Oye..Tenan Iki: Café Jamu sebagai Destinasi Wisata Dunia
Tanggal Posting : Rabu, 7 November 2018 | 13:43
Liputan : Artikel: Karyanto, Founder JamuDigital.Com - Dibaca : 8 Kali
Oye..Tenan Iki: Café Jamu sebagai Destinasi Wisata Dunia
Oye..Tenan Iki: Turis Manca Negara Meracik dan Minum Jamu Indonesia di Cafe Jamu Acaraki, Jakarta, pada 1 November 2018.

HerbaIndonesia.Com. Oye..tenan iki (terjemahan bebas bahasa Jawa: Bagus...sekali ini), Café Jamu sebagai Destinasi Wisata Dunia. Menduniakan Jamu Indonesia, salah satu medium yang mudah dilakukan dan memiliki pengaruh kuat adalah menjadikan Jamu sebagai destinasi wisata.

Nah, nanti para turis, diajak minum Jamu saat berada di Indonesia, diajak lihat kebun Tanaman Obat yang jumlahnya ribuan, ditunjukkin pengujian kualitasnya, kemudian proses produksinya. Lantas mereka suka, lantas nantinya mereka order beli Jamu secara online dari negaranya masing-masing, tentu ketika mereka sudah pulang ke negaranya.

Jika pola demikian sudah menjadi budaya dunia, mungkin idiom Jamu Digital, juga akan menjadi bagian dari life style dunia. Yaitu, sebuah siklus yang berproses: Jamu dibeli dengan cara digital, proses edukasinya, proses pengembangannya, proses promosinya, dan lain-lain yang terkait dengan Jamu berbasis digital. Segala seluk-beluk perjamuan Indonesia sudah digitalisasi. Apik tenan iki! Toplah!

Keren...to. Ngono koq ora percoyo? Wis percoyo..o, karo aku....(Keran kan. Begitu ..tidak percaya? Sudah percaya saja..dengan saya). Saya membantin untuk menguatkan semangat saya sendiri, biarpun peran saya sangat kecil, dari pinggiran Kota Depok, saya ingin berpartispasi ikut serta menduniakan Jamu Indonesia.

Kali ini, saya akan menulis pemuda-pemudi warga negara asing yang ramai-ramai meracik Jamu. Bule-bule enom iki ngracik Jamu..yo karo mringas-mringis! (Pemuda-Pemudi warga negara asing ini, meracik Jamu sambil tersenyum-senyum).

Itulah awal kisahnya, ketika WA saya, ujug-ujug njedul foto bule-bule enom manis-manis ngracik Jamu (Tiba-tiba WA saya mendapat kiriman foto-foto warga negara asing yang masih belia dan jelita, sedang meracik Jamu).

Walah opo iki hoax yo! Oh, ternyata bukan hoax, gambar orang-orang asing yang sedang menyajikan Jamu itu dikirim dari sahabat saya: Mas Jony Yuwono- Owner Cafe Jamu Acaraki.

Bukan hanya foto-foto yang dikirim, tapi juga video (asyik...)-yang menggambarkan para wisatawan itu asyik menyajikan proses pembuatan Jamu. Dalam hati saya bilang: Lek ngeneki..koq yo mas Jony, ora ngajak-ajak aku to yo..., ben aku iso kenalan karo bule-bule enom-enom kuwi. Sopo ngerti diajak mudik ning kampunge...aku iso dodolan Jamu....(terjemahkan sendiri ya, ini agak wagu sejatinya....)

Ya, kemarin siang, Kamis, 1 November 2018, saya mendapat kabar gembira dari Pemilik Cafe Jamu Acaraki. "Pak Karyanto, tadi pagi saya kedatangan para influencer dari manca negara. Mereka adalah para tokoh di social media yang cukup terkenal di negara masing-masing. Kebetulan Acaraki dipilih oleh Kemenpar menjadi bagian dari rute #TripOfWonders," tulis mas Jony Yuwono mengabarkan kepada saya lewat WA.

Wow, keren sekali itu mas Jony. Saya membalas komunikasi dengan beliau. "Mereka dengar tentang Acaraki dari beberapa sumber, dan salah satunya artikel yang ditulis oleh Bapak," lanjut mas Jony (dalam hati saya, saya sedikit bangga...boleh kan?).

Nah, model-model cara mengemas, atau mem-branding Jamu seperti ini, kan asyik. Asyik pol iki, pol-polan malah. Proses alamiah seperti ini, harus terus dikembangkan, dan menjadi atensi-menjadi pehatian bagi semua stakeholders Jamu Indonesia, bahwa potensi Jamu untuk mendunia itu di depan mata.

Jangan sampai, kita diketawakan oleh pepatah ini: "Gajah di depan pelupuk mata tidak kelihatan, apalagi semut yang di depan pelupuk mata, pasti lebih tidak kelihatan lagi...". He..he..he..ini pepatah yang saya bikin sendiri. Maksud saya, kita harus tahu persis dengan potensi bangsa sendiri. Dan Jamu itu potensi yang ngedab-ngedabi....Potensi yang luar biasa! Saatnya bersama menduniakan Jamu.

Sekilas Cafe Jamu Acaraki
Gerakkan menduniakan Jamu terus bergulir. Mulai dari media online khusus mengusung tema Jamu/Herbal Indonesia yang dibesut oleh PharmaONEBRAND, yaitu www.jamudigital.com, disusul inovasi Jamu sebagai healthy drink dengan positioning JamuNewWave. Ini adalah bentuk-bentuk partisipasi untuk membranding Jamu ke pentas dunia.

Bahkan, Badan POM kini juga sedang secara sistematis mendorong Jamu untuk makin berkembang. Melalui FGD yang melibatkan semua stakeholders herbal Indonesia, untuk mendapatkan out put yang komprehensif mengembangkan herbal nasional, yang menyasar dari hulu hingga hilir. Sebuah sinergistik yang asyik dan membanggakan.

Adalah Jony Yuwono, Owner Cafe Jamu Acaraki yang belum lama ini meluncurkan Cafe Jamu dengan visi menjadikan Jamu agar sepopuler Kopi di seantero dunia. Mengolah Jamu dengan aneka rasa, yang enak diminum, tetapi tetap dapat memberikan potensi menyehatkan tubuh.

Pada Sabtu siang, 30 Juni 2018 di Cafe Jamu Acaraki, Gedung Kertaniaga 3, Jl. Pintu Besar Utara, No. 11. Jakarta Barat, di Kawasan Kota Tua, Jony Yuwono berbincang santai dengan Founder JamuDigital.Com, Karyanto dengan topik ’Mencari strategi baru menduniakan Jamu’. Dengan pendekatan cita rasa Jamu yang unik, yang tidak kalah uniknya dengan cita rasa Kopi yang kini sedang booming.

"Target utama dari Cafe Jamu Acaraki ke depan adalah untuk menggalang #JamuNewWave, agar generasi muda dapat melihat ke Jamu dengan sudut pandang yang berbeda dan berpartisipasi dalam pelestariannya," demikian Jony Yuwono membuka diskusi sambil minum Jamu racikan Tim Cafe Acaraki.

Menurut pandangan Karyanto, pendekatan optimalisasi Jamu untuk menyasar generasi milenial tidak harus mengedepankan Jamu dapat berkhasiat ini dan itu, yang dapat menyembuhkan penyakit.

"Tetapi dapat juga melalui pendekatan kenikmatan cita rasa Jamu yang diolah dengan berbagai teknik dan dikombinasikan dengan bahan lain yang bermanfaat untuk tubuh. Ini mungkin akan lebih mudah untuk branding Jamu kepada generasi milenial," ujar Karyanto beragumentasi.

Jony Yuwono sepedapat dengan strategi pendekatan yang dikemukakan di atas. Makanya, sejak beberapa tahun terakhir ini, Jony melakukan riset pengolahan Jamu untuk menghasilkan cita rasa yang enak, tetapi taste Jamunya masih tetap terasa.

"Mengenai nanti khasiatnya bagaimana, dapat dilakukan uji di laboratorium," ungkap Jony penuh semangat.

"Variasi proses penyajian Jamu yang telah kami berhasil daftarkan untuk mendapatkan rekor MURI adalah delapan, dan kami tetap meneliti berbagai proses penyajian Jamu yang baru," paparnya sambil melihat peracik Jamu di Cafenya menyiapkan Jamu yang dipesan pengunjung.

Yang juga unik di Cafe Jamu Acaraki adalah bahan-bahan yang diolah menjadi minuman Jamu adalah bahan organik. Pemilihan simplisia yang organik masih dalam proses, untuk saat ini, kami hanya mendapatkan beras dengan sertifikasi organik dari Lampung, Bali dan Kalimantan Utara.

Sedangkan untuk Kencur, kami sudah mensurvey ke penanaman di beberapa daerah di Jawa, walau belum tersertifikasi organik, tetapi cara penanamannya sudah mengikuti metode penanaman organik, Jony Yuwono menambahkan.

Point diskusi yang menarik antara Jony dan Karyanto adalah ketika membahas variasi metode pengolahan Jamu. Karena pada fase inilah, munculnya rasa yang unik dapat berbeda, antara satu metode proses pengolahan dengan proses pengolahan lainnya. Hasilnya dapat sangat berbeda rasanya.

Ada metode pengolahan dengan mengalirkan air es (ekstraksi) ke simplisia Kencur atau Kunyit yang sudah dihaluskan dengan tingkat kehalusan tertentu menggunakan alat roaster yang suhunya diatur pada level tertentu, agar mendapatkan cita rasa yang unik. Ini inovasi-inovasi yang menarik, terlepas kandungan zat apa saja yang terlarut dalam proses tersebut.

"Model yang dapat dikembangkan sangatlah variatif, bisa model stall, seperti bubble tea, model high class seperti TWG, model self service seperti frozen yoghurt, model specialty dengan bantuan terhadap petani seperti specialty coffee," Jony menjelaskan.

Adapun alat-alat yang digunakan adalah alat-alat yang umum digunakan untuk proses penyeduhan kopi, teh, matcha dan minuman-minuman yang populer di dunia

Variasi Rasa Cafe Jamu Acaraki
Jenis minuman Jamu di Cafe Jamu Acaraki yang buka Hari Senin hingga Minggu, mulai pukul 10.00 sampai 22.00 WIB ini sebagai berikut:

Beras Kencur Saring/light (250 ml), Beras Kencur Tubruk/Medium (250 ml), Beras Kencur Pekat/Bold (32 ml), Kunyit Asem Saring/light (250 ml), Kunyit Asem Tubruk/Medium (250 ml), Kunyit Asem Pekat/Bold (32 ml).

Speciality Jamu: Saranti (hot/Ice) Beras kencur + creamer + milk + sugar. Golden Sparkling (ice only) Kunyit asem + Sugar + Sparkled with soda. Dutch Jamu (ice only) Extraction with drips of cold water for more than 8 hours. Rigalize (ice only) Beras kencur + sugar + sparkled with soda.

Selamat datang JamuNewWave, sebuah gelombang yang membawa Jamu sebagai minuman kesehatan yang asyik, yang disukai semua lapisan masyarakat Indonesia, dan tentunya ke depan diharapkan juga menjadi kegemaran masyarakat internasional.

*) Karyanto, Founder JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait