan Jamu Gendong di Pasar Jamu Nguter, saat berbincang dengan Redaksi HerbalIndonesia.Com. pada Rabu siang, 20 Juni 2018, di depan Kiosnya.

Mbah Yatmi memiliki dua kios di Pasar Jamu Nguter, satu kios untuk berjualan peralatan Jamu Gendong, dan satu kios lagi yang dikelola oleh putrinya- yang lokasinya berdekatan, untuk berjualan aneka Jamu.

"Ya jualannya dulu sempat pindah-pindah mas. Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi, sejak dibangun Pasar Jamu Nguter ini," ujarnya sumringah disela-sela melayani Redaksi HerbaIndonesia.Com membeli seperangkat peralatan Jamu Gendong (Tenggok, Botol-Botol, dan Caping-Topi dari anyaman Bambu), didampingi Suwarsi Moertedjo (Ketua Koperasi Jamu Indonesia-KOJAI).

Jika musim lebaran- seperti saat ini, penjualan Jamu meningkat, alhamdulillah.., Moertedjo menambahkan, sambil mengajak keliling di lantai 1 Pasar Jamu Nguter yang semua kiosnya terisi penuh oleh para penjual Jamu.

Desa Nguter adalah Sentra Jamu, sebab disekitar lokasi Pasar Jamu Nguter, terdapat sejumlah produsen Jamu. Gujati 59- lokasi pabriknya sekitar 3 Km dari Pasar Jamu Nguter. Kemudian ada lagi pabrik Jamu, antara lain: Sabdo Palon, Bisma Sehat, dan Podang Mas.

Keberadaan Mbah Yatmi dan teman-temannya- yang masih eksis bejualan Jamu adalah saksi sejarah, betapa masyarakat yang kini sudah berada di era digital, tetap tidak bergeming untuk melestarikan warisan budaya hidup sehat dengan minum Jamu.

Eksistensi Jamu asli warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini, perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari semua stakeholders Jamu Indonesia.

Sehingga keberadaan Jamu semakin kokoh, sebagai bagian dari pengobatan komplementer, yang secara harmonis bersanding sejajar dengan pengobatan konvensional.

"Untuk mengembangkan Jamu Indonesia harus dengan strategi pengembangan dari hulu hingga ke hilir. Semua pihak yang terkait memang harus terlibat," kata Direktur Utama Gujati 59, Agung Shusena saat berbincang dengan Redaksi HerbaIndonesia.Com di Kantor Pabrik Jamunya, di Nguter, Rabu, 20 Juni 2018.

Nguter Melestarikan Budaya Jamu Indonesia
Artikel yang cukup lengkap tentang sejarah Pasar Jamu Nguter ditulis oleh WonderfulSolo, dimuat di situs internet (https://wonderfulsolo.com/pasar-jamu-nguter-sukoharjo-sentra-ramuan-sehat-tradisional-di-solo/).

Berikut ini, artikel tersebut:

Percaya gak kalau dahulu mulanya penjual jamu itu justru laki-laki? Pengen tahu ceritanya "Mas, jamune maas...!" Memang sih, sebagian besar orang menganggap jamu lekat dengan mbok-mbok bakul jamu gendong. Penjualnya identik dengan seorang perempuan.

Dahulu, saat kemudahan akses ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan tak menjangkau ke pelosok desa, masyarakat lebih mempercayakan kesehatannya pada ‘orang pintar’ atau ‘dukun’.

Lewat tangan merekalah, beberapa ramuan tradisional didistribusikan dan dibarter dengan bahan makanan lain melalui seorang laki-laki. Lalu, gimana ceritanya bisa sampai jadi Jamu gendong?

Kala itu, zaman pemerintahan Kerajaan Mataram terpecah menjadi Keraton Ngayogyakarto dan Surokarto. Rumah sakit dengan pengobatan modern tak menjangkau warga higga ke pelosok desa. Seiring waktu, Jamu yang mulanya dipikul seorang laki-laki, beralih dijajakan oleh wanita dengan cara digendong.

Laki-laki, kala itu tenaganya justru dialihkan menjadi petani. Jamu didominasi untuk kebutuhan para perempuan, seperti saat mengandung atau melahirkan. Karena usaha ini menguntungkan, banyak perempuan yang akhirnya berminat untuk menjajakan Jamu. Jamu gendong akhirnya lekat dengan perempuan bakul Jamu yang berkeliling menawarkan Jamu. "Mas, jamune mas.."

Nah, fyi, para pedagang Jamu gendong di kota besar, salah satunya berasal dari satu daerah di Sukoharjo, tepatnya di Kecamatan Nguter. Setelah masa kemerdekaan Indonesia, banyak penduduk desa mengadu nasib ke Ibu Kota, termasuk para penjual jJamu di Sukoharjo.

Namun, sekarang, tak jauh dari Solo, dengan mudah kita temui satu lokasi yang menjadi sentra penjualan jamu, yaitu di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo.

Di Sukoharjo, ada salah satu pasar yang merupakan sentra penjualan jamu. Pasar ini diresmikan 1 April 2015, sebagai Pasar Jamu Nguter Sukoharjo. Meskipun tidak hanya menjual Jamu, namun Nguter memiliki keunikan tentang sejarah Jamu nasional. Nguter memiliki kurang lebih 1.000 orang yang berprofesi sebagai penjual Jamu gendong.

Desa Nguter memiliki potensi Jamu rumahan yang besar, selain itu telah terdapat 5 pabrik Jamu yang ada di Nguter. Beragam merk jamu rumahan dengan kode usaha departemen kesehatan dan industri kecil banyak ditawarkan. Oleh pemerintah Kabupaten Sukoharjo dibuatkan pasar untuk menampung para pedagang Jamu. Lokasinya berada di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Pasar Nguter, Sukoharjo.

Meski tidak lepas dari sejarah panjang, mengapa sentra Jamu ada di Sukoharjo? Ada sosok wanita bernama Yoso Hartono dari Purwodadi tinggal di Solo tahun 1932. Ia menjual Jamu di Nguter. Awalnya ia merugi, namun setelah memutuskan pindah, ia mencoba menjual Jamu beras kencur, kunir asem, jamu pahitan serta jamu hasil olahan yang siap diminum. Jamu dijual dengan harga ½ sen, dan dalam sehari ia dapat meraup 15 sen.

Jejak sukses Yoso Hartono diikuti oleh pedagang lain. Selain Jamu godokan, jamu berkembang menjadi Jamu racikan yang telah dibungkus. Sementara, banyak warga Nguter yang mengikuti langkah Bu Yoso, dia masih berjualan Jamu dengan cara tradisional dengan cara berjualan berkeliling membawa Jamu godokan dengan menggunakan tempat khusus, berupa tenggok yang digendong di pinggang.

Tenggok itu berisi botol-botol yang berisi Jamu racikan. Orang Jawa menyebutnya dengan Jamu Gendong. Hingga sekarang, penjual Jamu gendong masih cukup mudah dijumpai.

Para pedagang Jamu ini melakukan inovasi dengan membuat resep menggunakan merek sendiri-sendiri, walaupun kegunaan/khasiatnya sama. Seiring waktu, produsen Jamu di Nguter mengalami pertumbuhan yang peast. Salah satu penanda pertumbuhan dari industri Jamu di Nguter adalah munculnya Koperasi Jamu Indonesia atau KOJAI yang diketuai Murtejo.

Ide pembentukan KOJAI dimunculkan salah satu anak Ibu Yoso Hartono, yaitu Eko Cahyono dan mendapat dukungan penuh dari Lurah Desa Nguter, Paimo, dan Camat Nguter, Haryanto.

Selain Eko Cahyono, sejumlah anak Ibu Yoso Hartono juga menjadi penanda kesuksesan industri Jamu di Nguter, seperti Yulianingsih (Cik Nelly) yang bersama suaminya, Slamet Riyadi mendirian perusahaan pengolahan Jamu yang bernama CV. Wisnu Joglo Kresna Wisnu (WJKW) yang berada di sisi timur Pasar Nguter.

Yoso Hartono menjadi pioneer penanda sejarah munculnya industri Jamu, khususnya Jamu racikan (godokan) di Nguter, karena berkat usahanya sejak menciptakan Jamu olahan, pada tahun 1973. Pada tahun 1983, Yoso Hartono meninggal dunia, dan pengelolaan industri Jamu yang dirintisnya diteruskan oleh anak-anaknya.

Pembaruan pasar Nguter terjadi pada Agustus 2013 dengan dana Rp 13,4 miliar. Berdasarkan data dari kantor Kelurahan, Pasar Jamu Nguter, zona pedagang Jamu mendominasi unit kios dan los yang ada di Pasar Nguter ini.

Untuk kios, zona jamu memiliki 55 unit yang berada di lantai atas dan bawah. Sedang zona Jamu di bagian los pasar ada 119 unit yang berada di lantai atas maupun bawah. Meski juga ditempati para pedagang bukan Jamu, seperti pedagang sembako, buah-buahan, warung makan, pakaian, dan sebagainya.

Namun, mayoritas pedagang pasar Jamu Nguter adalah para pedagang Jamu.Termasuk tujuh produk Jamu racikan yang berskala besar yang diproduksi CV WJKW, Gujati, Sabdo Palon, Bisma Sehat, Anoman, Puntodewo, Narodo.

Adanya Pasar Jamu Nguter Sukoharjo ini membuktikan bahwa Jamu mampu menjadi ‘kuliner’ kontemporer yang dapat memperkaya pilihan warga yang sedang bekunjung ke Solo.

Jadi, mau sehat dengan ramuan tradisional ala Pasar Nguter Sukoharjo? Ayo ke Solo! (Dikutip dari: https://wonderfulsolo.com/pasar-jamu-nguter-sukoharjo-sentra-ramuan-sehat-tradisional-di-solo/). Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait