Corporate Image Usaha Jamu Era Digital, Mesti Gimana? Serial-1
Tanggal Posting : Sabtu, 6 Oktober 2018 | 06:31
Liputan : Artikel: Karyanto, Founder JamuDigital.Com - Dibaca : 20 Kali
Corporate Image Usaha Jamu Era Digital, Mesti Gimana? Serial-1
Pengusaha Jamu perlu transformasi dalam membentuk Corporate Image di Era Digital ini

HerbaIndonesia.Com Adakah perbedaan antara membangun corporate image era konvensional dengan era digital- yang serba cepat, serba efisien, serba digital ini? Terus dari mana membangun citra perusahaan Jamu agar modern dan kekinian?

Insya Allah, saya akan menulis artikel secara serial tentang branding (corporate, product, crisis), semoga dapat bermanfaat bagi pengusaha Jamu, Tim Marketing, Tim Distribusi dan juga calon pengusaha Jamu.

Mengapa pengusaha Jamu perlu membangun corporate image? Lebih duluan membangun merek produk atau citra perusahaan? Mana yang lebih efektif? Pertanyaan seperti ini, sering menjadi perdebatan pihak manajemen ketika hendak menentukan strateggi branding.

Jika pertanyaannya seperti itu, maka seperti halnya dengan bertanya seperti ini: duluan mana antara ayam dan telur?

Sejatinya membangun corporate image dan membangun merek- akan lebih pas berjalan bersamaan. Porsi mana yang lebih- dimulai lebih awal, akan sangat tergantung dari kebutuhan. Loh, koq begitu? Memang prakteknya demikian. Ini bukan masalah seperti perlombaan, dulu-duluan.

Menurut Kotler, citra perusahaan adalah respon konsumen pada keseluruhan penawaran yang diberikan perusahaan, sebagai trush, ide-ide, dan kesan masyarakat pada suatu organisasi.

Sedangkan Dowling menyatakan bahwa citra perusahaan merupakan sekumpulan kepercayaan dan perasaan tentang suatu organisasi.

Jadi intinya, citra perusahaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk dibenak masyarakat tentang perusahaan.

Image perusahaan tersebut dapat diasosiasikan dalam bentuk dan terkait dengan, misalnya: Berbubungan dengan nama bisnis, Bentuk arsitektur bangunan, Varian produk, Tradisi perusahaan, yang mana nilai-nilai tersebut dimunculkan sebagai pesan ketika komunikasi perusahaan disalurkan, baik ke internal perusahaan, atau ke eksternal perusahaan.

Citra perusahaan juga dapat diasosiasikan dengan bagaimana persepsi masyarakat atas pengalaman yang dirasakan saat berinteraksi dengan perusahaan, keunggulan produk yang dinikmati konsumen, perasaan percaya terhadap perusahaan, dan sejauh mana pengetahuan masyarakat paham atas perusahaan tersebut.

Sehingga mata publik adalah cermin dari citra perusahaan yang sangat sahih. Karena publik kini hidup di era digital, dengan melahirkan generasi milenial, maka citra perusahaan juga harus dikemas sesuai dengan era kekinian.

Citra perusahaan yang kuat, yang kokoh, dan mendunia adalah harta tidak nampak (intangible asset) yang tak ternilai besarnya bagi perusahaan.

Manfaat corporate image yang handal dan kuat akan banyak memberikan keuntungan-keuntungan bagi perusahaan, sebagai berikut:

  • Mampu bertahan dan berkompetisi dalam jangka panjang
  • Memiliki budaya yang unik sehingga pesaing tidak mudah menjiplak
  • Ketika krisis melanda, mudah megisolir, dan dapat menjadi titik balik menguatkan reputasi perusahaan
  • Diburu para SDM berkualitas
  • Memudahkan tim marketing menjual produk/jasa
  • Memiliki leverage yang tinggi dalam banyak aspek: finansial, networking, dan sosial.

Ragam Bentuk Citra Perusahaan
Menurut Frank Jefkins, ada beberapa jenis citra (image) yang dapat dijadikan referensi, yaitu:

  • Mirror Image (pihak perusahaan meyakini kesan dari pihak luar terhadap institusi tidak selamanya diposisi yang baik)
  • Current Image (citra saat ini yang dimiliki institusi: dapat dalam posisi baik atau jelek)
  • Wish Image (Citra yang hendak ditampilkan kepada publik)
  • Multiple Image (Citra komplimen (pelengkap) dari komponen inti corporate image, seperti: atribut logo, nama produk, tampilan gedung dan lain-lain)
  • Performance Image (Menonjolkan kinerja, penampilan para eksekutif/employee, termasuk peduli pada pelanggan)

Dari uraian diatas, maka para pengusaha Jamu tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan ‘selera’ perusahaan dalam mengemas corporate image, agar citra perusahaan dapat diterima oleh publik generasi milenial.

Sebetulnya, nilai-nilai dasar corporate image era konvesional masih berlaku di era digital ini, hanya saja perlu penyesuaian, agar direspon dengan baik oleh kultur era digital. Dalam hal penyajian company profile misalnya, dalam hal berkomunikasi dengan pelanggan misalnya, dalam mengembangkan produk misalnya, harus dapat diabsorb oleh generasi milenial.

Jadi membangun corporate image era digital, sama dengan strategi membangun corporate image era konvensional, dengan menambahkan variable digital sebagai proses penyusunan konsep, cara mengembangkan produk, cara marketing dan cara mendeliver pesan yang sesuai dengan era digital! Selamat mencoba.

Serial-2 akan mengupas, apa beda corporate image dan corporate identity?

*Karyanto, Founder JamuDigital.Com dan PharmaONEBRAND-Konsultan Komunikasi & Branding.


Kolom Komentar
Berita Terkait