Daun Jati Belanda Mengatasi Kegemukan
Tanggal Posting : Rabu, 13 Juni 2018 | 14:22
Liputan : Redaksi - Dibaca : 119 Kali
Daun Jati Belanda Mengatasi Kegemukan
Daun Jati Belanda Mengatasi Kegemukan

HerbaIndonesia.Com. Berikut ini serial artikel HerbalSehat yang ditulis oleh Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau adalah Peneliti Herbal Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China. Semoga bermanfaat.

Obesitas (Body Mass Index> 30 kg/m2) termasuk penyakit metabolik yang ditandai dengan penumpukan lemak berlebih pada jaringan lemak (adiposa). Obesitas ditandai dengan sel lemak mengalami hipertropi dan hiperplasia. 

Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, diantaranya memicu berbagai penyakit seperti strok, kardiovaskuler, penyakit pernafasan, diabetes, osteoartritis, gangguan hormonal, gout, penyakit kantung empedu dan kanker.

Penyebab obesitas sendiri bersifat multifaktor, seperti faktor genetik, lingkungan, keseimbangan makronutrien, metabolisme, umur, jenis kelamin, hormonal dan sosial-ekonomi.

Namun secara umum obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan kalori, kecepatan metabolisme dan daya serap tubuh yang tinggi terhadap kalori.

Prevalesi obesitas di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat sebagaimana data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013.

Misalnya, angka obesitas pada laki-laki sekitar 15% pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 20% pada tahun 2013.

Di Indonesia, ada 15 propinsi yang memiliki prevalensi sangat gemuk di atas nasional yaitu Propinsi Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, dan DKI Jakarta.

Menurut Suryaputra (2012), obesitas pada usia remaja (10-19 tahun) penting untuk diperhatikan. Hal ini karena remaja yang mengalami obesitas 80% nantinya berpeluang juga untuk mengalami obesitas pada saat dewasa.

Senada dengan Flegal et al., kejadian obesitas di Amerika pada perempuan dewasa (20-74 tahun) cenderung lebih besar dibandingkan pada laki-laki dewasa.

Perempuan lebih dominan mengandung sel lemak (adiposit) dibandingkan laki-laki. Akan tetapi, di saat usia remaja (13-15 tahun), laki-laki lebih cenderung mengalami obesitas dibandingkan perempuan, yaitu 2,9% berbanding 2,0%.

Menginjak usia remaja 16-18 tahun, laki-laki tetap berpotensi obesitas dibandingkan perempuan masing-masing sebesar 1,5% berbanding 1,3% (Depkes RI, 2009).

Beberapa herbal mampu mengurangi lemak tubuh sehingga berpotensi sebagai agen antiobesitas, salah satunya jati belanda (Guazuma ulmifolia).

Tumbuhan ini termasuk pohon berkayu dengan tinggi sekitar 10 m dan daun berbentuk bulat telur, tepi bergerigi dan ujung daun runcing.

Di beberapa daerah dikenal dengan nama jati londo dan jati sabrang. Bagian yang sering dipakai untuk pengobatan adalah daunnya yang mengandung zat berkhasiat seperti alkaloid, zat lendir, damar, flavonoid, saponin dan tanin.

Selain itu, daunnya mengandung minyak atsiri dengan komponen utama prekosen (56%). Penelitian pada hewan uji membuktikan daun jati belanda aman digunakan sampai dosis 6324,14 mg/kg berat badan.

Daun jati belanda juga dibuktikan secara prakinis yang menunjukkan pada dosis 28 mg/kg mampu menurunkan berat badan secara signifikan. Penelitian lainnya mendapatkan efektif pada dosis 50 mg/kg.

Mekanisme aksinya melalui penghambatan absorpsi lemak. Kontraindikasi diberikan pada ibu hamil, menyusui dan anak-anak.

Konsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada usus akibat tingginya kadar tanin. Dosis lazim pada manusia adalah sehari 3x 1 tea bag (@ 5 g), diminum selagi makan untuk mencegah terjadinya diare karena iritasi lambung.

Konsumsi bersama dengan obat-obat sintetik dapat menghambat penyerapan obat tersebut, sehingga perlu diberikan jeda waktu antara 1-2 jam. (Kontributor Ahli HerbaIndonesia.Com: Dr. Kintoko, M.Sc., Apt. Beliau Peneliti Herbal Fakultas Farmasi UAD; Kepala Sentra HKI UAD, Alumnus Guangxi Medical University, China) (Redaksi HerbaIndonesiaCom)


Kolom Komentar
Berita Terkait