Kisah Riset Herbal Bioactive Fraction
Tanggal Posting : Minggu, 9 Sepember 2018 | 06:13
Liputan : Redaksi - Dibaca : 63 Kali
Kisah Riset Herbal Bioactive Fraction
DLBS memperoleh berbagai penghargaan bergengsi atas komitmennya mengembangkan obat herbal Indonesia

HerbaIndonesia.Com Akses pasar Jamu/obat herbal Indonesia kian terbuka di era digital. Hal ini, selaras dengan gaya hidup masyarakat yang kembali ke alam- back to nature, termasuk dalam pengobatan. Peluang ini, ditangkap oleh pengusaha dengan penuh dinamika. Dan kemampuan riset akan menjadi faktor keunggulan.

Atensi dari stakeholders herbal Indonesia lainnya, seperti: Kemenkes dan BPOM dalam bentuk kebijakan untuk mendorong pengembangan herbal, Akademisi yang fokus melakukan riset herbal dari berbagai kampus, Komunitas Profesi Kesehatan yang menjadikan herbal Indonesia sebagai pilihan dalam pengobatan adalah sebuah kebutuhan. Jika ini dapat dipenuhi, maka produk herbal Indonesia akan mengalami kejayaan. Kuat di pasar Dalam Negeri dan terus membesar masuk ke pasar Luar Negeri.

Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp P(K), MARS, DTM&H, DTCE, di dalam bukunya yang berjudul: ‘JAMU & KESEHATAN’ EDISI II, diterbitkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2014, hal. 38 menyebutkan: Pengembangan obat baru di Indonesia kebanyakan memanfaatkan obat bahan alam. Kekayaan sumber daya genetik Indonesia (daratan dan lautan) adalah nomor dua setelah Brazil.

Untuk obat bahan alam, khususnya herbal (Jamu), pengembangannya melalui langkah-langkah sebagai berikut : 1. Studi etnomedisin, yakni elaborasi penggunaan tanaman obat (formula Jamu) oleh pengobat tradisional (Battra), tanaman apa yang diambil, dan bagaimana mengolahnya. 2. Identifikasi jenis tanaman dan kandungan bahan aktif di laboratorium. 3. Uji hewan coba, untuk melihat potensi kegunaannya. 4. Uji pada manusia, melalui program Saintifikasi Jamu.

Cara lain pengembangan obat alam (herbal) adalah dengan isolasi bahan aktif dan juga fraksinasi. Isolasi bahan aktif adalah dengan melakukan pemurnian bahan aktif (biasanya tunggal), untuk dikembangkan menjadi obat modern.

Sementara itu, fraksinasi adalah dengan memisahkan beberapa bahan aktif (fraksi) yang mempunyai potensi untuk indikasi manfaat tertentu. Berbeda dengan isolasi yang ujungnya menjadi obat modern, fraksinasi biasanya dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (obat bahan alam yang sudah lolos uji klinik). Demikian pandangan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama yang dikemukakan dalam buku tersebut di atas.

Salah satu institusi yang memiliki komitmen melakukan riset herbal untuk menemukan obat-obat baru dari bahan alam Indonesia adalah DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. DLBS kini telah mampu memproduksi bahan baku aktif obat herbal dalam bentuk bioactive fraction. Prestasi ini, menjadikan DLBS sebagai lembaga pertama yang mampu memproduksi bioactive fraction herbal di Indonesia.

Bagaimanakah kisah dibalik riset herbal bioactive fraction yang dapat menjadi alternatif unggulan untuk mengembangkan obat herbal di Indonesia di masa mendatang ini?

Inovasi Riset DLBS, Bioactive Fraction

Berikut wawancara khusus Redaksi HerbaIndonesia.Com dengan Raymond Rubianto Tjandrawinata, Ph.D., M.S, MBA, Executice Director DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) belum lama ini.

Raymond R. Tjandrawinata mengisahkan bahwa Dexa Medica didirikan oleh Drs. Letnan Kolonel (Purn.TNI AD), Rudy Soetikno, Apoteker (alm.) dan sejumlah rekan Rudy Soetikno di Palembang, Sumatera Selatan tahun 1969. Kini Dexa Medica menjadi salah satu industri farmasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 2005, Dexa Medica mendirikan DLBS.

"Pak Rudy Soetikno sudah lama bercita-cita ingin membangun industri obat dengan mengembangkan riset berbasis bahan alam. Inilah awal kiprah DLBS dibangun dan kemudian mengumpulkan para saintis Indonesia untuk melakukan riset bahan alam Indonesia untuk bahan baku obat dan kemudian memproduksinya menjadi obat herbal," urai Raymond Tjandrawinata mengenang.

Berikut ini itensi-itensi dari DLBS dalam riset obat dari bahan alam, yaitu: 1. Menemukan bioactive fraction dari bahan alam Indonesia untuk indikasi penyakit tertentu dengan menggunakan molekul target. 2. Mengembangkan produk bahan alam menggunakan pendekatan Farmakologi, baik secara in vitro dan in vivo. 3. Mendapatkan data klinis dari pasien pada penyakit yang diriset. 4. Mengembangkan fraksi/ekstrak yang memenuhi standar kualitas internasional.

Raymond kemudian menambahkan bahwa pengembangan produk bahan alam yang dilakukannya berdasarkan profiling Kimia dengan fase-fase sebagai berikut: Pengeringan, Ekstraksi, Ekstraksi dan Fraksinasi, Fraksionasi diikuti skrining molekuler, Teknologi Fraksinasi, Isolasi dan Sintetis.

Bahan baku yang dihasilkan DLBS merupakan hasil riset sendiri yang berasal dari biodiversitas Indonesia. "Dimulai dari penelitian biomolekuler, percobaan farmakologi hewan hingga uji klinis pada pasien-pasien di berbagai kota di Indonesia," kata Raymond Tjandrawinata menerangkan.

Keberhasilan DLBS PT. Dexa Medica memproduksi bahan baku aktif obat herbal ini, tentu saja akan mendukung program pemerintah dalam kemandirian bahan baku obat nasional. Yang tidak kalah penting adalah memberikan nilai tambah bagi Indonesia, karena bahan baku aktif obat herbal dari DLBS ini dipatenkan di Indonesia dan di Internasional melalui skema Patent Cooperation Treaty.

DLBS memiliki 56 paten di berbagai negara (Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Korea, dan beberapa negara lain), dan 10 paten di Indonesia.

Lebih jauh Raymond Tjandrawinata memaparkan bahwa formulasi produk-produk obat herbal inovasi DLBS menggunakan metode pendekatan Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS). Yaitu kombinasi teknik kimia, biokimia, serta farmakologi modern yang diaplikasikan untuk menapis berbagai bahan alam potensial untuk menjadi kandidat obat.

DLBS juga menggunakan Teknologi Advance Fractionation Technology (AFT), dalam proses pembuatan ekstraksi bertingkat untuk menemukan fraksi spesifik yang tepat untuk mengobati penyakit. Bioactive fraction yang dihasilkan memiliki kemurnian yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak biasa.

DLBS menggunakan sumber-sumber kehidupan organisme seperti tumbuhan, hewan, dan mikroba untuk bahan risetnya, agar menemukan obat-obat baru dari bahan alam Indonesia. "DLBS kini menjadi rumah bagi para periset handal Tanah Air. Saat ini sudah lebih dari 160 saintis putra-putri Indonesia yang memiliki kompetensi berbagai disiplin ilmu, baik lulusan Dalam Negeri dan Luar Negeri.

"Kami sedang mengembangkan sekitar dua puluhan obat baru dari bahan alam Indonesia. Obat herbal ini kelak dapat diresepkan oleh dokter. Ini tantangan bagi para saintis yang mendedikasikan ilmunya di DLBS. Menemukan obat baru dari bahan alam Indonesia adalah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi seorang saintis," Raymond menegaskan.

Untuk itu, Raymond mengharapkan agar obat herbal Indonesia yang telah teruji klinis dapat menjadi bagian program BPJS, masuk di formularium obat nasional. Indonesia sebagai negara mega biodiversitas dunia, memiliki lebih 30.000 tanaman obat, namun belum ada satupun obat herbal yang masuk di formularium obat nasional.

Di tengah program percepatan kemandirian di bidang farmasi yang dijadikan salah satu program unggulan Pemerintah saat ini, maka membuka akses agar obat herbal yang sudah teruji klinis dipakai pada program BPJS, akan menstimuli pengusaha herbal untuk melakukan uji klinis produk obat herbalnya. Produk DBLS yang sudah masuk kategori fitofarmaka dan sudah dipasarkan antara lain: Stimuno (Sistem Imun), Levitens (Hipertensi), Inlacin (Diabetes) dan Resindex (Diabetes).

Keunggulan DLBS antara lain memanfaatkan biodiversitas Indonesia, mengimplementasikan prinsip Farmakologi dan Bioteknologi, melakukan uji klinik untuk melengkapi medical-evidence, memproduksi bahan baku obat herbal berdasarkan CPOTB-IEBA (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik-Industri Ekstrak Bahan Alam), dan sarat dengan Intellectual Property Right (HaKI), ungkap Raymond mengakhiri wawancara.

Ragam Penghargaan DLBS

Penghargaan WIPO Medal for Inventors diserahkan oleh Wakil Presiden RI., M. Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 26 April 2018.

SINTA AWARD 2018, Penulis Artikel Ilmiah dengan SINTA Score Tertinggi diberikan kepada Executive Director DLBS, Raymond Rubianto Tjandrawinata, Ph.D., M.S, MBA. diserahkan oleh Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Prof. dr.Ali Ghufron Mukti, M.Sc, di Jakarta, 4 Juli 2018.

Penghargaan Karya Anak Bangsa Bidang Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. diserahkan oleh Menteri Kesehatan RI., Nila Djuwita F. Moeloek SpM(K), di Jakarta, 18 November 2016.

Habibie Award 2016 di Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, diserahkan oleh Presiden RI. ke-3, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, di Jakarta, 5 Oktober 2016.

BPOM’S Award 2015 ‘Peran Aktif Melakukan Inovasi Pengembangan Obat Dalam Negeri’ diserahkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, disaksikan Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek dan Kepala Badan POM, Roy Alexander Sparringa, di Jakarta, 11 Februari 2015. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait