Menjual Jamu Gendong Sejak 1984
Tanggal Posting : Kamis, 7 Februari 2019 | 07:05
Liputan : Redaksi - Dibaca : 47 Kali
Menjual Jamu Gendong Sejak 1984
Nanik penjual jamu keliling sedang melayani pelanggan setianya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis, 31 Januari 2019. Foto: www.kompas.com

HerbaIndonesia.Com. "Jamu, jamu...." Suara pelan Nanik (54) nyaris tak terdengar di tengah sahut-sahutan klakson kendaraan. Meski tak berteriak, pelanggan setia yang melihat sosoknya langsung menghampiri.

Nanik kemudian perlahan menurunkan gendongannya dan meletakannya di atas aspal. Mengenakan kain batik berwarna hijau, Nanik duduk bersimpuh sambil menuangkan jamu ke gelas kaca untuk para pembeli di kawasan Polsek Palmerah, Jakarta Barat.

Penjual jamu gendong keliling barangkali sudah langka di Jakarta. Wanita asal Solo, Jawa Tengah tersebut mengaku telah menjadi penjual jamu gendong sejak tahun 1984. Saat itu, ia pergi merantau seorang diri dari kota kelahirannya menuju Jakarta.

Tanpa dibekali kemampuan yang cukup, Nanik pun memutuskan untuk berjualan jamu gendong keliling. "Sudah sejak tahun 1984 pas pertama kali saya ke Jakarta. Jadi saya sudah jualan dari saya belum menikah sampai menikah.

Alhamdulillah masih lancar jualannya, walaupun sudah enggak seramai dulu. Langganan saya ya polisi yang tugas di sini (Polsek Palmerah), anak-anak kampus Binus, pedagang-pedagang di Pasar Palmerah juga," kata Nanik kepada Kompas.com. Kamis (31/1/2019).

"Tapi, sekarang sudah tinggal jalan saja tanpa perlu cari pelanggan lagi. Kan sudah puluhan tahun, jadi mereka juga sudah hafal sama saya, kelilingnya jam berapa aja," sambungnya.

Mulanya, ia membeli bahan-bahan dasar jamu tradisional seperti kunyit, jahe, dan kencur dari pasar tradisional di Jakarta.

Namun, ia selanjutnya memutuskan untuk membawa bahan-bahan dasar pembuatan jamu dari kampung halamannya.

Hal ini karena harga bahan-bahan pokok di pasar tradisional Jakarta lebih mahal dibandingkan harga bahan-bahan pokok di Solo. Ia membeli bahan-bahan jamu tersebut setiap tiga bulan sekali.

Nanik menjual beragam jenis jamu tradisional dengan beragam khasiat di antaranya beras kencur untuk obat batuk, temulawak untuk daya tahan tubuh, kunyit asam untuk melancarkan haid pada wanita saat datang bulan, dan kunyit sirih untuk mengatasi keputihan.

Jamu-jamu itu dijual dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per gelas. Pembeli juga dapat membungkus jamu-jamu tersebut.

Ia memproduksi jamu sejak pukul 05.00-07.30 WIB dengan cara menumbuk bahan-bahan dasar jamu menggunakan lesung yang dibawa dari kota kelahirannya.

Selanjutnya, ia mulai berkeliling dengan menggendong botol-botol jamu dari kawasan Palmerah hingga Kemanggisan mulai pukul 10.00-17.00 WIB.

Saat ini, Nanik tinggal bersama dua anaknya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat. Ia mengaku prinsip hidupnya adalah ikhlas saat bekerja. "Anak saya dua, cowok semua. Yang pertama SMK kelas XI dan anak terakhir SD kelas 4.

Menurutnya, keuntungan utama dalam berjualan jamu gendong adalah bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang. (Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2019/02/02/07172271/cerita-nanik-keliling-menjual-jamu-gendong-di-jakarta-sejak-1984) Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait