Deputi II Badan POM, Maya Gustina Andarini dan Keunggulan Daya Saing Herbal Indonesia
Tanggal Posting : Jumat, 29 Juni 2018 | 13:14
Liputan : Redaksi - Dibaca : 355 Kali
Deputi II Badan POM, Maya Gustina Andarini dan Keunggulan Daya Saing Herbal Indonesia
Deputi II Badan POM, Maya Gustina Andarini saat Pelantikan pada 9 Februari 2018, di Jakarta (Foto: www.pom.go.id)

HerbaIndonesia.Com. Potensi Herbal Indonesia merupakan keunggulan daya saing nasional. Sangat tepat jika Badan POM serius mengembangkannya secara komprehesif dari hulu hingga ke hilir. Terobosan yang kini sedang bergulir adalah mengajak semua stakeholders bersinergi.

Dimulai dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan output yang strategis. Proses ini banyak diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk dari kalangan pengusaha obat tradisional (Jamu, OHT-Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka).

Jika tahapan ini terus digulirkan, dipastikan akan ada banyak terobosan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan potensi herbal Indonesia dalam waktu tidak terlalu lama lagi.

Apresiasi perlu kita sampaikan kepada Kepala Badan POM Republik Indonesia, Ir. Penny K. Lukito, MCP., dan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc. yang memberi akselerasi signifikan untuk membawa gairah baru pengembangan herbal Indonesia.

"Pengembangan obat herbal dari bahan alam Indonesia adalah alternatif terpilih yang kini sedang terus kami optimalkan," kata Maya Gustina Andarini- saat bincang-bincang dengan Redaksi HerbaIndonesia.Com, beberapa waktu lalu, di Kantor Badan POM, Jakarta.

Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc resmi menjabat sebagai Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik pada 9 Februari 2018. Sebelumnya, menjabat sebagai Direktur Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik pada 2016 sampai 2018.

Hanya butuh waktu dua bulan, bagi Maya Gustina Andarini untuk menunjukkan komitmennya mendorong pengembangan herbal Indonesia sebagai salah satu keunggulan daya saing nasional.

Sebagaimana diberitakan oleh media online herbal: www.herba-indonesia.com, Badan POM menggelar FGD Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka, pada Kamis, 12 April 2018, di Jakarta itu, melibatkan seluruh stakeholders terkait.

Langkah strategis Badan POM ini akan sangat mungkin menjadi babak baru untuk produk obat herbal Fitofarmaka Indonesia. Sebuah komitmen yang akan menjadikan kekayaan alam Indonesia sebagai salah satu sumber bahan baku obat di Indonesia.

Dipimpin langsung oleh Kepala Badan POM Republik Indonesia, Ir. Penny K. Lukito, MCP. didampingi sejumlah pejabat tinggi BPOM antara lain, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropik, Prekursor dan Zat Adiktif, Dra. Nurma Hidayati, Apt., M.Epid. dan sejumlah Direktur BPOM. http://www.herba-indonesia.com /berita?id=Percepatan_Pengembangan_ Peningkatan_Pemanfaatan_Fitofarmaka_(Seri-1)

Masih di bulan yang sama, yaitu Senin, 30 April 2018, Kepala Badan POM RI., Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, MCP. memimpin langsung Focus Group Discussion (FGD) ‘Pengembangan UMKM Obat Tradisional’, pada Senin, 30 April 2018, di Jakarta.

Tampak hadir sejumlah pengusaha jamu nasional, antara lain: Jaya Suprana, Putri Kuswisnu Wardani, Irwan Hidayat, Charles Saerang dan stakeholders obat tradisional lintas sektoral lainnya.

Didampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc, dan sejumlah pejabat Badan POM lainnya, FGD dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Minum Jamu Bersama oleh seluruh Peserta FGD. http://www.herba-indonesia.com/berita?id=Serisl_1:_Kepala_BPOM-Pimpin_FGD_Pengembangan_UMKM_Obat_Tradisional

Demikian sepintas, terobosan Badan POM untuk terus mengupayakan penguatan potensi sumber daya alam obat asli Indonesia yang banyak memberikan harapan baru. Untuk semakin eksisnya di Dalam Negeri dan di Luar Negeri, sebagai Jamu, sebagai OHT, dan sebagai Fitofarmaka yang diharapkan dapat digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan formal di rumah sakit dikemudian hari.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc.- ketika masih kuliah di Fakultas Farmasi UGM, ternyata pernah aktif di pers mahasiswa, yaitu di majalah FARSIGAMA (sebagai anggota Redaksi dan kemudian menjadi Pemimpin Umum, majalah FARSIGAMA).

Sekilas Profil Maya Gustina Andarini
Lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 Agustus 1966, Dra. Rr.Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc resmi menjabat sebagai Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik pada 9 Februari 2018.

Sebelumnya beliau menjabat sebagai Direktur Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik pada 2016 sampai 2018.

Beliau menempuh pendidikan S1 Farmasi dan pendidikan Profesi Apoteker di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 2007 beliau memperoleh gelar Master of Science bidang Molecura Toxicology dari Universitas Vrijie Amsterdam. Beberapa pendidikan dan pelatihan teknis dan struktural pernah diikuti sejak tahun 1993 baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam perjalanan karirnya beliau pernah menerima The Best Poster Presenter Competition in the International Symposium on Molecular Targeted Therapy, title: INHIBITION of HUMAN CYP 2D6 ISOENZYME by CURCUMIN ANALOGUES, DOCKING SIMULATIONS to The CYP 2D6 HOMOLOGY MODEL and QUANTITATIVE ACTIVITY RELATIONSHIPS pada tahun 2008.

Dalam hubungan lintas sektor, beliau aktif menjadi pengurus organisasi nasional diantaranya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) serta Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Himpunan Ilmuwan Kosmetik Indonesia (PP HIKI). (Dikutip dari: https://www.pom.go.id/new/view/direct/deputy2)

Situs Fakultas Farmasi UGM, juga menulis sosok Maya Gustina Andarini, dengan judul: Profil Alumni: Maya Gustina Andarini, Mengabdi untuk Masyarakat Luas, yang dimuat di: http://farmasi.ugm.ac.id/profil-alumni-mayagustina-andarini-mengabdi-untuk-masyarakat-luas/, diposting pada tanggal: 29 Juni 2018, 08.54. Berikut ini, artikel wawancara tersebut:

Berbicara soal peredaran obat dan makanan di Indonesia, tentu kita mengenal Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebagai lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan menerbitkan izin edar dan melakukan pengawasan produk-produk obat dan makanan, serta pemberian sanksi bagi produk yang dianggap tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Menjadi bagian dari lembaga tersebut adalah sebuah bentuk kesiapan diri mengabdi pada kepentingan masyarakat. Mayagustina Andarini berkomitmen untuk turut berkontribusi pada hal tersebut. Siapakah sosok yang akrab dipanggil Bu Maya tersebut? Berikut liputan tim humas Fakultas Farmasi UGM.

Farmasi UGM - Sejak dilantik pada tanggal 9 Februari 2018 lalu sebagai Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Dra. Mayagustina Andarini, M.Sc., Apt. telah berkomitmen pada dirinya sendiri untuk mengabdikan ilmu yang dimilikinya demi masyarakat luas. Kepada tim humas, Alumni Farmasi UGM angkatan tahun 1985 tersebut bercerita bahwa menjadi pejabat bukanlah cita-cita masa kecilnya.

Namun, sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Maya memang memiliki ketertarikan pada berbagai kegiatan keorganisasian dan sosial. Ketika menjadi mahasiswa pun, ada banyak kegiatan dan prestasi yang sudah ia raih. Salah satunya, menjadi Juara 1 mahasiswa teladan Fakultas Farmasi dan Juara 2 mahasiswa teladan tingkat Universitas Gadjah Mada. Selain itu, masih ada banyak lagi kegiatan yang pernah ia lakoni seperti pernah aktif sebagai anggota Farsigama, Balairung, Farmasi Band, dan lainnya. Ia pun juga pernah menjadi ditunjuk sebagai salah satu presenter acara TVRI ‘Tanah Merdeka’.

Setelah lulus program sarjana, Maya mengikuti program wajib kerja sarjana yang saat itu memang diwajibkan bagi mahasiswa yang telah menempuh program apoteker. Disinilah Maya mulai bergabung dengan BPOM. Berawal dari mahasiswa magang, ia pun mulai memiliki ketertarikan untuk mendalami kebijakan-kebijakan di ranah peredaran obat dan makanan.

Bukan tanpa alasan, sebagai seorang apoteker muda kala itu, idealismenya masih cukup tinggi untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya bagi kepentingan yang lebih luas. "Saat itu, walaupun gaji yang ditawarkan masih sangat rendah, namun ada kepuasan tersendiri ketika mengetahui bahwa saya mampu berkontribusi bagi masyarakat," ungkapnya.

Maya pun mengingatkan pada kaum muda untuk tidak hanya terpaku pada dunia akademik saja. ‘Mumpung’ masih muda, ada baiknya mahasiswa saat ini tidak ragu untuk terus mengembangkan berbagai soft skill. "Apapun yang akan kalian lakukan, jika itu baik, jangan setengah-setengah untuk melakukannya," imbuhnya.

Maya pun mengakui bahwa posisinya saat ini bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan. Mengikuti ritme dan bekerja dengan maksimal menjadi kunci sukses yang dapat dicontoh. Selain itu, menurutnya mengembangkan jejaring sosial juga merupakan faktor pendukung utama dalam penentu kesuksesan seseorang. Hal ini dapat membantu mahasiswa untuk mendapatkan informasi dan koneksi yang sangat berguna di dunia kerja nanti. "Jangan membatasi diri hanya pada satu lingkungan saja," ujarnya.

Terlebih di era globalisasi saat ini, mahasiswa harus semakin cermat dalam melihat berbagai peluang. Hal tersebut dapat dilatih sejak dini, misalnya saja dengan menyeimbangkan antara kegiatan akademik, organisasi, dan hubungan sosial di luar kampus. "Saya dulu sering banget izin dan telat ikut ujian lho," kenang Maya sambil tertawa. Maya menyadari bahwa setiap pilihan memiliki resiko. Jika seorang mahasiswa memilih untuk melakoni perannya dalam sebuah kegiatan di luar kampus, tentu ia harus siap mengejar ketertinggalannya. Di sinilah, peran pihak kampus untuk memberikan fasilitas pada mahasiswa-mahasiswa yang ingin meningkatkan prestasi.

Di akhir wawancara, Maya yang saat ini dipercaya sebagai dewan pakar Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) berpesan kepada mahasiswa untuk memanfaatkan waktu dengan baik. "Carilah ilmu yang sebanyaknya-banyaknya dan imbangi dengan kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat di masa depan," tutupnya. (Yeny/ Humas FA).

Bangsa Indonesia menunggu, kiprah Badan POM, dan tentunya kepada Maya Gustina Andarini- sebagai salah satu pejabat tinggi di Badan POM. Semoga dapat memberi banyak milestones di Badan POM dan untuk kemajuan obat herbal Indonesia. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait