Fitoterapi Hipertensi dengan Daun Kelor
Tanggal Posting : Kamis, 15 Maret 2018 | 07:17
Liputan : Redaksi - Dibaca : 101 Kali
Fitoterapi Hipertensi dengan Daun Kelor

(www.herba-indonesia.com) Berikut ini serial artikel HerbalSehat yang ditulis oleh Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau adalah Peneliti Herbal Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China. Semoga bermanfaat.

Hipertensi termasuk penyakit tidak menular (PTM) yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah di atas normal yaitu ≥ 120 (sistolik) / 80 (diastolik) mmHg, meskipun pada setiap orang nilainya bisa bervariasi. Penderita hipertensi di Indonesia diperkirakan mencapai 25% dari keseluruhan penduduk Indonesia, yaitu 65.048.110 jiwa yang menderita hipertensi. Di Provinsi Jawa Tengah, hipertensi merupakan penyakit terbesar dari seluruh PTM yang dilaporkan, yaitu sebanyak 57,89%.

Penyakit ini diduga kuat disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, keturunan, jenis kelamin, merokok, konsumsi alkohol, kegemukan, stres, penyakit ginjal, gangguan adrenal, penyakit jantung bawaan, asupan garam berlebih, kurang olah raga dan lain-lain. Hipertensi yang tidak segera ditangani secara benar dapat menyebabkan kerusakan dan komplikasi pada berbagai organ, antara lain hati, otak, ginjal dan mata.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 30-50% konsumsi kesehatan dialokasikan untuk ramuan herbal. Di Indonesia sendiri, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Kemenkes tahun 2013 menunjukkan bahwa 30,4% masyarakat telah memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional, dari angka tersebut sebesar 49,0% memanfaatkan ramuan herbal (fitoterapi) (Faisal, 2017).

Salah satu tanaman yang telah dikenal secara luas oleh masyarakat untuk menurunkan tekanan darah atau hipertensi adalah tanaman daun kelor (Moringa oleifera Lmk). Tanaman ini dicirikan dengan daunnya berbentuk bulat telur, ukuran relatif kecil, tersusun selang seling, dan helai daun berwarna hijau muda. Tingginya bisa mencapai 7-11 meter bahkan lebih.

Sebagai tanaman obat, daun kelor mengandung berbagai senyawa yang bersifat antihipertensi, yaitu kalium yang berperan untuk mengontrol tekanan darah, ritme dan fungsi jantung sehingga dapat mencegah hipertensi. Kandungan senyawa aktif lain adalah arginine, leusin dan metionin.

Berdasarkan berat keringnya, daun kelor mengandung protein sebanyak 27% dan kaya dengan vitamin A, B, C dan kalsium. Daun kelor juga mengandung senyawa alkaloid yaitu moringin, moringinan, dan pterigospermin.

Menurut Restiana dkk, pemberian ekstrak etanol daun kelor pada hewan percobaan tikus hipertensi pada dosis 337,9 mg/200 gram berat badan menunjukkan persentase penurunan tekanan darah yang lebih besar, bahkan dibandingkan dengan obat antihipertensi kimia pada dosis 2,310 g/200 gram berat badan.

Khasiat daun kelor sebagai antihipertensi ini berhubungan dengan kandungan kalium yang tinggi, yaitu 259 mg/100 g daun kelor. Di sisi lain, kandungan natrium daun kelor yang relatif rendah bermanfaat dan aman bagi penderita hipertensi. Hal ini karena kandungan kalium yang tinggi berbanding natrium sangat menguntungkan dalam rangka pencegahan penyakit hipertensi (Purnomo, 2012).

Selain itu, khasiat antihipertensi daun kelor dimungkinkan oleh adanya mekanisme antioksidan dari vitamin C. Mekanisme lain dalam menurunkan tekanan darah oleh daun kelor adalah melalui penurunan kadar lemak LDL dan peningkatan kadar HDL. Tingginya kadar LDL (lemak jahat) dan rendahnya kadar HDL (lemak baik) menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.

Berbagai bentuk sediaan daun kelor yang bisa digunakan untuk terapi hipertensi diantaranya bentuk seduhan teh, ekstrak dalam kapsul, sirup dan bahkan bisa disajikan sebagai hidangan sayur daun kelor atau bahkan dikonsumsi sebagai rebusan daun kelor.

Caranya, 1 ikat daun kelor yang telah dipisahkan dengan bagian tangkainya, direbus menggunakan 3 gelas air sampai menjadi 1 gelas dan diminum sekali habis pada malam hari.

Terapi ini dilakukan selama lebih kurang 14 hari untuk mendapatkan penurunan tekanan darah yang signifikan. (Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau Peneliti Herbal Fakultas Farmasi UAD; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China) (Redaksi HerbaIndonesiaCom)


Kolom Komentar
Berita Terkait