Gel Binahong Mengobati Luka Diabetes
Tanggal Posting : Kamis, 7 Juni 2018 | 14:50
Liputan : Redaksi - Dibaca : 152 Kali
Gel Binahong Mengobati Luka Diabetes
Gel Binahong Mengobati Luka Diabetes

(www.herba-indonesia.com) Berikut ini serial artikel HerbalSehat yang ditulis oleh Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau adalah Peneliti Herbal Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China. Semoga bermanfaat.

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah karena gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, serta organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

WHO memprediksikan Indonesia akan mengalami kenaikan jumlah penderita dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030. Sebanyak 15% penderita DM akan mengalami komplikasi luka diabetes.

Penyakit kulit akibat luka pada penderita diabetes melitus cukup banyak ditemukan di Indonesia, yang termasuk dalam 10 besar negara dengan pengidap diabetes melitus terbanyak dan mencapai 8,5 juta jiwa.

Komplikasi ini menjadi alasan utama bagi penderita diabetes melitus untuk dirawat di rumah sakit dalam waktu lama. Hal ini disebabkan karakteristik luka diabetik dikarakteristikan sebagai luka kronis yang memiliki waktu penyembuhan lama.

Memanjangnya waktu penyembuhan luka diabetik disebabkan karena respon inflamasi yang memanjang. Apabila menggunakan perawatan luka standar, lama waktu penyembuhan luka diabetik mencapai 12-20 minggu.

Saat ini banyak penelitian yang dilakukan terhadap tanaman obat terkait manfaat yang dapat diberikan terhadap penyembuhan berbagai penyakit, termasuk penyembuhan luka.

Tingginya ketertarikan penelitian terhadap tanaman obat disebabkan asumsi bahwa tanaman obat lebih aman dibanding produk sintetis (Parakh, 2010).

Salah satu tanaman obat Indonesia yang sangat populer adalah binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) dari suku Basellaceae yang dikemas dalam sediaan praktis berbentuk gel.

Umumnya gel merupakan suatu sediaan semi padat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan disperse koloid yang mempunyai kekuatan disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi.

Binahong tumbuh menjalar dan panjangnya dapat mencapai 5 meter, berbatang lunak berbentuk silindris dan pada sela-sela daun dan tangkai terdapat seperti umbi yang bertekstur kasar.

Daunnya tunggal dan mempunyai tangkai pendek, bersusun berseling-seling dan berbentuk jantung.Panjang daun antara 5 sampai 10 cm dan mempunyai lebar antara 3 sampai 7 cm.

Tanaman binahong mampu mempercepat proses penyembuhan luka dengan memasok senyawa-senyawa yang diperlukan dalam proses regenerasi jaringan dan fase proliferasi seperti saponin, alkaloid, tannin, steroid, triterpenoid, flavonoid dan asam askorbat (Esimone et al., 2005).

Senyawa flavonoid dapat mempercepat proses penyembuhan luka dengan membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler, mengaktivasi enzim, dan merusak membran sel (Pepeljnjak, et al., 2005).

Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan bakteri sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh.

Tanin memiliki aktivitas antibakteri dengan daya toksisitas tanin sendiri akibat adanya ikatan kompleks dengan enzim atau substrat mikroba (Juliantina, et al., 2009).

Saponin sebagai antibakteri dengan mengganggu stabilitas membran sel bakteri sehingga bakteri lisis. selain itu, saponin mampu meningkatkan pertumbuhan kolagen yang merupakan salah satu faktor penyembuhan luka.

Steroid dan Triterpenoid membantu proses sintesis organik dan pemulihan sel sel tubuh (Manoi, 2009). Asam askorbat mampu mengaktifkan enzim prolil hidroksilase yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan kolagen, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka (Susetya, 2012).

Gel umumnya merupakan suatu sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan disperse koloid yang mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan pada fase terdispersi. (Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau Peneliti Herbal Fakultas Farmasi UAD; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China) (Redaksi HerbaIndonesiaCom)


Kolom Komentar
Berita Terkait