Komite Ekonomi dan Industri Nasional Kuker ke Usaha Jamu Sukoharjo
Tanggal Posting : Selasa, 5 Juni 2018 | 10:55
Liputan : Redaksi - Dibaca : 224 Kali
Komite Ekonomi dan Industri Nasional Kuker ke Usaha Jamu Sukoharjo
Foto Kegiatan Komite Ekonomi dan Industri Nasional. Sumber: www.kein.go.id

HerbaIndonesia.Com. Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia akan mengadakan Kunjungan Kerja Industri Jamu Skala IKM, Pengrajin Jamu (UD. BISMA SEHAT dan UD. RAHMASARI), Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Rabu, 6 Juni 2018.

Demikian informasi yang diperoleh Redaksi HerbaIndonesia.Com dari Pengurus Daerah GP. Jamu Jawa Tengah, yang pada kegiatan tersebut akan ikut mendampingi pada kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan pengembangan usaha jamu yang memiliki potensi ekonomi secara nasional.

Berikut ini, latar belakang kegiatan, tujuan dan hasil keluaran yang diharapkan dari kunjungan kerja tersebut.

LATAR BELAKANG. Indonesia memiliki potensi relatif besar dalam pengembangan Industri Jamu dan Obat Tradisional. Tidak hanya jumlah penduduknya yang relatif besar sebagai konsumen potensial yang turun temurun, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah sebagai sumber bahan baku, sehingga dapat mendukung kualitas dan keragaman produk jamu dan obat tradisional yang dapat dihasilkan. Indonesia dikenal secara luas sebagai mega center keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar ke-2 di dunia setelah Brazil, terdiri dari tumbuhan tropis dan biota laut.

Di wilayah Indonesia terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan, 7.000 di antaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat, 2.500 jenis di antaranya merupakan tanaman obat, namun baru sekitar 350 jenis yang dimanfaatkan. Pengembangan Industri Jamu dan Obat Tradisional juga mendapat dukungan dari pemerintah, tidak hanya melalui kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), tapi juga memasukkan industri Jamu bersama industri Kosmetik sebagai sektor prioritas karena berperan besar sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

Peran besar Industri Jamu tersebut salah satunya berupa daya serap tenaga kerjanya yang relatif besar. Saat ini Industri Jamu mampu menyerap tenaga kerja sekitar 15 juta tenaga kerja. Sebanyak 12 juta tenaga kerja di antaranya terserap di perusahaan jamu yang berkembang ke arah produk makanan, minuman, kosmetik, spa, dan aromaterapi, sedangkan sisanya (3 juta tenaga kerja) terserap pada perusahaan jamu yang berfungsi sebagai obat. Tenaga kerja tersebut diserap oleh 1.247 perusahaan jamu.

Sebagian besar (1.118 perusahaan jamu) atau sekitar 90% merupakan perusahaan jamu skala industri UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yaitu golongan UKOT (Usaha Kecil Obat Tradisional) dan UMOT (Usaha Mikro Obat Tradisional). Perusahaan jamu yang tergolong besar hanya sekitar 10% atau sebanyak 129 IOT (Industri Obat Tradisional) yang dapat memproduksi hampir semua bentuk sediaan obat tradisional. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Penjualan jamu dan obat tradisional dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan perkembangan yang membaik, yaitu tumbuh dari Rp 15 triliun pada tahun 2014, menjadi Rp 17 triliun pada tahun 2015, dan mencapai Rp 18,5 triliun pada tahun 2016. Namun jika dilihat dari angka pertumbuhan penjualannya, terlihat mengecil dari tahun 2015 yang mampu tumbuh 14%, menjadi sekitar 9% pada tahun 2016, bahkan pada tahun 2017 realisasi pertumbuhan penjualannya diperkirakan juga mengecil menjadi sekitar 5%. Mengecilnya pertumbuhan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap peran Industri Jamu dan Obat Tradisional dalam perekonomian, terutama perannya yang relatif besar dalam menyerap tenaga kerja tersebut.

Terdapat beberapa permasalahan Industri Jamu dan Obat Tradisional yang mengemuka dan dapat menghambat pertumbuhannya. Di antaranya adalah maraknya jamu ilegal, baik berupa jamu impor ilegal, jamu tidak berizin edar, jamu ber-Bahan Kimia Obat (BKO), maupun jamu palsu yang dapat mengurangi pangsa pasar atau penjualan jamu legal di dalam negeri. Masalah lainnya adalah tidak adanya kepastian pasokan bahan baku jamu baik dalam jumlah maupun kualitas di dalam negeri, sehingga terjadi ketergantungan impor bahan baku hingga sekitar 60% yang juga dapat mengurangi daya saing produk. Bagi kalangan UMKM (UKOT dan UMOT) yang merupakan mayoritas (90%) pelaku Industri Jamu dan Obat Tradisional, banyak dihadapkan pada kendala berupa lemahnya SDM dan teknologi, sehingga berpengaruh pada kemampuannya dalam memehuhi standar CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

Berbagai permasalahan tersebut dan hambatan lainnya dikhawatirkan akan menyulitkan Industri Jamu dan Obat Tradisional dalam bersaing dengan produk serupa dari negara lain, baik di pasar domestik maupun pasar global/ekspor. Diperkirakan masih terdapat berbagai permasalahan penting lainnya yang memerlukan terobosan kebijakan agar permasalahan yang dihadapi Industri Jamu dan Obat Tradisional dapat segera teratasi, sehingga dapat tumbuh berkelanjutan dan mampu meningkatkan perannya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian, sekaligus meningkatkan daya serapnya terhadap tenaga kerja.

