Membedah Problematika Bahan Baku Jamu di Indonesia
Tanggal Posting : Sabtu, 6 Juli 2019 | 02:48
Liputan : Redaksi - Dibaca : 36 Kali
Membedah Problematika Bahan Baku Jamu di Indonesia
Agusdini Banun Saptaningsih, Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes RI. dan Ketua GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman bersama Peserta P4TO, pada 3-6 Juli di Yogyakarta.

HerbaIndonesia.Com. Dibalik prospek bisnis Jamu-Obat Tradisional yang menjanjikan, ada sederet problematika dalam hal pengadaan bahan baku Jamu yang harus mendapat perhatian serius dari para stakeholders, agar bisnis Jamu-Obat Tradisional mampu terus berkembang di masa datang.

Hal diatas mengemuka, saat Ketua GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman SE.MH. tampil sebagai pembicara pada "Pertemuan Sosialisasi dan Koordinasi Dalam Rangka Fasilitasi Peralatan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO)", yang diadakan di Yogyakarta, pada 3-6 Juli 2019. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Berikut ini, sederet permasalahan Bahan Baku Obat Tradisional di Indonesia, yang dipaparkan oleh Ketua GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman:

  • Kurangnya sarana budidaya tanaman obat secara komersial. Kementerian Pertanian menyatakan bahwa kurang lebih 85% kebutuhan bahan baku untuk IOT dan UKOT masih diperoleh melalui upaya penambangan hutan dan pekarangan.
  • Selain itu, petani juga menghadapi permasalahan terkait rendahnya mutu produk tanaman obat yang dihasilkan, karena curah hujan yang tinggi, sehingga terserang jamur dan tidak berkembang, rendahnya produktivitas dan harga, ketidakpastian pasar, dan lemahnya modal serta daya tawar. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan oleh belum diterapkannya budidaya sesuai anjuran SOP yang baku serta belum digunakannya bibit unggul.
  • Mutu, keamanan dan manfaat tanaman obat tergantung pada kandungan senyawa berkhasiat (aktif) yang ada pada tanaman obat tersebut yang dipengaruhi oleh: tempat tumbuh, kulaitas bibit, cara dan waktu panen, pengemasan, penyimpanan.
  • Tanaman obat impor kualitasnya tidak baik di bandingkan tanaman obat Indonesia, karena banyak mengandung residu logam berat.
  • Kendala penyediaan Tanaman Obat untuk bahan baku Jamu yaitu ketersediaan dan sustainability dan kurangnya networking dan sinergitas.
  • Rantai nilai (value chain) disinyalir menjadi salah satu penyebab rendahnya harga yang diterima petani. Rantai nilai merupakan rantai kegiatan pada proses transformasi produk dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Rantai nilai tanaman obat seringkali sangat panjang, terdiri dari 6-7 tahap pemasaran mulai dari penambang dan petani, tengkulak lokal, pasar grosir regional, pasar grosir besar, dan pemasok khusus.
  • Kebanyakan industri lebih suka membeli dari pemasok dan pedagang grosir, sehingga menyebabkan gross margin (keuntungan kotor) diantara pelaku bisnis menjadi tidak merata. Penambang yang merupakan pelaku kunci, justru mendapatkan margin yang rendah.
  • Data permintaan, luas areal dan produksi yang tersedia hanya sebatas pada tanaman temu-temuan yang sudah dibudidayakan secara luas, seperti Jahe, Kencur Temulawak dan Kunyit. Padahal bahan baku industri obat tradisonal sangat bervariasi jenisnya
  • Perkembangan terakhir menunjukan peningkatan permintaan akan produk tanaman obat tidak hanya sebatas peningkatan kuantitas tanaman yang telah biasa digunakan, akan tetapi juga ke arah horizontal, yaitu bertambah jenis tanaman yang digunakan dan secara vertikal berupa bertambahnya produk yang dihasilkan.
  • Ketersediaan VS Kebutuhan Bahan baku tidak seimbang.
  • Harga bahan baku kurang bersaing dengan bahan baku impor.
  • Variasi geografis dan perbedaan tempat tumbuh.
  • Kontaminasi pestisida, senyawa logam dan aflatoksin.
  • Terbatasnya dukungan IPTEK.

Problematika tersebut harus segera dicarikan solusi, sebab ketesediaan bahan baku Jamu sangat penting di dalam pengembangan industri Jamu di masa yang akan datang.

"Pengguna bahan baku Obat Tradisional adalah sarana produksi di Bidang Kefarmasian, Obat Tradisional & Kosmetik, Usaha Jamu, Tenaga Kesehatan, Masyarakat, Usaha Kuliner, dan lain-lain," urai Dwi Ranny Pertiwi Zarman menambahkan.

Bahan baku Obat Tradisional: Tanaman Segar, Simplisia, Serbuk, Ekstrak, Minyak, Atsiri. Asal bahan baku Obat Tradisional: Tanaman budidaya, Tanaman penambangan.

Penggunaan Obat Tradisional di Dunia: Di RRC mencapai 90%, Jepang mencapai 70%, Malaysia- obat tradisional Melayu, TCM dan obat tradisional India digunakan secara luas oleh masyarakatnya, Chile 71%, Kolombia 40% menggunakan obat tradisional, Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40%, Amerika Serikat 42%.

Kebutuhan bahan baku yang paling banyak digunakan. Kebutuhan bahan baku Obat Tradisonal: Kebutuhan ekspor Bahan Baku obat seperti: Jahe mencapai 2 ribu ton, Turmeric 7 ribu ton, Kkapulaga 6 ribu ton, Tanaman biofarmaka lainnya seribu ton.

Kebutuhan bahan baku yang paling banyak digunakan di Jateng: Jahe kurang lebih 100 Ton/bulan, Kencur kurang lebih 10 Ton/bulan, Kunyit kurang lebih 7,5 Ton/bulan, Temulawak kurang lebih 10 Ton/bulan. Presentase sumber bahan baku: 70 % dari Jawa Tengah, 20 % dari Jawa Barat/Jawa Timur, 10 % dari luar pulau seperti: Pala, Kulit pala, Merica, Pasak Bumi, Cabe Jawa.

Daftar industri Jamu dan Obat Tradisonal Indonesia: Jakarta (209 Industri), Kalimantan (28 Industri), Aceh (7 Industri), Sumatra Barat (3 Industri), Yogyakarta (88 Industri), Maluku (8 Industri), Sulawesi Selatan (2 Industri), Medan (30 Industri), Jawa Tengah (225 Industri), Jawa Timur (116 Industri), Jawa Barat (108 Industri), NTB (8 Industri), Bali (6 Industri), Banten (40 Industri), Lampung (4 Industri), Jambi (1 Industri), Riau (2 Industri). Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait