Herbal Indonesia Mendunia Era Making Indonesia 4.0
Tanggal Posting : Jumat, 5 Oktober 2018 | 08:42
Liputan : Artikel: Karyanto, Founder JamuDigital.Com - Dibaca : 43 Kali
Herbal Indonesia Mendunia Era Making Indonesia 4.0
Memasarkan produk Herbal Indonesia ke pasar global memperkokoh daya saing nasional

HerbaIndonesia.Com Jamu dan Obat Herbal Indonesia adalah produk prospektif, memiliki potensi pasar dalam negeri dan internasional yang menggiurkan. Tidak heran jika banyak perusahaan berbondong-bondong berhasil menembus pasar global. Adakah era Making Indonesia 4.0, memberi stimulus?

Dari informasi para pebisnis herbal yang saya dengar, memang prospek ekspor herbal Indonesia menjanjikan. Banyak keuggulan komparatif yang dimiliki. Tetapi, memang banyak hal yang harus dibenahi, diantaranya: peningkatan kualitas, tampilan kemasan, strategi marketing/branding, dan dukungan pemerintah.

Berikut ini, beberapa data kinerja ekspor. Nilai ekspor obat herbal Indonesia tahun 2013: USD 23,44 juta, nilai ekspor periode Januari-Juni 2014:r USD 29,13 juta, meningkatan 600% dari nilai ekspor pada periode Januari-Juni 2013. Pertumbuhan ekspor obat herbal Indonesia periode 2009-2013 meningkat 6,49%/tahun.

Produk utama ekspor obat herbal periode Januari-Juni 2014: Jahe (HS 091010), nilai ekspor sebesar USD 25,8 juta, dengan pangsa ekspor 88,58% dari total ekspor obat herbal Indonesia. Rempah-rempah lainnya (HS 091099) nilai ekspor: USD 1,84 juta (6,33%), dan Curcuma (HS 091030) nilai ekspor USD 699 ribu (2,4%).

Negara tujuan ekspor obat herbal Indonesia periode Januari-Juni 2014: Bangladesh nilai USD 10,94 juta (pangsa ekspor obat herbal 37,55%), Pakistan USD: 10,71 juta (36,76%), Malaysia: USD 2,67 juta (9,17%), Vietnam: USD 1,19 juta (4,12%) dan Jepang: USD 806 ribu (2,77%).

Nilai ekspor obat herbal dunia pada tahun 2013 mencapai USD 1,94 miliar, meningkat sebesar 12,4% dari nilai ekspor tahun 2012. Pertumbuhan ekspor obat herbal dunia selama periode 2009-2013 tumbuhan sebesar 4,82%/tahun (Sumber: Warta Ekspor, Edisi September 2014).

Trend Perkembangan Ekspor Simplisia dan Obat Tradisional berdasarkan data BPS adalah sebagai berikut: Ekspor simplisia (dalam ribuan USD): Tahun 2012 (410,5), Tahun 2013 (622,0), Tahun 2014 (767,2), Tahun 2015 (339,0), Tahun 2016 (340,0).

Ekspor obat tradisional (dalam ribuan USD): Tahun 2012 (76,0), Tahun 2013 (331,0), Tahun 2014 (120,0), Tahun 2015 (217,1), Tahun 2016 (155,6). Trend kenaikan sebesar 10,63% (Sumber: www.kemenperin.go.id)

Penggunaan Obat Tradisional masyarakat Indonesia, ketika mengalami keluhan kesehatan: Tahun 2009: 24,24 % Tahun 2010: 27,57% Tahun 2011: 23,63% Tahun 2012: 24,33% Tahun 2013: 24,33% Tahun 2014: 20,99 % (Sumber: BPS RI - Susenas, 2009-2014)

Revolusi Industri 4.0
Konsep revolusi industri 4.0 (Industri 4.0), diperkenalkan oleh Prof. Klaus Schwab, Ekonom Jerman dalam bukunya, ‘The Fourth Industrial Revolution’. Industri 4.0 adalah era industri yang mensinergikan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Sebuah tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur, sistem cybe, Internet of Things (IoT), komputasi awan dan komputasi kognitif.

Empat tahap evolusi industri: 1. Revolusi Industri 1.0, akhir abad ke-18. Ditandai ditemukan alat tenun mekanis tahun 1784. Kemudian temukan mesin uap. Sehingga peralatan kerja dengan tenaga manusia/hewan digantikan dengan mesin uap. 2. Revolusi Industri 2.0, awal abad ke-20. Pengenalan produksi masal.

3. Revolusi Industri 3.0, awal 1970. Penggunaan elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi produksi berbasis komputer. 4. Revolusi Industri 4.0, awal 2018. Ditandai dengan sistem cyber-physical, dunia virtual, internet of things (IoT).

Making Indonesia 4.0, Menstimuli Ekspor Herbal?
Memasuki era Industri 4.0, Kementerian Perindustrian meluncurkan ‘Making Indonesia 4.0 pada pembukaan ‘Indonesia Industrial Summit 2018’ di JCC, Jakarta, pada Rabu 4 April 2018.

Inisiatif Making Indonesia 4.0, memberikan potensi besar melipatgandakan produktifitas tenaga kerja, meningkatkan daya saing, dan mengangkat pangsa pasar ekspor global.

Ekspor yang tinggi akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, konsumsi domestik lebih kuat. Indonesia diharapkan menjadi salah satu dari 10 besar ekonomi dunia.

Industri 4.0 mencakup beragam teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), wearables, robotika canggih, dan 3D printing. Indonesia berfokus pada lima sektor utama untuk penerapan awal, yaitu: Sektor makanan & minuman, Tekstil & pakaian, Otomotif, Kimia, dan Elektonik.

Menilik potensi pangsa ekspor obat herbal, maka dengan format peta jalan Making Indonesia 4.0, akan mendorong efektifitas dan produktifitas di sektor industri obat herbal. Kendati saat ini, belum masuk sebagai sektor unggulan, dengan upaya peningkatan disemua lini, maka potensi obat herbal dapat dijadikan alternatif terpilih dan akan menjadi keunggulan daya saing Indonesia.

Berbondong Menembus Ekspor
Ketika saya mengkonfirmasi tentang data angggota GP. Jamu yang sudah ekspor, menurut Direktur Eksekutif Pengurus Daerah GP. Jamu, Jawa Tengah, Stefanus Handoyo Saputro, antara lain berikut ini: PT Sido Muncul, PT Air Mancur, Pabrik Jamu Borobudur, Jamu Jago, Deltomed, Jamu Iboe.

Sedangkan negara tujuan ekspor, antara lain ke: Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam, Thailand, Vietnam, Filipina, Jepang, Taiwan, Saudi Arabia, Nigeria, Switzerland, Rusia, Amerika, Kanada, Mexico, New Zealand, China, Hong Kong, India, Afrika Barat, Timur Tengah, dan Australia.

"Kami perlu dukungan pemerintah untuk mempromosikan Jamu di luar negeri melalui ITPC (Indonesia Trade Promo Center) yang diadakan dibeberapa negara dan dukungan regulasi di bidang ekspor yang lebih mudah, agar Jamu semakin bersaing," katanya ketika dihubungi pada Rabu malam, 26 September 2018.

Penghargaan Eksportir Obat Herbal

Primaniyarta Award

Pemerintah telah memberikan apresiasi terhadap perusahaan nasional yang konsisten melakukan ekspor obat dan obat herbal, yaitu Primaniyarta Award.

Salah satu produsen obat herbal yang telah mendapat Primaniyarta Award, Kategori Pembangun Merek Global adalah PT Dexa Medica. Penghargaan diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 5 Oktober 2005.

Produk herbal Dexa Medica yang dipasarkan ke pasar dunia, yaitu: Stimuno, HerbaKOF, HerbaPAIN, HerbaVOMITZ, HerbaCOLD, Inlacin, Redacid, dan Disolf.

"Kami akan berusaha terus menambah produk herbal yang akan diekspor, dan juga memperluas negara tujuan ekspor," kata Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D., M.S, MBA., Executive Director DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences), saat diminta pendapatnya pada Selasa, 25 September 2018.

Kemampuan bersaing obat herbal Indonesia, lanjut Raymond, tidak kalah dibandingkan dengan produk herbal negara lain. Hal ini dibuktikan, kini produk herbal Dexa Medica telah masuk ke pasar Filipina, Kamboja, Kanada, dan USA.

Tentu tidak sedikit kendala untuk dapat masuk ke pasar ekspor. Salah satunya adalah kendala registrasi di masing-masing negara tujuan ekspor. Dokumen harus lengkap, meliputi hasil toksikologi, uji praklinis dan klinis. Tanpa ada data tersebut tidak disetujui. "Penting juga diketahui, bagaimana cara herbal tersebut bekerja secara farmakologi," Raymond menambahkan.

Ayo teruskan berbondong-bondong menembus pasar ekspor, karena era back to nature dunia adalah pasar yang sangat menjanjikan.

*Karyanto, Founder JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait