Bersama Melangkah agar UNESCO Tetapkan Jamu sebagai WARISAN BUDAYA DUNIA
Tanggal Posting : Jumat, 8 Juni 2018 | 17:18
Liputan : Redaksi - Dibaca : 230 Kali
Bersama Melangkah agar UNESCO Tetapkan Jamu sebagai WARISAN BUDAYA DUNIA
Bergandeng Tangan Mempercepat proses Mendapatkan Pengakuan UNESCO, Jamu Indonesia sebagai WARISAN BUDAYA DUNIA.

HerbaIndonesia.Com. Upaya-upaya strategis secara bergelombang terus digaungkan oleh GP. Jamu, Tokoh Jamu Nasional, dan Pemerintah Republik Indonesia, agar Jamu sebagai warisan Bangsa Indonesia dapat segera ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.

Pada hari Jum’at pagi, 8 Juni 2018, Ketua Umum GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, SE, MH, bersama Tokoh Jamu Nasional, Jaya Suprana dan pengurus GP. Jamu lainnya menemui Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI., Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si., di Kantornya, Jakarta.

Tujuannya hanya satu, agar Jamu Indonesia dapat segera diproses dan ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO!

Pada kesempatan tersebut, Dwi Ranny Pertiwi Zarman menyerahkan sejumlah dokumen yang diharapkan dapat mendukung agar Jamu dapat segera memperoleh pengakuan dari UNESCO sebagai Warsian Budaya Dunia.

"Mohon dicatat, jamu adalah asli mahakarya Bangsa Indonesia," ujarnya kepada Redaksi HerbaIndonesia.Com yang meliput acara tersebut.

Pada kesempatan pertemuan itu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman menyampaikan bahwa tadinya saya berfikir yang bertanggung-jawab tentang Jamu agar didaftarkan ke UNESCO itu adalah dari pihak Kementerian. Misalnya, kemarin sempat pada acara beberapa bulan lalu dengan Kementerian PMK, saya tanyakan, sebenarnya ini tanggung jawab siapa?

"Tolong dilibatkan, apakah itu tanggung-jawab Kemenkes atau BPOM. Dan kebetulan saya tahu dari Prof. Jaya Suprana ini, bahwa yang harus mendaftarkan Jamu sebagai Warisan Budaya Dunia ke UNESCO ini adalah Asosiasi atau Pemerintah Daerah," kata Dwi Ranny saat pertemuan di Kantor Kementrian Pendidikkan dan Kebudayaan.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si menjelaskan untuk mempersilahkan dan nanti pihaknya akan menghubungi tim ahli untuk Jamu ini. Memang kemarin, tidak ada provinsi yang mengusulkanya. Saya akan minta kepada tim ahli untuk membahas masalah ini, mungkin usai lebaran kita adakan rapat. Tetapi, mohon ada surat dari asosiasi Jamu, yang menjadi landasan saya untuk bergerak.

Jaya Suprana dengan penuh semangat menyampaikan terima kasih, atas kesediaan dan kepedulian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan memfasilitasi pendaftaran Jamu ke UNESCO.

"Kami terima kasih, kami benar-benar, bisa hadir disini, setelah kami bertemu dengan Bapak waktu itu pada hari Senin. Kemudian, kami langsung berjumpa dengan teman-teman yang punya kepentingan. Yaitu Gabungan Perusahaan Jamu Indoneisa. Ini ibu Ranny yang membawahi pengusaha Jamu yang berjumlah 980 pengusaha yang tercatat.

Jadi, lanjut Jaya Suprana, saya kira ini kami berterima kasih sekali kepada Bapak, mau menerima kami. Maka kami langsung memenuhi petunjuk Bapak, untuk mengisi dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Tentunya dalam waktu singkat, masih banyak yang perlu dilengkapi, tetapi yang penting, sekarang kita serahkan dokumen ini kepada Bapak. Dan untuk selanjutnya, kami mohon petunjuk apa saja yang harus kami lakukan.

"Semoga seperti apa yang dikatakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta saat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, " tegas Jaya Suprana, yang ditimpali oleh Nadjamuddin Ramly, "Diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singakatnya".

Kami selanjutnya, titip kepada Bapak tentang nasib Jamu ini. Karena menurut pendapat saya, Jamu itu satu diantara sekian banyak mahakarya peradaban dan kebudayaan Indonesia. Dari kebudayaan masuk ke kesehatan nusantara yang tidak ada tandingannya di dunia.

"Kebetulan kami seorang pengusaha Jamu, tapi kami mendukung Jamu bukan karena kami pebisnis Jamu, karena Jamu ini adalah mahakarya," tegas Jaya Suprana dengan gayanya yang khas.

Nadjamuddin Ramly kemudian menjelaskan, jadi begini ceritanya, memang yang memimpin pengusulan-pengusulan ini dari Kemenko PMK. Tetapi, urutannya dari Kecamatan, Kabupaten, Provinsi melalui Dinas Kebudayaan Daerah, dan ini diberlakukan untuk semua. Semua usulan-usulan yang budaya tak benda, lalu ke Menko PMK, Kami disini, POKJA budaya tak benda.

Setelah diseleksi oleh Kemenko PMK, baru seluruh usulan itu yang alam ke Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dan yang budaya ke kami. Semestinya, asosiasi tidak bertanggung-jawab untuk mendaftarkan. Tetapi yang bertanggung-jawab adalah daerah asal Jamu itu. Harusnya, Jawa, seperti misalnya: Yogyakarta. Nah, ini karena Jamu ini mahakarya. Makanya ini, ada sebuah perlu kebijakan khusus.

Kalau begitu, saya sudah memberikan formulir, silakan diisi dan nanti kita akan diskusikan dengan tim ahli. Dan saya akan menyurati Tim Ahli secara resmi sebagai kebijakan direktorat. "Jadi kita yang harus proaktif sekarang. Karena proses ini harus bisa dijadikan langsung suatu kebijakan," urai Nadjamuddin.

Langkah Lama yang Tertunda
Sejatinya, Pemerintah Indonesia telah lama menginginkan agar Jamu mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.

Dalam berita yang di muat media online tempo.co pada Minggu, 27 Januari 2013, 05:08 WIB (https://nasional.tempo.co/read/457166/jamu-diusulkan-jadi-warisan-budaya-dunia) diberitakan:

Pemerintah mengusulkan jamu sebagai warisan budaya dunia ke badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi pendidikan dan kebudayaan (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO).

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan proses pengusulan jamu ke UNESCO sudah dimulai sejak 2008. "Kami menyatakan bahwa jamu adalah merek Indonesia," katanya di Surakarta, Sabtu, 26 Januari 2013.

Bayu menilai jamu layak menjadi simbol kreativitas dunia. Sebab, jamu bukan sekadar obat, namun juga minuman yang menyegarkan, sebagai bahan kosmetika, dan dipakai dalam terapi, semisal spa.

Dia menjelaskan saat ini tengah melakukan dokumentasi sejarah seputar jamu sebagai bahan untuk bisa masuk ke warisan budaya dunia.

Di dunia, kata dia, hanya ada tiga macam obat herbal. Yaitu jamu dari Indonesia dan dua lainnya dari Cina dan India.

Semoga masyarakat Indonesia, lebih khususnya stakeholders Jamu Indonesia dapat saling bergandeng tangan untuk mensukseskan proses ini, agar Jamu Indonesia mendunia. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait