Kaidah dan Etika Hewan Percobaan pada Uji Pra Klinis Obat Herbal
Tanggal Posting : Senin, 14 Januari 2019 | 07:13
Liputan : Redaksi - Dibaca : 203 Kali
Kaidah dan Etika Hewan Percobaan pada Uji Pra Klinis Obat Herbal
Perlakuan secara etis pada Hewan Percobaan saat Uji Pra Klinis Obat Herbal di DLBS Dexa Medica. Foto: Dokumen DLBS

HerbaIndonesia.Com. Pada proses Uji Pra Klinis- produk obat herbal yang dilakukan di laboratorium menggunaan hewan percobaan, sebagai bagian dari rangkaian proses penelitian, memiliki tata cara dan kaidah-kaidah etika yang berlaku secara internasional.

Tata cara, dan etika penggunaan hewan percobaan telah lama diatur, misalnya melalui Lembaga Internasional yaitu The American Association for Accreditation of Laboratory Animal Care (AAALAC) International.

Uji Pra-Klinik dimaksudkan untuk mengetahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan ataukah tetap aman untuk dipakai. Dari pengamatan uji pra klinik dengan subyek hewan uji ini, dapat dipakai acuan untuk menentukan, apakah obat dapat diteruskan dengan uji pada manusia atau tidak.

Tahapan Uji Pra Klinis. Uji Pra Klinis dilakukan secara in vitro dan invivo pada hewan coba untuk melihat toksisitas dan efek Farmakodinamiknya.

Uji farmakodinamik pada hewan coba digunakan untuk memprediksi efek pada manusia, sedangkan uji toksisitas dimaksudkan untuk melihat keamanannya. Untuk menilai potensi suatu obat, atau obat tradisional tentang efektifitas farmakologinya.

Tujuan uji toksisitas dan farmakologi adalah menilai keamanan obat, obat tradisional, bahan kimia, untuk digunakan sebagai obat, suplemen atau makanana.

Tentang Kaidah Penggunaan Hewan Percobaan, sudah mulai pada tahun 1965, yaitu ketika dokter hewan dan peneliti terkemuka mengorganisir Asosiasi di Amerika untuk Akreditasi AAALAC, sebagai organisasi swasta nirlaba.

Pada tahun-tahun berikutnya, AAALAC mengakreditasi ratusan organisasi di seluruh Amerika Serikat, meningkatkan tolok ukur untuk perawatan hewan laboratorium ke level yang lebih tinggi.

Pada tahun 1996, AAALAC berganti nama menjadi AAALAC International. Perubahan nama mencerminkan pengakuan organisasi di negara lain, dan komitmennya untuk meningkatkan ilmu kehidupan dan perawatan hewan berkualitas di seluruh dunia.

AAALAC International mempromosikan perlakuan manusiawi terhadap hewan dalam sains melalui program akreditasi dan penilaian yang terukur. Lebih dari 1.000 perusahaan, universitas, rumah sakit, lembaga pemerintah dan lembaga penelitian lainnya di 47 negara telah mendapatkan akreditasi AAALAC.

Mengapa peran AAALAC penting? Bagi sebagian orang, penelitian hewan adalah topik yang kontroversial. AAALAC mendukung penggunaan hewan untuk memajukan kedokteran dan sains ketika tidak ada alternatif non-hewani, dan dilakukan dengan cara yang etis.

Hewan Percobaan untuk Riset
Dalam makalah berjudul "Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan", karya Endi Ridwan, Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta yang dimuat di Journal Indonesia Medicine Association, Volume: 63, Nomor: 3, Maret 2013, disebutkan bahwa:

Penelitian dengan hewan coba harus memperhatikan aspek perlakuan yang etis terhadap hewan-hewan tersebut, dengan prinsip 5F (Freedom).

Prinsip 5F (Freedom), yaitu: bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa nyeri, trauma, dan penyakit, bebas dari ketakutan dan stress jangka panjang, bebas mengekspresikan tingkah laku alami, diberikan ruang dan fasilitas yang sesuai (pengayaan lingkungan yang sesuai).

Seluruh perlakuan terhadap hewan percobaan dituangkan secara rinci di dalam protokol penelitian yang dianalogikan sebagai informed consent pada penelitian yang menggunakan relawan manusia.

Prinsip Etika Penelitian Dalam pelaksanan penelitian, peneliti harus membuat dan menyesuaikan protokol dengan standar yang berlaku secara ilmiah dan etik penelitian kesehatan. Etik penelitian kesehatan secara umum tercantum dalam World Medical Association, yaitu:

  • Respect (menghormati hak dan martabat makhluk hidup, kebebasan memilih dan berkeinginan, serta bertanggung jawab terhadap dirinya, termasuk di dalamnya hewan coba),
  • Beneficiary (bermanfaat bagi manusia dan makhluk lain, manfaat yang didapatkan harus lebih besar dibandingkan dengan risiko yang diterima),
  • Justice (bersikap adil dalam memanfaatkan hewan percobaan).

Contoh sikap tidak adil, antara lain: hewan disuntik/dibedah berulang untuk menghemat jumlah hewan, memakai obat euthanasia yang menimbulkan rasa nyeri karena harga yang lebih murah.

Bahan uji (obat) yang akan dimanfaatkan pada manusia harus lolos dari pengujian di laboratorium secara tuntas dan dilanjutkan dengan penelitian pada hewan percobaan untuk mengetahui kelayakan dan keamanannya.

Hewan percobaan diperlukan untuk mengamati dan mengkaji seluruh reaksi dan interaksi bahan uji yang diberikan, serta dampak yang dihasilkan secara utuh dan mendalam.

Kelayakan penggunaan hewan percobaan pada penelitian harus dikaji dengan membandingkan risiko yang dialami hewan percobaan dengan manfaat yang akan diperoleh untuk manusia.

Setiap penelitian yang menggunakan hewan percobaan secara etis harus menerapkan prinsip umum etika penelitian kesehatan dan prinsip 3 R yaitu: replacement, reduction, dan refinement.

Perlakuan terhadap hewan percobaan perlu dituangkan secara rinci dalam protokol penelitian sebagai pengganti informed consent pada subjek manusia.

Hewan percobaan adalah setiap hewan yang dipergunakan pada sebuah penelitian biologis dan biomedis yang dipilih berdasarkan syarat atau standar dasar yang diperlukan dalam penelitian tersebut.

Dalam menggunakan hewan percobaan untuk penelitian diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai berbagai aspek tentang sarana biologis, dalam hal penggunaan hewan percobaan laboratorium.

Pengelolaan hewan percobaan diawali dengan pengadaan hewan, meliputi pemilihan dan seleksi jenis hewan yang cocok terhadap materi penelitian.

Pengelolaan dilanjutkan dengan perawatan dan pemeliharaan hewan selama penelitian berlangsung, pengumpulan data, sampai akhirnya dilakukan terminasi hewan percobaan dalam penelitian.

Rustiawan menguraikan beberapa alasan mengapa hewan percobaan tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan dan gizi antara lain:

  • Keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi,
  • Variabel penelitian lebih mudah dikontrol,
  • Daur hidup relatif pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi,
  • Pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi penelitian yang dilakukan,
  • Biaya relatif murah,
  • Dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi,
  • Mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ hewan yang digunakan,
  • Memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi,
  • Dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas.

Saat ini, beberapa strain tikus digunakan dalam penelitian di laboratorium hewan coba di Indonesia, antara lain:

Wistar; (asalnya dikembangkan di Institut Wistar), yang turunannya dapat diperoleh di Pusat Teknologi Dasar Kesehatan dan Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik Badan Litbangkes; dan Sprague Dawley; (tikus albino yang dihasilkan di tanah pertanian Sprague-Dawley), yang dapat diperoleh di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan Pusat Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes.

Sertifikasi dan Akreditasi AAALAC di DLBS
Salah satu institusi yang memiliki komitmen melakukan riset herbal untuk menemukan obat-obat baru dari bahan alam Indonesia adalah DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) PT. Dexa Medica yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

DLBS kini telah mampu memproduksi bahan baku aktif obat herbal dalam bentuk bioactive fraction. Prestasi ini, menjadikan DLBS sebagai lembaga pertama yang mampu memproduksi bioactive fraction herbal di Indonesia.

Produk DLBS PT. Dexa Medica untuk swamedikasi dari bahan alam yaitu: HerbaKOF (Obat Batuk), HerbaVOMITZ (Obat Kembung dan Mual), HerbaCOLD (Obat Gejala Pilek dan Sakit Tenggorakan), HerbaPAIN (Obat Nyeri Kepala), Stimuno (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh).

HerbaVOMITZ selain dipasarkan di Indonesia, juga telah diekspir dan dipasarkan di Singapura, dan sudah masuk ke pasar Kanada dengan merek Senokot, dalam waktu dekat akan beredar di pasar Amerika.

Produk DLBS PT. Dexa Medica yang dipasarkan melalui channel pasar obat etikal yaitu:

  • Anerdic: dengan kandungan DLBS2411, dikembangkan dari Cinnamomum burmannii, mampu mengobati tukak peptic.
  • Redacid: dengan kandungan DLBS2411, yang merupakan fraksi bioaktif dari Cinnamomum burmannii, terbukti mampu mengobati tukak peptic.
  • Dismeno: membantu meredakan nyeri haid.
  • Phalecarps: memiliki aktivitas sebagai anti-kanker khususnya pada sel payudara.
  • Disolf: obat antitrombotik dan trombolitik bagi pasien yang menderita penyakit Kardiovaskular dan Serebrovaskular.
  • Inlacin: membantu mengurangi kadar gula dalam darah pada penderita Diabetes tipe 2.

Menurut Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D., MBA, FRSC., produk obat herbal alami dari Dexa Medica memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk obat dari bahan kimia.

Keberhasilan DLBS PT. Dexa Medica memproduksi bahan baku aktif obat herbal ini, akan mendukung program pemerintah dalam kemandirian bahan baku obat nasional.

"Bahan baku aktif obat herbal hasil riset DLBS dipatenkan di Indonesia dan Internasional melalui skema Patent Cooperation Treaty. Ini juga memberikan nilai tambah yang sangat penting," urai Raymond Tjandrawinata.

DLBS memiliki 56 paten di berbagai negara (Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Korea, dan beberapa negara lain), dan 10 paten di Indonesia.

Raymond Tjandrawinata memaparkan bahwa formulasi produk-produk obat herbal inovasi DLBS menggunakan metode pendekatan Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS). Yaitu kombinasi teknik kimia, biokimia, serta farmakologi modern yang diaplikasikan untuk menapis berbagai bahan alam potensial untuk menjadi kandidat obat.

DLBS juga menggunakan Advance Fractionation Technology (AFT), dalam proses pembuatan ekstraksi bertingkat untuk menemukan fraksi spesifik yang tepat untuk mengobati penyakit. Bioactive fraction yang dihasilkan memiliki kemurnian yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak biasa.

Raymond menjelaskan bahwa penemuan obat herbal oleh DLBS melalui serangkaian proses panjang, mulai dari survei pasar, merumuskan ide dan melakukan riset, uji pra klinis, hingga uji klinis, serta mematenkan hasil temuannya di Indonesia dan di dunia Internasional.

"Kami mempelajari kandidat bahan aktif dari segi kimia hingga biologi pada tingkat molekular melalui sebuah proses yang disebut TCEBS. Suatu metodologi penyaringan sistematis untuk menemukan kandidat yang paling aktif dan berpotensi untuk produk kami, diikuti bioassay system yang memanfaatkan teknik ekspresi gen dan protein array," kata Raymond.

DLBS mengembangkan bahan baku aktif yang terjamin tingkat keamanan dan mekanisme kerjanya. Dalam pengembangan ini, DLBS memanfaatkan ilmu biomolekular serta ilmu-ilmu lainnya seperti fitokimia, kimia, farmasi, nanoteknologi, ilmu kehewanan, dan ilmu klinis.

Seluruh bidang ilmu ini dimanfaatkan secara bersamaan, untuk mencapai tujuan meningkatkan kualitas hidup melalui penemuan obat baru dan pengembangan nutrisi.

DLBS mempelajari karakteristik farmakologi, baik farmakodinamik dan farmakokinetik, dari produk-produk yang dihasilkan, melalui uji pra-klinis di berbagai laboratorium hewan. Juga dilakukan uji toksikologi terhadap produk-produknya, termasuk pengujian akut, sub-kronis, dan toksikologi kronik, serta teratogenik.

Perlakuan terhadap hewan secara manusiawi dan sesuai etika, telah didesain di vivarium DLBS untuk memenuhi persyaratan yang berlaku.

Produk DLBS telah melewati uji pra-klinis yang ketat, kemudian memasuki tahap uji klinis pada manusia. Uji Klinis ini mengacu prinsip Good Clinical Practice (GCP) dan didukung dengan ethical clearance (izin dari komisi etik).

Riset berkualitas di sejumlah rumah sakit dan klinik untuk melakukan Uji Klinis, sehingga produk DLBS merupakan produk-produk berdasarkan bukti nyata (evidence based medicine).

DLBS meningkatkan mutu hasil penelitian Pra-Klinis dengan memenuhi syarat sistem AAALAC (Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care). Sistem ini mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan coba termasuk cara perlakuan terhadap hewan tersebut, yaitu tempat tinggal dan makananannya dan metode penelitiannya.

Pada 26 Maret 2012 DLBS dikunjungi oleh 2 orang inspector dari AAALAC International. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk melihat standar atas pengujian hewan di DLBS.

Apakah sudah sesuai dengan guidance yang berlaku. Saat kunjungan, para inspektor melihat program yang dimiliki DLBS, dokumen-dokumen yang berlaku, serta kondisi vivarium yang ada.

Tim dari AAALAC International sangat terkesan atas komitmen Dexa Group untuk investasi di bidang ini, staff yang berkualitas, Keamanan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang baik, Komisi Etik IACUC (Institutional Animal Care and Use Committee) yang terlatih dan terkualifikasi, dokumentasi yang lengkap, serta fasilitas yang bersih dan terawat.

Tim dokter hewan di DLBS yang tergabung dalam seksi Animal Pharmacology telah mempelajari dan mengikuti ketentuan yang ditetapkan pada sistem tersebut dan menerapkannya dalam kegiatan penelitian.

"DLBS sangat mementingkan hak-hak hewan secara etis. Karena DLBS menghargai setiap kehidupan," tegas Raymond Tjandrawinata saat dihubungi Redaksi JamuDigital.Com, Selasa, 8 Januari 2019.

Prinsip kerja AAALAC yang diadopsi DLBS, lanjut Raymond, adalah mementingkan hak hidup hewan dan perlakuan secara etis, agar mereka hidup sejahtera, dan apabila harus dikorbankan, mereka tidak merasa kesakitan.

Apabila kesejahteraan hidup mereka terkorbankan, maka data yang didapatkan menjadi tidak sempurna. Banyak confounding factors.

Itulah sebabnya, etika perlakuan hewan benar-benar harus ditegakkan, agar hasil yang didapatkan benar-benar merefleksikan apa adanya, sesuai dengan design percobaan.

Raymond Tjandrawinata menambahkan, DLBS memiliki komitmen dalam pencarian obat baru dengan sejumlah keunggulan:

  • Menggunakan biodiversitas Indonesia,
  • Menggunakan prinsip Farmakologi modern dengan pendekatan biomolekular untuk mencari obat-obat baru,
  • Melakukan Uji Klinik untuk melengkapi evidence based medicine sesuai prinsip Good Cinical Practice (GCP),
  • Melakukan uji pada hewan percobaan secara etis, sesuai sertifikasi Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care (AAALAC) International,
  • Sarat muatan Intellectual Property Right. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait