Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka (Bag.2)
Tanggal Posting : Jumat, 1 Juni 2018 | 11:30
Liputan : Redaksi - Dibaca : 165 Kali
Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka (Bag.2)
Anggota Badan Kajian Herbal dan Obat Tradisional PP. PDUI, Dr. Inggrid Tania, M.Si. (Foto Kanan) saat mengikuti Rapat Konsorsium Fitofarmaka di Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

HerbaIndonesia.Com. Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka dibentuk sebagai wadah sinergisme Industri, Lembaga Riset, dan Pemerintah. Konsorsium lintas sektoral ini terwujud dari hasil Focus Group Discussion (FGD) pada April 2018 lalu.

Demikian informasi dari sejumlah peserta yang hadir pada Rapat Pembentukan Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka yang dilaksanakan pada Kamis, 31 Mei 2018, di Jakarta.

Rapat yang diadakan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan POM ini bertujuan: Konsorsium nasional ini merupakan wadah sinergisme ABG (Academica, Business, dan Government) yang bertjuan untuk memperoleh pemahaman yang sama dan komitmen, dalam hal:

  1. Membangun koordinasi yang intensif untuk hilirisasi/pemanfaatan hasil penelitian menjadi fitofarmaka dengan sinergi peran peneliti, indusri dan dukungan fasilitasi dan kebijakan dari pemerintah.
  2. Masuknya fitofarmaka pada sistem kesehatan formal.

Output yang diharapkan: 1. Tersusunnya daftar penyakit dan tumbuhan yang akan dikembangkan menjadi Fitofarmaka. 2. Tersedianya roadmap pengembangan Fitofarmaka.3.Terbentuknya konsosium untuk percepatan pengembangan Fitofarmaka (Kemristek, Kemenkes, Kementan, LIPI, BPPT, Perguruan Tinggi, BPOM, Industri di bidang obat tradisional).

Rapat yang dipimpin oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan POM RI., Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc ini, agendanya sebagai berikut:

Arahan Deputi II Badan POM, Paparan dari PT. Dexa Medica dan Anggota Tim Ahli Obat Tradisional BPOM/yang juga Anggota Badan Kajian Herbal dan Obat Tradisional PP PDUI, Dr. Inggrid Tania, M.Si., Paparan Prof. Suwijiyo Pramono (Fakultas Farmasi UGM), dan dilanjutkan Pembentukan Konsorsium dan Road Map.

Langkah strategis yang dipelopori Badan POM- dengan melibatkan stakeholders lintas sektoral ini, diharapkan dapat mengangkat potensi herba Indonesia menjadi produk obat unggulan, dan menjadi salah satu alternatif dalam kemandirian obat nasional.

Berikut ini, penjelasan yang disampaikan Anggota Tim Ahli Obat Tradisional BPOM/yang juga Anggota Badan Kajian Herbal dan Obat Tradisional PP. PDUI, Dr. Inggrid Tania, M.Si. kepada Redaksi HerbaIndonesia.Com.:

"Saya memberikan saran-saran, agar Fitofarmaka benar-benar dikembangkan secara serius, sebab Fitofarmaka itu sejajar dengan obat modern, yang akan dipakai oleh dokter pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain terjamin keamanannya, khasiat/manfaatnya (effectiveness dan efficacy-nya) harus nyata dan terukur, sehingga dokter tanpa reluctant dapat memakainya.

Untuk langkah pertama, perlu mengukur/membuktikan effectiveness, dengan dilakukan uji klinik yang bersifat pragmatic trial, yang relatif murah biayanya, di mana hanya dilakukan pre and post clinical intervention.

Kemudian langkah kedua, untuk pembuktian efficacy, dilakukan uji klinik yang bersifat explanatory trial, yang biayanya cukup besar. Maka industri perlu bantuan pembiayaan dari Kemenristekdikti. Explanatory trial ini dilakukan untuk menjelaskan mekanisme kerja Fitofarmaka pada organ target.

Jenis trial ini diperlukan, mengingat Fitofarmaka itu sejajar dengan obat modern, sehingga dokter dapat yakin menjatuhkan pilihan pada Fitofarmaka untuk diresepkan kepadat pasien di Fasyankes.

Untuk itu, industri Fitofarmaka perlu melakukan R&D yang baik, bekerjasama dengan Perguruan Tinggi agar dapat menghasilkan produk Fitofarmaka yang sejajar dengan obat modern.

Bahan tumbuhan/tanaman obat harus terstandar dan konsisten dalam kadar zat aktifnya, formulasinya yang terbaik, ekstraksinya dengan pelarut yang tepat, hingga bentuk sediaan yang cocok.

Penentuan dosis juga harus tepat, maka dari itu, farmakokinetik juga penting disamping farmakodinamik. Sehingga keamanan dan manfaat ekstrak, dapat sama atau lebih baik daripada simplisianya.

Tidak hanya dipikirkan semata hal-hal yang sifatnya teknis saintifik, tetapi juga aspek lain, misalnya: regulasi yang mendukung, pendidikan para dokter, dan promosi Fitofarmaka.

Pada rapat tersebut, saya mengusulkan juga, agar sebanyak mungkin para dokter dilibatkan sebagai peneliti/investigator dalam uji klinik untuk bahan-bahan yang akan dijadikan Fitofarmaka. Sehingga kelak ada trust dan ownership dari para dokter terhadap Fitofarmaka, karena mereka turut serta mengembangkan."

Simak artikel Pembentukan Konsorsium Fitorfarmaka hanya di media online www.herba-indonesia.com. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait