Kepala BPOM, Obat Tradisional Harus Bersaing di Pasar Global
Tanggal Posting : Minggu, 1 April 2018 | 12:01
Liputan : Redaksi - Dibaca : 448 Kali
Kepala BPOM, Obat Tradisional Harus Bersaing di Pasar Global
Kepala BPOM RI. Penny K. Lukito kunjungan ke UMKM di Sukoharjo

HerbaIndonesia.Com. Kepala BPOM Republik Indonesia, Penny K. Lukito menegaskan bahwa obat tradisional adalah warisan budaya bangsa, sekaligus penggerak perekonomian Indonesia, dan harus mampu bersaing di pasar global. Demikian disampaikannya, saat melakukan kunjungan ke UMKM obat tradisional di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Minggu, 1 April 2018.

Pada kesempatan tersebut, ikut mendampingi antara lain: Rr Maya Gustina Andarini, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI.

Dalam siaran pers yang diterima oleh redaksi HerbaIndonesia.Com, Kepala BPOM menjelaskan bahwa sektor Industri Obat Tradisional (OT) yang meliputi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka, merupakan salah satu sektor andalan penggerak perekonomian Indonesia.

Data BPOM RI menunjukkan setidaknya terdapat 751 sarana produksi obat tradisional di seluruh Indonesia dan 626 diantaranya merupakan usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM). Industr

"Dalam kehidupan modern, masyarakat Indonesia masih memegang teguh kultur bahwa obat tradisional adalah warisan leluhur untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan. Ini tentunya menjadi peluang yang harus kita manfaatkan sekaligus tantangan agar obat tradisional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi juga mampu bersaing di pasar global", ujar Kepala BPOM RI Penny K. Lukito.

"BPOM mendukung eksistensi UMKM obat tradisional khususnya jamu melalui pembinaan, pendampingan dan fasilitasi sehingga mampu memenuhi persyaratan dan standar keamanan, mutu, dan manfaat serta meningkatkan daya saing", lanjutnya.

Kunjungan kerja Kepala BPOM RI ke UMKM obat tradisional di Sukoharjo dan industri jamu di Semarang merupakan bentuk komitmen dan dukungan BPOM RI. terhadap peran strategis sektor usaha obat tradisional sebagai penggerak ekonomi rakyat. Dari hulu ke hilir, produk jamu ini sarat dengan potensi pemberdayaan masyarakat.

Mulai dari penanaman bahan baku, produksi simplisia, ekstraksi, produksi hingga pemasarannya. "Dan jika jamu menjadi budaya masyarakat, maka aspek hulu dan hilir ini akan bergerak, sehingga perekonomian Indonesia akan lebih maju. Apalagi jika jamu dikembangkan menjadi andalan ekspor", ungkap Kepala BPOM RI.

Jawa Tengah yang dikenal sebagai sentra produksi jamu di Indonesia memiliki setidaknya 17 Industri Obat Tradisional (IOT) dan 106 UMKM Obat Tradisional. Balai Besar POM di Semarang melakukan pembinaan penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) kepada 62 UMKM obat tradisional di wilayah Jawa Tengah dan 12 UMKM telah memperoleh Surat Keterangan penerapan CPOTB dalam Aspek Sanitasi dan Higiene dan Dokumentasi dari BPOM RI.

Sinergi Stakeholders Obat Tradisional
Kepala BPOM RI menyampaikan keberhasilan UMKM memperoleh sertifikat CPOTB menunjukkan bahwa CPOTB bukanlah hal yang mustahil bagi UMKM. UMKM harus memiliki kemauan dan komitmen untuk terus berbenah dan berproses membangun kapasitas sehingga benar-benar mampu menerapkan CPOTB.

"Sinergi Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sesuai kapasitasnya masing-masing adalah kunci sukses agar jamu tidak punah dan terus tumbuh berkembang", demikian Penny K. Lukito menambahkan.

Dalam kunjungan kerja ini, Kepala BPOM RI menyerahkan 128 Nomor Izin Edar (NIE) Obat Tradisional kepada 44 perusahaan, 103 Surat Persetujuan Variasi kepada 24 perusahaan, 5 Surat Keterangan Pemenuhan CPOTB dalam Aspek Sanitasi dan Higiene dan Dokumentasi kepada 5 pelaku usaha UMKM.

"Ini merupakan apresiasi dan pengakuan kepada pelaku usaha yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Selanjutnya pelaku usaha wajib menjaga komitmennya untuk menerapkan semua aspek CPOTB secara konsisten", ungkap Penny K. Lukito.

Secara khusus Kepala BPOM RI berpesan agar pelaku usaha jamu tidak melakukan praktik-praktik yang melanggar ketentuan seperti mencampurkan bahan kimia obat dalam produknya.

"Kami mendukung penuh pelaku usaha jamu untuk berinovasi dan mengembangkan produk yang terjamin keamanan, mutu, khasiat, dan keasliannya. Namun kami juga tak segan menindak tegas pelaku usaha yang melanggar aturan. Kita harus bangga dan memegang teguh filosofi bahwa jamu tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu sehingga merupakan warisan budaya bangsa yang harus kita jaga dan lestarikan", tegas Penny K. Lukito. (Redaksi HerbaIndonesia.Com)

 


Kolom Komentar
Berita Terkait