MAKSUD DAN TUJUAN KUNJUNGAN KERJA LAPANGAN. a. Maksud. Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan daya saing industri Jamu dan Obat Tradisional, baik yang terkait dengan permasalahan yang sedang dialami, maupun menghadapi tantangan masa depan yang harus dilalui, maka Kelompok Kerja (Pokja) Industri Padat Karya dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bermaksud melakukan kunjungan kerja ke pengrajin jamu UD. Bisma Sehat dan UD. Rahmasari di Sukoharjo - Solo Jawa Tengah. Kunjungan kerja lapangan ini dimaksudkan untuk melakukan observasi langsung dan berdiskusi dengan pelaku industri di lapangan guna mengetahui berbagai permasalahan yang dapat menghambat pertumbuhan Industri Jamu dan Obat Tradisional skala IKM untuk secara bersama-sama dirumuskan kebijakan yang harus diterapkan untuk segera mengatasi permasalahan dengan tepat.

Diharapkan melalui diskusi dengan pelaku industri terkait yang kompeten, dapat mengetahui lebih pasti, lengkap, dan luas terhadap berbagai permasalahan yang menghambat kemampuannya dalam menghasilkan produk yang berdaya saing. Hasil kunjungan kerja lapangan diharapkan dapat mendukung akurasi data dan informasi dalam penyusunan Policy Memo/Paper kepada Presiden dengan berbagai rekomendasi kebijakan yang tepat. Dengan demikian, diharapkan pertumbuhan dan daya serap tenaga kerja oleh Industri Jamu dan Obat Tradisional, dapat ditingkatkan, dengan nilai tambah dan kualitas produk yang kompetitif.

b. Tujuan. Tujuan Kunjungan kerja lapangan ini di antaranya adalah: 1. Mendapatkan gambaran yang lebih jelas, detail, dan menyeluruh mengenai tren kinerja industri Jamu dan Obat Tradisional, dan berbagai bentuk permasalahan yang dapat menghambat pertumbuhan berkelanjutan dan daya saing produk jamu khususnya yang berskala IKM. 2. Mengetahui lebih mendalam melalui observasi langsung terhadap faktor-faktor produksi, atau segala sumber daya yang digunakan dalam proses produksi, baik yang terkait dengan kondisi maupun kebutuhan faktor-faktor produksi yang mampu mendukung dan menghasilkan produk Jamu dan Obat Tradisional yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.

3. Melengkapi data dan informasi primer maupun sekunder, serta memperoleh masukan langsung dari pelaku industri, asosiasi, dan pihak terkait di lapangan untuk memperkuat pemahaman permasalahan industri Jamu dan Obat Tradisional yang lebih nyata, utuh, dan komprehensif. 4. Memperkaya bahan masukan untuk mendukung penyusunan Policy Memo/Paper kepada Presiden sehingga dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan yang tepat dan implementatif guna mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi, dan tantangan masa depan yang harus dilalui oleh Industri Jamu dan Obat Tradisional agar dapat menghasilkan produk yang berdaya saing, mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.

METODOLOGI. Penyusunan policy memo/paper dilakukan melalui pengumpulan data dan informasi baik berupa data primer maupun sekunder, dengan menggunakan beberapa metodologi mulai dari studi literatur, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), hingga kunjungan kerja lapangan baik yang terkait dengan industri yang bersangkutan maupun pihak lainnya yang kompeten.

SUSUNAN KEGIATAN. Kegiatan kunjungan kerja lapangan akan dilaksanakan pada Rabu, 06 Juni 2018 dengan kegiatan kunjungan kerja di pengrajin jamu UD. Bisma Sehat dan UD. Rahmasari di Sukoharjo - Jawa Tengah.

Jadwal Kunjungan Kerja Pokja Padat Karya ke Industri Jamu, Rabu, 06 Juni 2018, UD Bisma Sehat, Jl. Raya Solo-Wonogiri (Km 23) Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, 57571. Jawa Tengah. Ke UD. Rahmasari, Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo Sub-District, Kabupaten Sukoharjo.

KELUARAN. Hasil kunjungan kerja lapangan tersebut akan digunakan untuk memperkuat data dan informasi sebagai bahan kajian bagi KEIN dalam menyusun policy paper/memo kepada Presiden yang berisi berbagai rekomendasi kebijakan yang implementatif guna mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh Industri Jamu dan Obat Tradisional. Dengan demikian, diharapkan Industri Jamu dan Obat Tradisional dapat meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan produk yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi, sehingga dapat meningkatkan daya serapnya terhadap tenaga kerja dengan jumlah yang makin besar.

PESERTA KUNJUNGAN. Kunjungan kerja ini akan diikuti oleh tim Pokja IPK KEIN sebagai berikut: Benny Soetrisno (Ketua Pokja Industri Padat Karya), Andi Fitryana, Erna Zetha, Agus Aulia, Hans Prajanto, Syaiful Bahri, Kusnadi, Tim Sekretariat. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait