Memaknai Sejarah Budaya Jamu dalam Perspektif Kekinian
Tanggal Posting : Sabtu, 12 Januari 2019 | 13:23
Liputan : Redaksi - Dibaca : 203 Kali
Memaknai Sejarah Budaya Jamu dalam Perspektif Kekinian
Dr. Riswahyuni Widhawati, M.Si, Sekretaris Jenderal Ad Interim PPKESTRAKI, Memaknai Sejarah Budaya Jamu.

HerbaIndonesia.Com. Ada potensi besar yang dimiliki Indonesia, yang sangat mungkin akan menjadi komoditas dunia di bidang kesehatan, yaitu melimpahnya biodiversitas di Indonesia- yang dapat dijadikan Jamu dan obat herbal.

Jamu adalah potensi yang harus terus dikembangkan untuk mendunia, sebagai obat dari bahan alam, yang akan memberikan kontribusi peningkatan kesehatan masyarakat dunia, dan berdampak pada ekonomi nasional- ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan.

Mengawali tahun 2019 ini, pioneer Media Online dan Marketplace Jamu- JamuDigital.Com, menurunkan tulisan bertajuk: "Memaknai Sejarah Budaya Jamu dalam Perspektif Kekinian"- yang ditulis oleh Dr. Riswahyuni Widhawati, M.Si, Sekretaris Jenderal Ad Interim Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional dan Komplemeter Indonesia (PPKESTRAKI)- yang juga Konsultan Kencantikan, Peneliti Herbal dan Dosen Ilmu Kedokteran Klinik.

Berikut ini, artikel tersebut:

Dengan bergulirnya masa dan waktu, maka harus semakin bertambahlah pemahaman terhadap budaya negara kita, Indonesia. Kita tahu, bahwa sejak lama, seluruh dunia telah lama mengenal bahwa Indonesia mempunyai kekayaan yang amat banyak, kekayaan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat.

Tanaman herbal di Indonesia yang mempunyai manfaat dalam pengobatan, dimana di Indonesia tanaman herbal yang bermanfaat tersebut lebih dikenal dengan sebutan Jamu.

Bukti sejarah tentang tanaman obat yang telah dikenal ribuan tahun lampau dapat dijumpai dalam ukiran sejarah di lontar, dinding-dinding candi, dan kitab kitab sejarah herbal di Indonesia.

Dengan perkembangan jaman, kita juga amat tahu bahwa terjadi pula perkembangan tren pemanfaatan potensi keanekaragaman herbal sebagai upaya dalam meningkatkan manfaat hayati tanaman herbal untuk pengobatan dengan lebih baik.

Di Indonesia mulai banyak melakukan terobosan meningkatkan manfaat jamu di Indonesia dalam bentuk saintifikasi jamu atau ada tindakan pembuktian manfaat bahan herbal yang lebih baik dan lebih bermanfaat dengan menggunakan basis teknologi tinggi.

Bahkan semangat modernisasi semakin banyak mengintegrasikan tanaman obat dengan dunia farmasi dan mengenalkan keampuhan herbal di kalangan ilmiah.

Walaupun begitu, pengobatan tradisional masih mempunyai tempat khusus di kalangan masyarakat Indonesia ataupun dunia. Dengan langkah dan cara pengolahan yang benar khasiat tananam obat tidak akan berubah.

Menelusuri Catatan Budaya Herbal Indonesia Herbal di Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan jamu, dimana kata jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno Jampi atau usodo, artinya penyembuhan menggunakan ramuan, doa, dan ajian.

Menguak bukti-bukti pemakaian jamu di masa lalu di dalam catatan sejarah Jamu Indonesia (The Written Records of Jamu) di Jakarta dapat kita temukan bukti sejarah berupa artefak yang tersimpan dalam Museum Nasional Jakarta, sumber sejarah penulisan sejarah Jamu bisa kita jumpai di:

Dinding-Dinding Candi Borobudur. Candi Borobudur yang termashur di bangun oleh kerajaan Syailendra di tahun 800 - 900 Masehi didekat Yogyakarta Jawa Tengah.

Pada dinding-dinding candi Borobudur/relief menggambarkan pohon Kalpataru (pohon mitoligis yang kekal abadi, di mana daun-daunnya dan bahan-bahan lain sedang digiling untuk membuat obat herba bagi perawatan kesehatan dan kecantikan wanita).

Catatan Bersejarah Dalam Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi. Ini Merupakan Satu Di Antara Dua catatan yang tersimpan di perpustakaan Keraton Surakarta. Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi bisa jadi merupakan informasi yang paling sistimatis tentang jamu.

Di kitab ini tercatat 1.734 resep Jamu yang terbuat dari herba alami berikut rekomendasi penggunaan dan dosisnya. Juga termasuk 244 catatan berupa doa dan bentuk simbol-simbol yang rupanya digunakan sebagai mantera atau jimat ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan ghaib atau melindungi pasien dari ilmu hitam.

Serat Centhini. Serat Centhini merupakan kitab lainnya yang tersimpan di perpustakaan Keraton Surakarta yang merupakan buku bersejarah yang dibuat oleh salah seorang putera Kanjeng Sinuhun
Sunan Pakubuwono IV yang pada saat itu memerintah kerajaan Surakarta di periode 1788 - 1820 Masehi.

Putera sang raja ini memerintahkan 3 bawahannya untuk mengumpulkan semua informasi ilmu pengetahuan tentang budaya Jawa yang berkaitan dengan aspek spiritual, bahan-bahan, ilmiah dan keagamaan. Hasilnya berupa laporan sebanyak 12 jilid dengan 725 stanza.

Walaupun isi kitab ini tidak semuanya berhubungan dengan kesehatan dan pengobatan penyakit, namun tampaknya sebagian besar isinya berkaitan dengan masalah seksual serta sejumlah nasihat dan obat untuk berbagai penyakit.

Bagaimanpun Serat Centhini merupakan penjelasan terbaik tentang pengobatan penyakit di jaman Jawa kuno, di mana selalu digunakan obat-obatan yang berasal dari alam dan kebanyakan di antaranya adalah herbal yang mudah diberikan.

Manuskrip atau Primbon di Perpustakaan Keraton Surakarta. Beberapa catatan sejarah yang lainnya yaitu pada manuskrip atau primbon yang dikumpulkan dalam lebih dari 2.100 catatan - yang ada di antaranya bertanggal tahun 1720 M - tersimpan di Perpustakaan Keraton Surakarta. Catatan ini menggambarkan banyak hal dan tertulis di atas 700.000 lembar kertas.

Disamping 4 bagian yang berisi catatan khasiat herba, ramuan dan dosis, primbon juga mengandung dokumen sejarah yang berkaitan dengan politik, catatan pengadilan, ramalan-ramalan, puisi, catatan-catatan moralitas, budaya dan pengetahuan mengenai erotisme, Ilmu dan hukum Islam, lirik-lirik sufisme, skript untuk lakon-lakon wayang kulit, peraturan pengadilan serta petunjuk praktek peramalan dan ilmu hitam.

Kitab Penyembuhan, Usada. Usada merupakan kumpulan tulisan yang berkaitan dengan praktek pengobatan. Walaupun tanggal dan tahun catatan-catatannya belum jelas, namun isinya tetap mengandung nilai yang tinggi bagi pengetahuan pengobatan alami menggunakan obat-obat herba alami. Dalam banyak kasus, Usada digunakan sebagai referensi untuk pengobatan tradisional dalam masyarakat Jawa.

Manuskrip Lontar Bali. Manuskrip ini tertulis karena pada masa lalu terjadipenyebaran pengetahuan pengobatan herbal ke seluruh Indonesia, hingga banyak kerajaan atau masyarakat menyimpan catatancatatan yang sangat berharga ini bagi keperluan mereka sendiri.

Dan karena Bali terletak sangat dekat dengan Jawa, praktek pengobatan dicatat dan ditulis pada daun lontar. Lontar adalah daun enau yang dikeringkan dan digunakan sebagai media menulis oleh masyarakat Bali. Banyak catatan lontar menunjukkan kesamaan antara praktek pengobatan Jawa dan Bali.

Buku "Tanaman Indonesia Dan Khasiatnya" Jan Kloppenburg - Versteegh. Nyonya Jan Kloppenburg, seorang wanita Belanda yang lahir tahun 1862 di sebuah perkebunan kopi yang luas di daerah Weleri, Jawa Tengah adalah penulis buku "De Indische Planten en haar Geneeskracht" atau Tanaman Indonesia dan Khasiat Penyembuhannya.

Jan Kloppenburg dibesarkan di Indonesia, wanita muda ini memiliki kesempatan yang sangat bagus untuk mengenal tanaman lokal dan menyelidiki khasiatnya. Jan Kloppenburg terinspirasi oleh sang ibunda, Albertina, yang merawat kesehatan penduduk sekitar perkebunan.

Albertina seringkali memberikan nasihat kepada penduduk tentang bagaimana mengobati suatu penyakit dan tanaman atau herba mana yang merupakan obat yang paling mujarab.

Kloppenburg muda seringkali menemani ibundanya saat mengunjungi penduduk dan mencatat semua informasi yang dianggapnya penting. Setelah sang ibunda wafat dan kemudian menikah, Jan meneruskan minatnya terhadap tanaman dan herba Indonesia.

Tulisannya dirangkum dalam buku dengan judul seperti di atas dan diterbitkan pertama kali di awal tahun 1900. Bukunya sekarang digunakan sebagai referensi yang tak ternilai bagi pengembangan penggunaan tanaman dan herba di jaman modern ini. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait