11 Ramuan Jamu Saintifik Hasil Riset B2P2TOOT Tawangmangu
Tanggal Posting : Jumat, 23 Agustus 2019 | 03:43
Liputan : Redaksi - Dibaca : 40 Kali
11 Ramuan Jamu Saintifik Hasil Riset B2P2TOOT Tawangmangu
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mempresentasikan 11 Jamu Saintifik.

HerbaIndonesia.Com. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mempresentasikan 11 Ramuan Jamu Saintifik pada "Simposium Pengembangan Industri Obat Tradisional dan Peningkatan Penggunaan Obat Tradisional 2019" yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI., di Yogyakarta, pada Rabu, 20 Agustus 2019.

Simposium selama dua hari (20-21 Agustus 2019) tersebut dibuka oleh Menteri Kesehatan RI., Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K). Pada kesempatan tersebut, Menkes RI., Nila Farid Moeloek menggelorakan kembali mengajak masyarakat Indonesia: Ayo Minum Jamu, Supaya Tetap Sehat.

Usai acara pembukaan simposium dengan pemukulan gong, Menkes RI., Nila Moeloek- didampingi Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan- Kemenkes RI., Dra. Engko Sosialine, Apt., M. Biomed., Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes, Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt, MARS., dan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mengajak seluruh peserta simposium (sekitar 200 peserta) untuk Minum Jamu Bersama.

Akhmad Saikhu mengawali presentasinya dengan menjelaskan bahwa secara empiris Jamu berkhasiat turun temurun, tetapi sedikit data ilmiah. Sedangkan LITBANG Program Saintifikasi Jamu, mengacu pada Evidence Based Medicine Pelayanan kesehatan formal Menuntut bukti ilmiah.

Tujuan dan manfaat Saintifikasi Jamu, Akhmad Saikhu menambahkan bahwa pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan. Dalam Permenkes 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu, disebutkan untuk: 1.Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu, 2. Mendorong jejaring peneliti dan pelayanan jamu (dual system), 3.Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, bermutu dan berkhasiat.

Metodologi Penelitian. Saintifikasi Jamu: dari Studi Etnomedisin & Etnofarmakologi (Data dasar). Selanjutnya dilakukan evaluasi manfaat & Keamanan, kemudian dibagi menjadi dua jalur: Formula Empiris (uji Klinik Fase 2- pre-porst, Uji Klik Fase 3 (desain RCT tanpa ketersamaran), Formula Baru (uji Praklinik, Uji Klinik Fase 1, 2 dan 3.). Seteah itu menuju orientasi produk komersial: PRODUK FITOFARMAKA (Uji Praklinik, Uji Klinink Fase 1, 2 dan 3). Tahapan dan persyaratan uji pra klinik dan uji klinik sesuai aturan yang berlaku (Badan POM)

Hasil Penelitian. Tiga Parameter Utama: Safety (Keamanan), Efficacy (khasiat dan manfaat), Patient Report Outcome (QoL).

Studi Klinik dalam Saintifikasi Jamu diperlukan untuk:

  • Upaya terobosan dalam rangka mempercepat penelitian di sisi hilir, yakni pengujian terkait manfaat dan keamanan jamu untuk upaya promotif, preventif, kuratif, paliatif, dan rehabilitatif, dengan membentuk jejaring dokter yang mampu melaksanakan penelitian berbasis pelayanan.
  • Hasil-hasil penelitian tentang jamu yang sudah ada sangat diperlukan dalam memberikan bukti ilmiah yang kokoh agar jamu dapat diterima di pelayanan kesehatan formal.

Sebelas Ramuan Jamu Saintifik Hasil Riset B2P2TOOT

  1. Ramuan Jamu Asam Urat (Rimpang Kunyit, Daun Kepel, Herba Tempuyung, Kayu Secang, Herba Meniran, Rimapang Temulawak)
  2. Ramuan Jamu Tekanan Darah Tinggi (Daun Kumis Kucing, Rimpang Kunyit, Herba Pegagan, Herba Seledri, Herba Meniran, Rimapang Temulawak)
  3. Ramuan Jamu Wasir (Rimpang Kunyit, Rimpang Temulawak, Daun Ungu, Daun Duduk, Daun Iler, Herba Meniran)
  4. Ramuan Jamu Radang Sendi (Rimpang Temulawak, Herba Rumput Bolong, Daun Kumis Kucing, Rimpang Kunyit, Biji Adas, Herba Meniran)
  5. Ramuan Jamu Kolesterol Tinggi (Daun Jati Belanda, Rimapang Temulawak, Herba The Hijau, Herba Meniran, Herba Tempuyung, Rimpang Kunyit, Daun Jati Cina)
  6. Ramuan Jamu Gangguan Fungsi Hati (Rimpang Kunyit, Rimpang Temulawak, Daun Jombang)
  7. Ramuan Jamu Magg atau Gangguan Lambung (Rimpang Kunyit, Herba Sembung, Jinten Hitam, Rimpang Jahe)
  8. Ramuan Jamu Batu Saluran Kencing (Herba Tempuyung, Rimpang Temulawak, Daun Kumis Kucing, Rimpang Kunyit, Daun Keji Beling, Herba Meniran, Rimpang Alang-alang)
  9. Ramuan Jamu Gangguan Kencing Manis (Rimpang Kunyit, Rimpang Temulawak, Daun Jombang)
  10.  Ramuan Jamu Kebugaran (Rimpang Kunyit, Rimpang Temulawak, Herba Meniran)
  11.  Ramuan Jamu Gangguan Obesitas (Herba Tempuyung, Daun Jati Belanda, Daun Kemuning, Akar Kelembak)

Roadmap Pengembangan Jamu Saintifik Menjadi Fitofarmaka

  • 2020: Penetapan jamu SJ untuk prioritas fitofarmaka: indikasi khusus, TO mudah dikembangkan
  • 2020-2021: Rasionalisasi formula (kajian farmakologi), standarisasi simplisia dan ekstrak
  • 2022: Formulasi , uji khasiat dan keamanan (laboratorium base)
  • 2023: Scale up proses produksi dan uji praklinik (industri, BPOM, B2P2TO2T)
  • 2024-2025: Produksi bahan uji dan uji klinik (Industri, BPOM)

Kolaborasi Pentahelix ABGCM
Akhmad Saikhu juga menegaskan pentingnya kolaborasi Pentahelix ABGC. Bersama Kita Bisa, Kita Bisa Bekerja sama.

  • Akademisi: Kerjasama litbang jamu
  • Industri/Bisnis: Pemanfaatan hasil penelitian menjadi produk (Jamu, OHT, Fitofarmaka) R&D Bersama Litbang
  •  Komunitas/Masyarakat: Dapat memanfaatkan untuk asuhan mandiri (promotif-preventif)
  • Pemerintah/Lembaga: Mendorong pemanfaatan jamu di Fasyankes
  • Media: Ikut membantu sosialisasi pemanfaatan litbang Jamu. Redaksi HerbaIndonesia.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait