Komitmen Kemenkes Dorong Pengembangan BBOT di Indonesia
Tanggal Posting : Rabu, 10 Juli 2019 | 22:32
Liputan : Redaksi - Dibaca : 13 Kali
Komitmen Kemenkes Dorong Pengembangan BBOT di Indonesia
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Engko Sosialine Magdalena menerima Hasil P4TO Kota Pekalongan dari Kepala Dinkes Pekalongan, Slamet Budiyanto, di Yogyakarta, 4 Juli 2019.

HerbaIndonesia.Com. Kementerian Kesehatan RI. senantiasa mendorong dan berkomitmen penuh dalam pengembangan BBOT (Bahan Baku Obat Tradisional) di Indonesia, melalui Program Pengembangan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO).

Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Kementerian Kesehatan RI., Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt, MARS menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan OT (Obat Tradisional) dan BBOT.

"Untuk itu, perlu adanya kerjasama dan komitmen daerah dalam melakukan pengembangan obat tradisional. P4TO diharapkan dapat membantu seluruh pihak yang memerlukan simplisia sebagai BBOT," paparnya pada acara "Sosialisasi dan Koordinasi dalam Rangka Fasilitasi Peralatan P4TO", di Yogyakarta, Kamis, 4 Juli 2019.

Pada kesempatan tersebut, tampak hadir antara lain: Dra. Engko Sosialine Magdalena, Apt, M.Biomed. (Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan), Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto, S.KM.,M.Kes., dan para pihak yang terkait.

Dimasa yang akan datang, lanjut Agusdini Banun Saptaningsih, diharapkan P4TO dapat berkontribusi dalam upaya kemandirian BBO, khususnya BBOT.

Pada makalah yang dikirimkan kepada Redaksi JamuDigital.Com disebutkan bahwa landasan kebijakan yang mendorong kemandirian BBO/BBOT adalah Inpres Nomor 6 Tahun 2016, tentang "Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan." Kemudian ditunjang dengan Permenkes Nomor 17 Tahun 2017, tentang "Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Industri Alat Kesehatan." Untuk Pengembangan Industri Farmasi dengan prioritas pada pengembangan bahan baku obat (BBO), dan mendukung upaya kemandirian BBO baik untuk kimia, vaksin, bioteknologi dan herbal.

Langkah di atas, sangat tepat, mengingat penjualan produk herbal global mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya. Kemudian potensi keanekaragaman hayati Indonesia, termasuk 3 besar negara dengan keragaman spesies tanaman yang berlimpah. Pulau Kalimantan diidentifikasi memiliki jumlah spesies obat tradisional tertinggi di Indonesia.

Dasar Pengembangan OT dan BBOT yaitu Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KOTRANAS), Kepmenkes No. 381/MENKES/SK/III/2007, yang tujuan utamanya:

  • Mendorong pemanfaatan sumber daya alam dan ramuan tradisional secara berkelanjutan.
  • Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia secara lintas sector, agar memiliki daya saing.
  • Tersedianya obat tradisional yang terjamin mutu, khasiat dan keamanannya.
  • Menjadikan obat tradisional sebagai komoditi unggul yang memberikan multi manfaat.

Agusdini Banun Saptaningsih kemudian memaparkan Analisa Situasi Industri BBOT di Indonesia dengan SWOT Analysis, yaitu:

  • Kekuatan (S): Mega center keragaman hayati, Keanekaragaman budaya, Luas area, Jumlah industri dan usaha OT, Aneka ragam penelitian.
  • Kelemahan (W): Tidak adanya jaminan kualitas BBOT dan Sustainability, Pemberlakuan standar, Networking, Regulasi.
  • Peluang (O): Pasar ekspor, Budaya penggunaan Jamu, Trend kembali ke alam, Penerimaan OT oleh profesi kesehatan,
  • Ancaman (T): Membanjirnya OT dan promosi OT asing, Kualitas BBOT asing lebih baik dan lebih ekonomis, Sumber daya Indonesia dibawa keluar negeri.

P4TO

Keterangan Foto: Pembicara beserta Peserta Sosialisasi dan Koordinasi Dalam Rangka Fasilitasi Peralatan P4TO, di Yogyakarta,pada  Kamis, 4 Juli 2019.

Sedangkan tantangan yang dihadapai oleh Industri BBOT di Indonesia, disebutkan antara lain:

  • Potensi yang besar, pemanfaatan belum optimal.
  • Rendahnya budidaya tanaman obat, terdapat tanaman yang tidak dapat dibudidayakan.
  • Kurangnya fasilitas pengolahan pasca panen tanaman obat yang memadai dan dapat menjamin konsistensi mutu dan standar dengan kuantitas yang cukup dan konsisten.
  • Penelitian saintifik untuk mendukung klaim khasiat masih kurang.

Akibat adanya tantangan tersebut diatas, maka BBOT Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemilihan: bahan herbal dengan ketersediaan melimpah dan diperlukan dalam jumlah besar; membudayakan penggunaan obat tradisional.

Strategi Pengembangan OT adalah sebagai berikut:

  1. Peningkatan ketersediaan bahan baku obat tradisional yang terstandar.
  2. Membangun networking.
  3. Meningkatkan penelitian dan inovasi teknologi.
  4. Pengintegrasian obat tradisional ke dalam pelayanan kesehatan.
  5. Meningkatkan daya saing industri obat tradisional.
  6. Pengembangan Laboratorium Sertifikasi untuk bahan baku obat tradisional.

Fasilitasi Peralatan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO) dan Laboratorium: Penyediaan BBOT baik simplisia maupun ekstrak yang terstandar dan memenuhi persyaratan jika memungkinkan untuk digunakan pada program pemerintah seperti Saintifikasi Jamu atau kepentingan masyarakat, Untuk dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder yang membutuhkan (UJG, UJR, IOT, IKOT), Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Jajarannya.

Peran Kemenkes dalam mendukung pengembangan BBO dan BBOT: Fasilitasi Peningkatan dan Pengembangan BBO dan BBOT, Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat- Pusat Ekstrak Daerah, Pemberlakuan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk produk farmasi. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait