Badan POM Terus Meningkatkan Kemampuan Intelijen Hadapi Era Digital
Tanggal Posting : Minggu, 7 Juli 2019 | 04:19
Liputan : Redaksi - Dibaca : 37 Kali
Badan POM Terus Meningkatkan Kemampuan Intelijen Hadapi Era Digital
BPOM Kabupaten Tangerang bersama Balai Besar POM di Serang: Penindakan Obat Tradisional mengandung Bahan Kimia Obat-BKO, pada 28 Juni 2019. Foto. website Badan POM.

HerbaIndonesia.Com. Kemajuan Teknologi Informasi (TI) menyebabkan modus pelanggaran para oknum pelaku usaha di bidang Obat dan Makanan berbasis online meningkat dan terindikasi kuat bahwa kejahatan dilakukan secara terorganisir.

Untuk itu, Badan POM terus melakukan upaya-upaya, agar peningkatan kompetensi SDM dalam kemampuan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM mendeteksi kejahatan Obat dan Makanan yang dapat mengancam kesehatan dan ketahanan bangsa terus meningkat. Demikian siaran pers yang dirilis Badan POM bertajuk "Mempertajam Intelijen Menghadapi Tantangan Global" pada 4 Juli 2019.

Dunia global yang terus berkembang pesat dengan revolusi industri 4.0 menuntut pemerintah adaptif merespon perubahan. Salah satunya melalui pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tengah menjadi perhatian pemerintahan Presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla tahun ini. Sejalan dengan ini Badan POM tengah memperkuat SDM Pengawasan Obat dan Makanan yang handal melalui berbagai Workshop.

Workshop Intelijen Lanjutan yang berlangsung pada 24 Juni 2019 hingga 5 Juli 2019 merupakan satu upaya meningkatkan kemampuan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM dalam mendeteksi kejahatan Obat dan Makanan yang dapat mengancam kesehatan dan ketahanan bangsa. Mempertajam kapabilitas intelijen sangat penting untuk mengantisipasi perkembangan modus operandi kejahatan tindak pidana di bidang Obat dan Makanan.

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito menegaskan komitmennya untuk terus membangun SDM guna memperkuat pengawasan di lapangan. "Badan POM tidak tinggal diam, disamping koordinasi lintas sektor, juga melakukan peningkatan kompetensi petugas Badan POM, diantaranya melalui Workshop Intelijen Lanjutan yang menjadi suatu keharusan dan dilaksanakan secara berkesimbungan," jelas Kepala Badan POM saat menghadiri Workshop Intelijen Lanjutan di Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC), di Semarang pada 5 Juli 2019.

Perkembangan teknologi informasi menyebabkan modus pelanggaran oleh oknum pelaku usaha di bidang Obat dan Makanan juga kian berkembang berbasis online. Kuat indikasi bahwa kejahatan dilakukan secara terorganisir. Sementara upaya-upaya penegakan hukum yang dilakukan petugas Badan POM telah dipelajari dan diketahui secara luas oleh pelaku kejahatan tersebut.

Keadaan ini menyebabkan belum tersentuhnya aktor utama kejahatan di bidang obat dan makanan, dan kurang menjangkau pusat jaringan produksi dan distribusi obat dan makanan ilegal tersebut, sehingga menyulitkan proses penyidikan. "Sistem peredaran obat dan makanan ilegal selama ini menggunakan sistem sel terputus, pihak pedagang eceran seringkali tidak mengetahui distributor besar produk tersebut,’’ kata Kepala Badan POM.

Dengan Workshop Intelijen Lanjutan ini diharapkan 30 peserta yang berasal dari Badan POM Pusat, Balai Besar/Balai POM dan Loka POM memahami permasalahan kegiatan intelijen dan menemukan solusinya dengan Analisa Intelijen yang baik. Workshop ini juga mengasah kedisiplinan para intelijen Badan POM dan memperkuat semangat persatuan dan loyalitas pada institusi sebagaimana yang diamanatkan Pancasila.

"Saya harapkan para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat pada Workshop Intelijen Lanjutan ini agar dapat mendeteksi potensi, ambang dan gangguan nyata serta mendukung penindakan terhadap tindak pidana di bidang obat dan makanan agar masyarakat terlindungi dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan," urai Penny K. Lukito. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait