Menkes Dorong Masyarakat Gunakan Produk Herbal
Tanggal Posting : Senin, 15 Juli 2019 | 02:33
Liputan : Redaksi - Dibaca : 68 Kali
Menkes Dorong Masyarakat Gunakan Produk Herbal
Menkes RI., Nila Djuwita Moeloek saat meresmikan Ekspor Perdana Produk Ferron Par Pharmaceuticals ke Polandia, Cikarang, 2 Juli 2019.

HerbaIndonesia.Com. Menteri Kesehatan RI., Nila Djuwita F Moeloek menghimbau masyarakat untuk mengonsumi obat-obatan herbal, terutama yang berasal dari tanah air. "Perusahan-perusahan farmasi sudah mulai memperkenalkan produk-produk herbal. Sangat penting untuk sosialisasi konsumsi produk-produk herbal kepada masyarkat. Bukan hanya industri, tapi masyarakat juga perlu tahu," kata Menkes usai acara acara Ekspor Perdana Produk Ferron ke Polandia, di pabrik PT Ferron Par Pharmaceuticals (Anak Usaha Dexa Group), di Cikarang , Selasa (2 Juli 2019).

Nila mendorong agar industri farmasi untuk terus mengembangkan produk-produk herbal. "Saya dorong herbal artinya obat untuk menjaga kesehatan kita, bukan mengobati," katanya.

Menurutnya, industri farmasi selama ini mampu menghasilkan produk herbal yang bersih dan memiliki jaminan mutu yang lebih baik. "Bahan baku produk herbal berupa tanaman asli Indonesia dan itu dapat menjadi alternatif untuk memenuhi bahan baku obat. Ketersediaan bahan baku zat aktif obat di Indonesia memang masih terkendala terbatasnya pabrik kimia dasar," katanya.

Meski Nila menyayangkan masih banyaknya produk herbal impor yang beredar di pasar dan tidak terkontrol karena terjual bebas di masyarakat. "Konsumsilah herbal buatan dalam negeri sendiri. Kenapa harus beli dari luar? Untuk (industri farmasi) lebih baik lagi jika bahan baku produksinya berasal dari tanaman asli Indonesia," katanya.

Di acara tersebut, Menkes sempat berkeinginan jika misalnya ada waktu khusus disiapkan dengan menetapkan hari jumat sebagai hari minum herbal atau menikmati herbal produksi dalam negeri. "Industri juga bisa meningkat," selorohnya. (Sumber Berita: https://www.gatra.com/detail/news/425951/health/menkes-dorong-masyarakat-gunakan-produk-herbal)

Ekspor Perdana Produk Farmasi Ke Polandia
Pemerintah telah mengamanatkan kepada bangsa Indonesia, khususnya pelaku usaha kefarmasian untuk dapat meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan di dalam negeri dan ekspor.

Hal tersebut telah termaktub dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

"Peluncuran ekspor perdana produk farmasi ke Polandia membuktikan bahwa PT. Ferron Par Pharmaceuticals bisa meningkatkan kepercayaan pasar internasional dengan memproduksi produk dalam negeri yang terjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya," kata Menkes Nila Moeloek dalam acara Pelepasan Ekspor Perdana Produk PT Ferron Par Pharmceuticals ke Polandia pada Selasa (2/7) di Cikarang, Jawa Barat.

PT Ferron Par Pharmceuticals akan mengekspor produk Avamina SR® ke Polandia. Avamina SR® adalah produk dengan zat aktif yang sama dengan produk Glucient® SR yang telah diekspor oleh Ferron ke United Kingdom dan Belanda, juga produk Glumin XR yang dipasarkan di Indonesia. Di United Kingdom, produk Glucient® SR - yang telah diekspor sejak tahun 2011. Produk tersebut berada di posisi kedua untuk obat dengan kandungan zat aktif Metformin Sustained Release.

Menurut Menkes Nila, menembus pasar Eropa bukan hal yang mudah bagi suatu produk farmasi. Produk farmasi harus dapat memenuhi standar European Union yang mempersyaratkan standar, kualitas, dan kemanan produk yang sangat ketat.

"Kita patut mengapresiasi effort yang telah dilakukan oleh PT. Ferron Par Pharmaceuticals dalam menjaga kemanan, mutu, dan khasiat produk yang diproduksi sehingga dapat berdaya saing internasional sekaligus sukses menembus pasar Eropa," ujar Nila Moeleok

Ekspor ini membuktikan bahwa produk Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional.

"Besar harapan saya agar kedepannya Industri Farmasi PT. Ferron Par Pharmaceuticals terus mengembangkan produk inovasi dan melakukan langkah-langkah terobosan untuk meningkatkan ekspor sesuai standar kualitas dan keamanan yang dipersyaratkan oleh pasar global," tutup Nila Moeloek. (Sumber Berita: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20190703/5030682/ekspor-perdana-produk-farmasi-polandia/)

Tembus Pasar Farmasi "Highly Regulated", Ferron Buat Bangga
PT Ferron Par Pharmaceutical menegaskan komitmennya untuk membangun industri farmasi tanah air. Bukan hanya melayani kebutuhan pasar domestik, Ferron juga serius menggarap pasar ekspor. Negara tujuan dengan regulasi ketat berhasil ditembus. Bukti produsen farmasi nasional kompetitif di kancah global.

Sebuah truk kontainer bersiap melintasi gerbang keluar pabrik PT Ferron Par Pharmaceuticals di Kawasan Industri Jababeka, Jawa Barat, Selasa lalu. Kargo berukuran 40 feet itu mengangkut 5 juta tablet Avamina SR, obat buatan Ferron untuk diekspor ke Polandia. Ini merupakan ekspor perdana Avamina SR ke negara di Eropa Tengah tersebut. Ekspor Avamina SR itu sekaligus mengukuhkan Ferron sebagai perusahaan farmasi nasional pertama yang sukses menembus pasar Polandia. "Polandia menjadi pintu kami untuk masuk ke Belarus dan Rusia," kata Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals, Krestijanto Pandji, usai melepas ekspor perdana Avamina SR.

Ekspor perdana Avamina SR buatan Ferron ke Polandia itu disaksikan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Kepala Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) Penny K. Lukito, Duta Besar Polandia untuk Republik Indonesia Beata Stoczynska, dan Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono. Jajaran direksi Dexa Group, perusahaan induk yang menaungi Ferron juga turut menyaksikan pelepasan ekspor perdana tersebut.

Apresiasi disampaikan Kepala Badan POM, Penny K. Lukito yang menilai penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) Ferron berhasil menciptakan produk obat inovatif berteknologi tinggi yang diminati pasar ekspor. "Kami bangga produk yang diekspor bukan produk biasa, tapi produk inovatif sehingga ada value added-nya. Ini sangat mendukung Inpres Nomor 6 tahun 2016," puji Penny.

Badan POM kini tengah giat mendorong hilirisasi produk farmasi lokal, sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Salah satu upayanya, mendorong riset mengembangkan produk farmasi, kemudian mempertemukannya dengan kebutuhan produsen obat. Memang industri farmasi merupakan sektor manufaktur yang sangat bergantung pada R&D.

Langkah Ferron ini juga sejalan dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Dimana industri farmasi dan bahan farmasi merupakan salah satu andalan. Sektor ini juga menjadi prioritas yang berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian masa depan. Karena itu pemerintah mendorong industri farmasi dan bahan farmasi dengan pemberian insentif fiskal maupun pembebasan bea masuk.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mendorong produsen farmasi menjajaki pasar ekspor non-tradisional, seperti Amerika Latin, Eropa Timur, Rusia hingga Afrika. "Ekspor perdana ini menjadi milestone keberhasilan PT Ferron Par Pharmaceuticals sebagai salah satu industri farmasi nasional yang mampu berkembang memperluas pasar ekspor," kata Dirjen IKFT Kemperin, Achmad Sigit Dwiwahjono.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek juga bangga melihat performa Ferron yang mampu bersaing dengan perusahaan farmasi besar lain di kancah internasional. Ekspor perdana Dexa Group dimulai pada 1993 ke Myanmar. Sejak itu, Dexa Group terus merambah pasar tujuan ekspor baru di benua Eropa, Afrika, Asia dan Amerika.

Tak heran, Dexa Group menjelma menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar global, bahkan menembus negara-negara yang regulasi sangat ketat, seperti negara-negara di Eropa. "Saya bangga Dexa tidak hanya puas ke Myanmar, tapi juga ke Eropa. Ini tidak mudah karena dulu kita tidak dianggap oleh negara yang lebih berbudaya untuk masuk ke standar mereka," ujar Nila.

Sebagai tahap awal, Ferron mengirimkan 5 juta tablet ke Polandia, dan ditargetkan ekspor keseluruhan ke negara tersebut sebanyak 15 juta pada tahun ini. Krestijanto menuturkan upaya penjajakan ke Polandia dimulai sejak 4 tahun silam. Negara tujuan ekspor nontradisional ini dikenal salah satu pasar yang menerapkan regulasi ketat (highly regulated market) bagi produk farmasi. Ada persyaratan, pengawasan serta standarisasi tinggi yang wajib dipenuhi produsen sebelum mendapat izin edar produk.

Dia juga menilai Polandia sebagai market yang cukup menantang. Sebab, banyaknya kompetitor besar terjun ke Polandia. Namun, anak usaha Dexa Group ini mampu bersaing karena menawarkan produk inovatif dengan harga bersaing, serta kualitasnya memenuhi standar internasional.

Avamina SR merupakan obat diabetes yang mengandung zat aktif metformin. Yang menjadi pembeda, produk Ferron ini mengadopsi teknologi sustained release (SR). Teknologi ini dirancang untuk melepaskan obat ke dalam tubuh secara perlahan dan bertahap, sehingga mencapai kadar stabil dalam plasma darah. Konsumsi obat SR cukup sekali sehari, dibandingkan obat konvensional yang diminum sehari 3 kali. "Jadi akan hancur dalam 24 jam dan memang menggunakan teknologi yang inovatif. Jadi, mengonversi dari 3 kali sehari menjadi 1 kali sehari," papar Krestijanto.

Produk serupa lebih dulu masuk Inggris tahun 2008 dan Belanda pada 2018, dengan merek dagang Glucient SR. Di Inggris, obat pengendali kadar gula menempati posisi kedua untuk obat dengan metformin SR. Sebuah bukti perusahaan nasional mampu membuat produk berteknologi tinggi, serta memiliki daya saing mumpuni di pasar global. Untuk pasar domestik, Ferron memilih merk dagang Glumin XR.

Krestijanto mengatakan Dexa memang tengah gencar menggenjot kinerja ekspor. Secara total, 90% produksi masih untuk memenuhi pasar domestik, sisanya untuk memasok pasar luar negeri. "Kami mengharapklan double digit growth untuk ekspor tahun ini, maupun tahun depan. Pertumbuhan kami 11%, kami harapkan meningkat sekitar 20%," ujarnya.

Selain metaformin SR, produk Ferron yang diminati eskpor adalah Vankomisin untuk mengobati infeksi bakteri, Terbinafine untuk mengatasi infeksi jamur, serta Lamotrigine untuk obat antikejang. Krestijanto menegaskan Ferron terus mengupayakan menciptakan produk baru yang inovatif. Dexa Group menyiapkan alokasi khusus dari pendapatan untuk mengembangkan R&D, meski tanpa fasilitas fiskal dari pemerintah.

"Dexa Group secara konsisten menyisihkan 5% dari pendapatan bersih kami untuk pengembangan produk farmasi baru, walaupun sampai sekarang belum ada insentif pajak dalam melakukan R&D di Indonesia. Di Dexa Group, ada sekitar 500 scientist yang bekerja keras untuk menemukan formulasi baru, produk baru, maupun pengembangan obat modern asli Indonesia," paparnya. (Sumber Berita:
https://www.gatra.com/detail/news/427438/health/tembus-pasar-farmasi-highly-regulated-ferron-buat-bangga-). Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait