Dua Profesor UGM Minum Jamu Bersama di Car Free Day Jakarta
Tanggal Posting : Senin, 8 Juli 2019 | 05:34
Liputan : Redaksi - Dibaca : 12 Kali
Dua Profesor UGM Minum Jamu Bersama di Car Free Day Jakarta
Dua Profesor UGM dan Sejumlah Alumni Fakultas Farmasi UGM Angkatan 1981, Minum Jamu Bersama pada Event Car Free Day di Jakarta, Hari Minggu, 7 Juli 2019.

HerbaIndonesia.Com. Prof. Dr. Ratna Asmah Susidarti, M.S., Apt. (Guru Besar Fakultas Farmasi UGM), Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. (Direktur Penelitian UGM), Founder JamuDigital, Karyanto, dan sejumlah alumni Fakultas Farmasi UGM Angkatan 1981 adakan "Minum Jamu Bersama" di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada Event Car Free Day, hari Minggu, 7 Juli 2019.

Kegiatan diatas, merupakan bagian dari ajang reuni untuk silaturahmi, bertukar informasi antara para alumni Farmasi UGM Angkatan 1981 yang pernah dan masih berkarya di berbagai institusi, seperti: Dosen, Lembaga Peneliti, Rumah Sakit, BUMN Farmasi, Farmasi Swasta Nasional, Farmasi PMA, dan Perusahaan Jamu.

Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. (Department of Pharmacology & Therapy, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta) pada kesempatan ini mengirimkan makalah bertajuk "Kedudukan Jamu/Obat Tradisional Di antara Obat Konvensional", kepada Redaksi JamuDigital.Com, pada Senin, 8 Juli 2019. Berikut cuplikan artikel tersebut:

Di awal makalahnya, Prof. Mustofa menjelaskan bahwa Jamu (Obat Tradisional Indonesia) adalah bahan atau ramuan bahan tumbuhan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan dan hewan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-menurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat digunakan sesuai dengan normal yang berlaku di masyarakat (Permenkes RI, No. 06, Tahun 2012).

Dijelaskan pula tentang Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KOTRANAS) adalah Kebijakan OT secara menyeluruh dari hulu ke hilir meliputi budidaya dan konservasi sumber daya obat, kemananan dan khasiat OT, mutu, aksebilitas, penggunaan yang tepat, pengawasan, penelitian dan pengembangan, industrialisasi dan komersialisasi, dokumentasi dan database, pengembangan SDM serta pemantauan dan evaluasi (Kepmenkes 381/Menkes/SK/III/2007).

Tujuan Kotranas:

  • Mendorong pemanfaatan SDA dan ramuan tradisional secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai OT dalam upaya peningkatan Yankes.
  • Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia secara lintas sektor agar mempunyai daya saing sebagai sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara yang berkelanjutan.
  • Tersedianya OT yang terjamin mutu khasiat dan keamanannya, teruji secara ilmiah & dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam Yankes formal.
  • Menjadikan OT sbg komoditi unggul yang memberikan multi manfaat yaitu meningkatkan ekonomi masyarakat, memberikan peluang kesempatan kerja & mengurangi kemiskinan.

Pokok-pokok dan langkah-langkah kebijakan a. Budidaya & Konservasi sumber daya obat tradisional, b. Keamanan & Khasiat Obat Tradisional, c. Mutu Obat Tradisional, d. Aksesibilitas, e. Penggunaan yang tepat , f. Pengawasan, g. Penelitian dan pengembangan, h. Industrilisasi Obat Tradisional, i. Dokumentasi & Data base, j. Pengembangan SDM, k. Pemantauan & Evaluasi.

Kemudian dijelaskan tentang Visi Komite Saintifikasi Jamu yaitu: Menjadikan Jamu sebagai "brand Indonesia" dan mengembangkan Jamu sebagai bagian dari sistem pengobatan tradisional Indonesia yang terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan formal di Indonesia.

Misi Komite Saintifikasi Jamu: 1. Mengembangkan jejaring penelitian jamu berbasis pelayanan dengan asosiasi profesi pelayanan kesehatan (Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia) 2. Meningkatkan penelitian dan pengembangan jamu untuk mendapatkan bukti ilmiah tentang keamanan dan khasiat jamu 3. Mengembangkan buku-buku pedoman terkait dengan pendidikan dan pelatihan dalam pelayanan kesehatan holistik melalui penggunaan jamu.

Saintifikasi Jamu mengandung Nilai-Nilai: 1. Nasionalisme 2. Kesetaraan 3. Evidence based 4. Multidisiplin 5. Pendekatan holistik (Kedokteran Integratif).

Proses Pengembangan Obat Tradisional dari clinical study, dan kedepannya dapat menjadi Phytomedicine integrated in health care system.

Adapun Problems of OT Development, yaitu: Researcher/university (Essentially academic, little impact in health service), Industry (Not active in research), Government (Not used within health care services), Physician/ Providers (Refuse to admit).

Profesor Minum Jamu

Prof Mustofa

Makalah bertajuk "Kedudukan Jamu/Obat Tradisional Di antara Obat Konvensional", karya Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. (Department of Pharmacology & Therapy, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta) ini, pernah dipresentasikan pada acara yang digelar oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara (Kamasutra) UGM mengangkat tema "Harmoni dalam Keragaman: Jamu Sehat Indonesia Kuat" pada 26 April 2019 di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait