Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka
Tanggal Posting : Sabtu, 31 Agustus 2019 | 02:13
Liputan : Redaksi - Dibaca : 178 Kali
Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka
Foto Bersama Peserta Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka, di Semarang, 29-30 Agustus 2019.

HerbaIndonesia.Com. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) meluncurkan 11 Ramuan Jamu Saintifik, mengupas peluang hilirisasi dan pemanfaatannya untuk kesehatan masyarakat, dan sosialisasi percepatan Fitofarmaka agar dapat segera terlaksana.

Demikian hal-hal yang akan dibahas pada "Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka" di Hotel MG Setos, Semarang, Jawa Tengah pada 29-30 Agustus 2019, dengan peserta sebanyak sekitar 160 orang.

Saat ini telah dihasilkan 11 Ramuan Jamu Saintifik yaitu ramuan asam urat, ramuan tekanan darah tinggi, ramuan wasir, ramuan radang sendi, ramuan kolesterol tinggi, ramuan gangguan fungsi hati, ramuan gangguan lambung/maag, ramuan batu saluran kencing, ramuan diabetes melitus, ramuan obesitas dan ramuan kebugaran.

Sebelas ramuan yang telah terbukti secara klinis aman dan berkhasiat tersebut telah siap dihilirisasi sehingga diperlukan sebuah media yang menjembatani komunikasi antara peneliti dan industri. Diseminasi hasil litbang Saintifikasi Jamu ini dirancang untuk menjadi media yang efektif dalam penyampaian hasil litbang jamu kepada industri yang meliputi Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), GP. Jamu dan GP. Farmasi.

Ketua Pelaksana Kegiatan B2P2TOOT ini, Nita Supriyati, M.Biotech, Apt. melaporkan tujuan dari acara ini, yang pertama Diseminasi penelitian saintifikasi jamu yang dilakukan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Penelitian yang ada di balai ini, dimulai dari penelitian eksplorasi kemudian budidaya, pasca panen, khasiat dan keamanan bahan dan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk industri.

"Kedua, dalam dua hari ini, kita akan menampilkan hasil penelitian yang kita peroleh dari bagian hilir. Sehingga nanti pemanfaatannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan pada hari ini, kita akan membahas dan mendukung gerakan percepatan Fitofarmaka sebagai program dari pemerintah," ungkap Nita Supriyati.

Kasi SDMK Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Rahma Nurhayati SKM, M.Kes.  mengatakan sangat mengapresiasi B2P2TOOT yang kiprahnya Alhamdulillah harus kita syukuri, karena  berada di Jawa Tengah, dan hasil penelitian jamunya sangat bermanfaat untuk masyarakat.

"Dan hari ini kita membahas jamu, yang dimana jamu itu adalah suatu budaya dari masyarakat Indonesia yang kita patut kita syukuri. Dan yang harus kita cermati bagaimana jamu ini bisa aman, yang dimana khasiatnya teruji secara ilmiah. Dan hasil penelitian itu tidak ada gunanya apabila hanya dijadikan dokumentasi saja. Dan hari ini B2P2TOOT akan merealisasikan hasil penelitian tersebut," ucap Rahma Nurhayati.

Jawa Tengah, lanjut Rahma Nurhayati, memiliki potensi besar untuk saintifikasi jamu, antara lain yang pertama Jawa Tengah memiliki sumber tanaman obat yang cukup besar yang bisa dikembangkan. Kedua memiliki perguruan tinggi farmasi dan kedokteran yang sangat banyak baik negeri maupun swasta yang didalamnya memiliki prodi Jamu. Ketiga memiliki industri obat tradisional yang sangat banyak.

Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. pada kesempatan ini menyampaikan presentasi dengan tema "Paparan Strategi Percepatan Fitofarmaka".

Kepala Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI., dr. Siswanto, MPH., DTM mengatakan sebenarnya dari bahan tanaman obat tidak hanya dapat dikembangkan secara tradisional saja, tetapi dapat juga diseleksi bahan aktifnya. Mengembangkan produk kesehatan itu seharusnya didampingi oleh industri, karena industri memiliki sistem CPOTB. Sehingga saintifikasi jamu ini dapat  sesuai target pasar. Karena saat ini banyak penyakit degeneratif, sehingga masyarakat mencari obat tersebut.

"Sehingga jalur produk Jamu Saintifikasi Tawangmangu itu memiliki dua jalur karena ini sudah melalui uji klinik. Lantas sebenarnya dapat juga bertemu dengan Dinas Kesehatan untuk disosialisasikan kepada para kader-kader PKK atau ibu rumah tangga untuk menjadi komunitas jamu. Dan yang kedua harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, sehingga disini harus menggandeng industri. Karena yang berhak untuk registrasi produk itu hanya industri," ungkap Siswanto.

Kegiatan selanjutnya, pada 30 Agustus 2019, diadakan Kelas Jamu untuk Industri dan Kelas Jamu untuk Masyarakat dengan menampilkan narasumber:

  • dr. Danang Ardiyanto: Peluang Hilirisasi Jamu Saintifik.
  • Sofa Farida, S.Farm., Apt.: Formulasi Sedian Jamu Ramuan Saintifikasi Jamu.
  • Fanie I. Mustofa, MPH: Pemberdayaan Masyarakat.
  • Dr. Zuraida Zulkarnain: Jamu Saintifikasi Untuk Masyarakat. Redaksi HerbaIndonesia.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait