BPOM Pacu Pengembangan UMKM Obat Tradisional
Tanggal Posting : Senin, 14 Mei 2018 | 09:33
Liputan : Redaksi - Dibaca : 292 Kali
BPOM Pacu Pengembangan UMKM Obat Tradisional
Kunjungan Kepala Badan POM., Penny K. Lukito ke Bali, Minggu (13/5/2018). Agne Yasa. Foto: www.bisnis.com

HerbaIndonesia.Com. Badan POM RI. terus melakukan upaya-upaya peningkataan dan penguatan terhadap UMKM Obat Tradisional. Sebuah bentuk keberpihakan mengembangkan herbal Indonesia untuk mendunia. Berikut ini berita yang dikutip dari www.bisnis.com.:

Bisnis.com, BADUNG-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan program terpadu lintas kementerian/lembaga untuk mendorong pengembangan UMKM obat tradisional dan pangan agar berdaya saing.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan program pemerintah pusat ini melibatkan delapan kementerian dan lembaga termasuk BPOM.

Tujuannya, untuk memfasilitasi, membina, dan mendampingi pelaku usaha terutama UMKM untuk pengembangan industri obat tradisional khususnya kosmetik dan pangan.

"Kementerian dan lembaga tentu sudah ada program masing-masing tapi sekarang kami bergabung terpadu, sinergi dan link," ujarnya, Minggu (13/5/2018).

Melalui sinergi tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk yang sesuai standar dan bisa mempercepat masuk ke pasar baik domestik maupun internasional.

"Untuk piloting kami sudah pilih juga beberapa produk dan di wilayah," katanya.

Pada tahun ini, sebanyak 210 UMKM obat tradisional, kosmetik, dan pangan yang berada di 6 provinsi menjadi pilot project.

Keenam provinsi tersebut adalah Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Selain itu, Penny menilai Bali dengan produk kosmetik tematik menjadi salah satu keunggulan yang dapat digali dan didorong.

"Ini perlu didorong, tidak bisa oleh satu instansi saja, pemerintah daerah, atau pelaku usaha sendiri. Butuh sharing pengetahuan dan informasi," ujarnya.

Dia menambahkan perlu ada keberpihakan pada UMKM termasuk dari sisi insentif dan pendampingan. Kemudian, terkait regulasi dan perizinan juga diberi kemudahan.

"Keberpihakan dikaitkan dengan kemudahan yang bisa diberikan, subsidi dan insentif itu yang akan dikembangkan," katanya.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta mengatakan pihaknya memiliki program untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM.

"Kami ada pendampingan, tahun ini juga akan memfasilitasi 2.500 UKM termasuk di industri kosmetik, diantaranya untuk hak cipta, merek, SNI, dan sebagainya," katanya.

Selain itu, untuk akses pasar dilakukan promosi dan pemasaran melalui pameran baik itu di dalam maupun luar negeri.

"Termasuk untuk kosmetik, bisa juga pameran," katanya.

Wayan mengatakan UMKM kosmetik di Bali telah berkembang dan dikenal di pasar wisatawan.

Namun, justru yang perlu diwaspadai adalah persaingan dengan produk luar terutama asal Thailand yang sudah membidik potensi pasar kosmetik di Bali.

"Tren pemanfaatan spa dan kosmetik di Bali luar biasa, Thailand ingin penetrasi ke pasar Bali," ujarnya.

Untuk itu, menurutnya, pelaku usaha perlu meningkatkan standar dan kualitas produk.

"Pasar sudah terbuka, Masyarakat Ekonomi Asean, nanti APEC, arus barang akan semakin deras. Saya yakin Bali dengan kreativitas mampu bertumbuh ke depan," katanya.

Apalagi, katanya, beberapa pelaku industri kosmetik tematik di Bali telah mampu menyasar pasar ekspor seperti ke Korea Selatan dan Jepang.

"Potensi ekspornya tinggi, ada yang ke Korea, itu mbahnya kosmetik. Ini sudah ekspor ke sana artinya laku produk kita, sangat kompetitif," jelasnya.

Sumber berita: http://industri.bisnis.com/read/20180513/12/794493/bpom-pacu-pengembangan-umkm-obat-tradisional


Kolom Komentar
Berita Terkait