Jamu Itu Ya Harus Alami
Tanggal Posting : Kamis, 12 April 2018 | 06:51
Liputan : Redaksi - Dibaca : 229 Kali
Jamu Itu Ya Harus Alami

HerbaIndonesia.Com. Berikut ini serial artikel HerbalSehat yang ditulis oleh Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau adalah Peneliti Herbal Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China. Semoga bermanfaat.

Jamu merupakan obat tradisional dengan komposisi dari herbal alami dimana klaim khasiatnya berdasarkan empiris atau turun temurun. Anehnya, di kalangan masyarakat terdapat pemahaman bahwa jamu yang bermutu adalah yang cespleng alias segera dirasakan khasiatnya begitu diminum.
Akibat salah pemahaman, hal ini dijadikan peluang pasar bagi para produsen jamu nakal dengan cara jamu dicampurkan dengan bahan kimia obat (BKO).

Mereka dapat meraup keuntungan milyaran rupiah hanya dalam waktu rata-rata 1 tahun setelah membangun usahanya. Di sisi lain, masyarakat sebagai pihak pengguna malah mendapatkan efek samping dari bahan kimia obat tersebut.

Misalnya, pencampuran parasetamol pada jamu menyebabkan terjadinya kerusakan pada hati yang ditandai dengan meningkatnya kadar SGPT dan SGOT. Asetosal yang lazim digunakan sebagai analgetik dapat menyebabkan terjadinya iritasi lambung bahkan dalam keadaan kronis menyebabkan ulkus yang bisa berakibat fatal.

Belum lagi efek samping yang ditimbulkan oleh pemakaian obat golongan kortikosteroid seperti prednison atau deksametason yang biasanya dicampurkan pada jamu untuk pegel linu dan nyeri tulang. Obat kimia ini dapat menyebabkan ‘Moon Face’ dimana wajah kelihatan bulat dan bersifat ireversibel meski penggunaan jamu yang mengandung kortikosteroid ini dihentikan.

Dampak dari jamu yang dicampurkan bahan kimia obat ini tidak hanya merusak tubuh. Lebih jauh lagi adalah merusak pasaran jamu nasional yang benar-benar menggunakan bahan herbal alami. Padahal pasar jamu nasional menunjukan grafik peningkatan yang terus meningkat.

Misalnya, berdasarkan least square method, pasar jamu nasional diprediksi mencapai 23 trilyun pada tahun 2025. Selain itu, survey Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2013 menyebutkan bahwa sekitar 50% masyarakat Indonesia pernah konsumsi jamu. Dengan adanya Jamu Kimia alias Jamu BKO ini menjadi beban berat bagi para produsen jamu yang benar-benar menggunakan bahan herbal alami.

Masyarakat perlu diberikan edukasi untuk bisa membedakan antara jamu herbal alami dengan jamu kimia/BKO. Jamu BKO khasiatnya langsung terasa begitu diminum (biasanya hanya dalam hitungan menit atau jam), ini justru perlu diwaspadai. Jamu herbal alami tidak bisa memberikan efek secepat itu karena sifatnya adalah promotif dan suportif bukan kuratif.

Untuk memberikan khasiat, jamu membutuhkan waktu berhari-hari dengan sarat konsumsi jamu secara rutin. Tanda lainnya, jamu BKO kelihatan tidak homogen campurannya antara bahan organik (herbal) dengan bahan kimia (obat). Jika masyarakat melakukan cara-cara analisis makroskopis, niscaya dapat terhindar dari konsumsi jamu BKO.

Spirulina termasuk herbal alami yang diperoleh dari sumber aquakultur, yaitu sumber habitatnya di dalam air. Diantara jenis spirulina, spesies platensis telah berhasil dikembangbiakkan di Indonesia dari habitat air laut ke dalam air tawar melalui optimasi pH, suhu, nutrisi, dan kelembapan. Sampai kini ini tidak ada laporan pencampuran spirulina dengan BKO.

Akan tetapi, perlu diwaspadai adanya spirulina impor yang telah dipisahkan kandungan zat aktifnya yaitu zat biru (fikosianin). Artinya, spirulina yang tidak ada fikosianinnya sudah dapat dipastikan aktivitas antioksidannya turun. Sedangkan fikosianin merupakan suatu protein yang memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Antioksidan ini berperan utama untuk detoksifikasi racun-racun dalam tubuh dan antiaging.


Kolom Komentar
Berita Terkait