Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka (Bag.3)
Tanggal Posting : Sabtu, 2 Juni 2018 | 08:54
Liputan : Redaksi - Dibaca : 549 Kali
Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka (Bag.3)
Badan POM menginisiasi Pembentukan Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka, di Jakarta, 31 Mei 2018.

HerbaIndonesia.Com. Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka dibentuk sebagai wadah sinergisme Industri, Lembaga Riset, dan Pemerintah. Konsorsium lintas sektoral ini terwujud dari hasil Focus Group Discussion (FGD) pada April 2018 lalu.

Demikian informasi dari sejumlah peserta yang hadir pada Rapat Pembentukan Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka yang dilaksanakan pada Kamis, 31 Mei 2018, di Jakarta.

Rapat yang diadakan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan POM ini bertujuan: Konsorsium nasional ini merupakan wadah sinergisme ABG (Academica, Business, dan Government) yang bertjuan untuk memperoleh pemahaman yang sama dan komitmen, dalam hal:

  1. Membangun koordinasi yang intensif untuk hilirisasi/pemanfaatan hasil penelitian menjadi fitofarmaka dengan sinergi peran peneliti, indusri dan dukungan fasilitasi dan kebijakan dari pemerintah.
  2. Masuknya fitofarmaka pada sistem kesehatan formal.

Output yang diharapkan: 1. Tersusunnya daftar penyakit dan tumbuhan yang akan dikembangkan menjadi Fitofarmaka. 2. Tersedianya roadmap pengembangan Fitofarmaka.3.Terbentuknya konsosium untuk percepatan pengembangan Fitofarmaka (Kemristek, Kemenkes, Kementan, LIPI, BPPT, Perguruan Tinggi, BPOM, Industri di bidang obat tradisional).

Rapat yang dipimpin oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan POM RI., Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc ini, agendanya sebagai berikut:

Arahan Deputi II Badan POM, Paparan dari PT. Dexa Medica dan Anggota Tim Ahli Obat Tradisional BPOM/yang juga Anggota Badan Kajian Herbal dan Obat Tradisional PP PDUI, Dr. Inggrid Tania, M.Si., Paparan Prof. Suwijiyo Pramono (Fakultas Farmasi UGM), dan dilanjutkan Pembentukan Konsorsium dan Road Map.

Langkah strategis yang dipelopori Badan POM- dengan melibatkan stakeholders lintas sektoral ini, diharapkan dapat mengangkat potensi herba Indonesia menjadi produk obat unggulan, dan menjadi salah satu alternatif dalam kemandirian obat nasional.

Manager R & D PT. Phapros, Tbk., Drs. Giri Hardiyatmo, Apt- yang juga ikut hadir pada Rapat Pembentukan Konsorsium Fitofarmaka, mengatakan:

"Agar pengembangan Fitofarmaka semakin cepat, semakin banyak dan digunakan di Yankes (dokter) dengan dukungan ketersediaan bahan baku, uji pre klinik & klinik yang lebih murah & cepat, proses registrasi juga cepat," ujarnya kepada Redaksi HerbaIndonesia.Com., kemarin, 1 Juni 2018.

Sedangkan, tantangan dan kendalanya, menurut alumni Fakultas Farmasi UGM tersebut, adalah ada tigal hal. "Pertama, biaya pengembangan yang besar. Kedua, waktu pengembangan yang lama mulai dari biological screening, toxicity study, formulation development, clinical trial & registration. Ketiga, adanya keraguan dokter meresepkan Fitofarmaka, apalagi saat ini tidak dapat di klaim ke BPJS," tegas Giri Hardiyatmo.

Pada Rapat Rapat Pembentukan Konsorsium Percepatan Pengembangan & Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka pada 31 Mei 2018, dihasilkan keputusan sebagai berikut:

  1. Dibentuk Konsorsium Percepatan & Pengembangan Fitofarmaka dengan 6 (enam) bidang : Bidang Bahan Baku, Uji Pra Klinik, Uji Klinik, Yankes, Promosi, Monitoring dan Evaluasi.
  2. Pada pertemuan berikutnya (awal Juli 2018) akan dibahas jenis penyakit & tanaman yang akan dikembangkan.
  3. Usulan jenis penyakit & tanaman yang akan dikembangkan dikirim ke: subdit.ukdip@gmail.com paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait